Koperasi Syariah Sunan Drajat di Lamongan menjelma menjadi raksasa ekonomi pesantren dengan omzet ratusan miliar. Koperasi yang naik kelas secara profesional.
16 Jul 2025 06:01 WIB · Ekonomi & Bisnis
Saat mendengar kata koperasi, kebanyakan dari kita mungkin langsung membayangkan bangunan sederhana dengan aktivitas jual-beli seadanya. Namun, bayangan itu langsung sirna ketika kita menginjakkan kaki di Kompleks Pusat Perekonomian Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan, Jawa Timur.
Bangunan tiga lantai yang megah berdiri kokoh di tengah area persawahan. Di pintu kacanya terpampang tulisan besar: ”Pusat Perekonomian Pondok Pesantren Sunan Drajat”. Tidak berlebihan jika kemudian koperasi ini digadang-gadang sebagai role model program Koperasi Merah Putih oleh Kementerian Koperasi dan UKM.
Bahkan, Wakil Menteri Koperasi Ferry Joko Juliantono menyebut koperasi ini sebagai pusat perekonomian berbasis syariah yang layak ditiru desa dan kelurahan di seluruh Indonesia.
Seperti apa transformasi koperasi yang berangkat dari lingkungan pesantren ini tumbuh menjadi kekuatan ekonomi desa?
Kompleks usaha Pondok Pesantren Sunan Drajat bisa dibilang miniatur mal yang lengkap. Di lantai satu, terdapat supermarket yang menjual berbagai kebutuhan pokok. Naik ke lantai dua dan tiga, pengunjung akan menemukan deretan produk sandang, dari pakaian, perlengkapan bayi, hingga alat elektronik dan perlengkapan ibadah. Bahkan, banyak dari barang-barang tersebut merupakan produk buatan santri dan warga sekitar.
Namun, koperasi ini bukan sekadar toserba. Ekosistem bisnis di bawah payung Koperasi Syariah Sarekat Bisnis Pesantren (KSBP) ini juga meliputi restoran, hotel, gedung pertemuan, hingga unit-unit usaha industri kreatif. Apa yang dibangun Pondok Pesantren Sunan Drajat membuyarkan stereotip bahwa koperasi itu kuno, lambat, dan tertinggal zaman.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/04/15/9f362a50-03ac-41d7-a929-00b60fce2428_jpg.jpg)
Di balik gemerlap bisnis pesantren ini, ada sosok yang punya andil besar, yakni Anas Al Hifni. Ia adalah arsitek transformasi koperasi pesantren menjadi entitas bisnis profesional. Sebelum 2019, KSBP Sunan Drajat nyaris tidak aktif. Aktivitas koperasi hanya berkutat pada rapat koordinasi tanpa kegiatan nyata.
Perubahan dimulai ketika Gus Anas ditunjuk sebagai direktur perekonomian. Ia memulai dari hal kecil, seperti mendorong pemesanan alat tulis kantor (ATK) melalui koperasi. Sederhana, tetapi dari sana koperasi mulai mencatat arus transaksi. Seiring waktu, produk-produk seperti garam Lirboyo dan kopiah Komarudin juga mulai dicatat lewat KSBP.
Perhatian pun mulai datang ke KSBP Sunan Drajat. Bank Indonesia yang sebelumnya menginisiasi pendirian KSBP pada 2017 memberikan dukungan nyata ketika melihat geliat koperasi ini pada 2019. Dana bantuan Rp 900 juta diberikan untuk membangun toserba tiga lantai. Tak lama kemudian, Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah atau LPDB-KUMKM turut ambil bagian dengan menyalurkan dana Rp 4,5 miliar pada 2021. Bantuan ini menjadi bahan bakar penting bagi kebangkitan ekonomi pesantren.
Dahulu, koperasi ini hanyalah gudang penyimpanan barang. Kini, ia bertransformasi menjadi pusat distribusi. KSBP Sunan Drajat mengelola seluruh sistem pembayaran dan pengiriman serta mendapat keuntungan dari margin transaksi yang kini bisa mencapai 3 persen.
Transformasi di tubuh koperasi ini terus berbuah. Pada 2021, omzet KSBP baru menyentuh Rp 2,6 miliar. Setahun kemudian, angkanya melejit ke Rp 51,6 miliar. Tak berhenti, omzet 2023 kembali melonjak ke Rp 115,5 miliar. Hingga akhir 2024, omzet koperasi menembus Rp 170 miliar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/15/a24f020e-f948-4f07-8af3-2f4007f70949_jpg.jpg)
Kesuksesan ini bukan hasil sulap. Menurut Gus Anas, sistem koperasi diubah mengikuti model holding layaknya korporasi. Ia membangun koperasi yang profesional, sistematis, dan efisien, tetapi tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan kebersamaan pesantren.
Kini, 36 unit usaha bernaung di bawah KSBP Sunan Drajat. Masing-masing memiliki pengelolanya sendiri, tidak lagi ditangani satu manajemen. Semua berjalan sesuai sistem dan target yang jelas.
Struktur organisasi koperasi ini tak kalah dari perusahaan besar. Di dalamnya ada dewan direksi yang mengatur alur kerja, dari direktur utama, direktur IT, direktur SDM, hingga direktur pembelian dan inventori. Inilah alasan mengapa banyak pihak menyebut KSBP Sunan Drajat sebagai ”mini BUMN berbasis pesantren”.
Menurut Gus Anas, dengan membentuk struktur korporasi, kerja koperasi menjadi jauh lebih efisien. Meskipun tiap-tiap unit usaha bisa berdiri sendiri secara legal, integrasi sistem memudahkan pengelolaan. Sistem sentralisasi ini juga membuat koperasi bisa menjaga kualitas, transparansi, dan kesinambungan.
Namun, yang menarik, semua sistem modern ini tetap dibungkus dengan nilai-nilai ukhuwah dan gotong royong khas pesantren. Koperasi ini bukan hanya milik segelintir elite, melainkan menjadi motor penggerak ekonomi santri dan masyarakat desa secara keseluruhan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/15/fa9bff9c-728f-4716-bb26-d14a4b7d4b25_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/04/15/43c74b34-26d1-46e4-8fa3-70576ead8182.jpg)
Dengan pencapaian luar biasa itu, tak heran jika pemerintah menetapkan KSBP Sunan Drajat sebagai role model bagi pengembangan Koperasi Merah Putih, sebuah program nasional untuk memperkuat ekonomi rakyat di tingkat desa dan kelurahan.
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa koperasi bisa naik kelas. Bahwa koperasi tak harus identik dengan lembaga tua yang jalan di tempat. Di tangan manajemen modern, dengan nilai-nilai spiritual yang kokoh, koperasi bisa menjadi mesin pertumbuhan ekonomi desa. Bahkan, mampu bersaing dengan jaringan ritel modern sekalipun.
Apa yang dicapai KSBP Sunan Drajat bukan hanya keberhasilan lokal. Ia menjadi harapan baru bagi gerakan koperasi di Indonesia. Ketika koperasi diasuh dengan sistem yang baik, modal yang cukup, dan visi yang jelas, hasilnya bisa spektakuler.
Model seperti ini sangat relevan diterapkan di banyak daerah lain. Terutama di pesantren-pesantren yang jumlahnya sangat banyak dan menjadi simpul penting kehidupan sosial masyarakat. Jika koperasi bisa ditumbuhkan di sana, dengan pendekatan serupa, ekonomi desa akan jauh lebih kuat.
Koperasi bukan lagi sekadar alat simpan pinjam. Ia adalah jalan menuju kemandirian ekonomi yang adil, berkelanjutan, dan berbasis komunitas. Kisah keberhasilan KSBP Sunan Drajat adalah bukti nyata dari cita-cita besar itu. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
Inggra ParandaruEditor:
MB Dewi PancawatiInfografik:
Arie NugrohoPenyelaras Bahasa:
Retma Wati