Korban Bertambah Seiring ”Terbukanya” Myanmar

Pemerintah junta militer yang kewalahan menangani dampak gempa akhirnya membuka keterlibatan internasional.

31 Mar 2025 05:33 WIB · Foto

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Gempa bumi dengan magnitudo 7,7 dengan kedalaman 10 kilometer yang melanda Myanmar, Jumat (28/3/3035) pukul 12.50 waktu setempat, yang diperparah gempa susulan 12 menit kemudian dengan magnitudo 6,2  ternyata menimbulkan dampak kerusakan dan jumlah korban yang luar biasa. 

Pada hari pertama, dilaporkan korban hanya berjumlah di bawah 144 korban tewas dan ratusan korban luka. Pada hari kedua gempa bumi mengguncang, Minggu (30/3/2025), tercatat lebih dari 1.600 korban tewas dan ribuan korban luka dilaporkan Pemerintah Myanmar.

Jumlah korban yang meningkat pesat ini seiring dengan terbukanya akses informasi di negara ini. 

Kombinasi gambar satelit ini menunjukkan gubuk dan bangunan sebelum, atas, pada hari Minggu 23 Maret 2025, dan runtuh setelah gempa bumi, di Mandalay, Myanmar, pada hari Sabtu 29 Maret 2025.

Empat tahun terakhir, Myanmar dilanda perang saudara. Sebagian besar wilayah Myanmar masih berada di luar kendali junta saat berperang melawan kelompok pemberontak etnis dan pejuang prodemokrasi setelah merebut kekuasaan melalui kudeta pada tahun 2021. 

Junta militer Myanmar membatasi akses informasi dan memutus internet serta akses ke media sosial sehingga mengisolasi banyak peristiwa negara tersebut. 

Organisasi-organisasi internasional mengalami kesulitan mengakses informasi dampak gempa dan jumlah korban karena pembatasan akses serta banyaknya aliran listrik  yang terputus. 

Para biksu menunggu saat pencarian dan penyelamatan di sebuah kuil yang rusak di Mandalay pada Minggu, 30 Maret 2025, dua hari setelah gempa bumi melanda Myanmar tengah.
Petugas penyelamat bersiap mencari korban yang terjebak dalam reruntuhan kuil yang rusak di Mandalay pada 30 Maret 2025. Setelah dua hari gempa bumi dilaporkan korban tewas lebih dari 1.600 orang di Myanmar.
Seorang wanita yang terluka akibat gempa bumi hari Jumat menunggu untuk menerima perawatan di rumah sakit dengan 1.000 tempat tidur di Naypyidaw, Myanmar, Sabtu, 29 Maret 2025.
Sukarelawan mencari korban di daerah yang terkena dampak gempa bumi di Mandalay, Myanmar tengah, Sabtu, 29 Maret 2025.
Warga melewati puing-puing di gedung biara Buddha yang telah runtuh setelah gempa bumi di Naypyidaw, Myanmar, Minggu, 30 Maret 2025.
Seorang biksu Buddha berjalan di dekat pagoda yang runtuh setelah gempa bumi di Mandalay, Myanmar tengah, Minggu, 30 Maret 2025.

Banyaknya korban serta masifnya kerusakan bangunan yang tidak tertangani oleh negara yang dilanda konflik perang saudara ini akhirnya memaksa junta militer Myanmar, melalui kepala junta Min Aung Hlaing, untuk meminta keterlibatan negara asing dan organisasi internasional agar terlibat dalam penanganan dampak gempa. 

Tim penyelamat melakukan pencarian dan penyelamatan di sebuah bangunan yang runtuh setelah gempa bumi di Mandalay, Myanmar, Minggu, 30 Maret 2025.

Foto-foto yang dirilis beberapa saat setelah gempa menunjukkan kerusakan yang terbilang ”kecil” untuk skala gempa yang sangat besar. Namun, seiring makin terbukanya informasi di Myanmar, dunia internasional bisa melihat besarnya dampak gempa yang terlihat dari foto yang beredar belakangan. Citra satelit yang dirilis juga menunjukkan besarnya area gempa melanda daerah ini. 

Beberapa wartawan kantor berita yang berhasil masuk di Myanmar menunjukkan dampak gempa yang sebenarnya. Jumlah korban tewas, yang semula dilaporkan berjumlah ratusan, hingga hari ini tercatat lebih dari 1.600 korban tewas. Jumlah ini juga masih mungkin bertambah mengingat hanya sekitar tiga kota di negara ini yang bisa dijangkau. Beberapa daerah di luar kendali pemerintah masih belum didapat informasi soal dampak dan jumlah korban. 

Warga mengendarai sepeda melewati bangunan yang rusak seusai gempa bumi di Naypyidaw, Myanmar, Minggu, 30 Maret 2025.
Bangunan yang rusak terlihat setelah gempa bumi di Naypyidaw, Myanmar, Minggu, 30 Maret 2025.
Warga beraktivitas di kota di Naypyidaw, Myanmar, Minggu, 30 Maret 2025.
Orang-orang berjalan melewati pagoda yang rusak di dekat Pagoda Maharmyatmuni setelah gempa bumi di Mandalay, Myanmar tengah, Minggu, 30 Maret 2025.
Pengemudi memunguti potongan jalan yang rusak di Naypyidaw pada Jumat (28/3/2025), setelah gempa bumi di Myanmar bagian tengah.
Sukarelawan mencari korban selamat di dekat bangunan yang rusak pada Jumat, 28 Maret 2025, di Naypyidaw, Myanmar.
Pemimpin militer Myanmar, Jenderal Senior Min Aung Hlaing, mengunjungi korban gempa bumi pada Jumat, 28 Maret 2025, di Naypyidaw, Myanmar.
Korban gempa terbaring di tanah kompleks rumah sakit di Naypyidaw, Myanmar, pada 28 Maret 2025.

Bantuan internasional yang pertama tiba di Myanmar adalah dari China dan India. Selain mengirim regu penolong, mereka juga membawa bantuan logistik ke negara ini. Malaysia, Rusia, dan banyak negara lain juga telah mengirimkan bantuan ke negara ini. 

Keterlibatan dunia internasional ini diharapkan dapat mempercepat penanganan gempa, terutama menyelamatkan korban di reruntuhan bangunan yang mungkin masih hidup.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro