Pemerintah junta militer yang kewalahan menangani dampak gempa akhirnya membuka keterlibatan internasional.
31 Mar 2025 05:33 WIB · Foto
Gempa bumi dengan magnitudo 7,7 dengan kedalaman 10 kilometer yang melanda Myanmar, Jumat (28/3/3035) pukul 12.50 waktu setempat, yang diperparah gempa susulan 12 menit kemudian dengan magnitudo 6,2 ternyata menimbulkan dampak kerusakan dan jumlah korban yang luar biasa.
Pada hari pertama, dilaporkan korban hanya berjumlah di bawah 144 korban tewas dan ratusan korban luka. Pada hari kedua gempa bumi mengguncang, Minggu (30/3/2025), tercatat lebih dari 1.600 korban tewas dan ribuan korban luka dilaporkan Pemerintah Myanmar.
Jumlah korban yang meningkat pesat ini seiring dengan terbukanya akses informasi di negara ini.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/30/dc3911ed-b90c-4454-af51-c3213626ec79_jpg.jpg)
Empat tahun terakhir, Myanmar dilanda perang saudara. Sebagian besar wilayah Myanmar masih berada di luar kendali junta saat berperang melawan kelompok pemberontak etnis dan pejuang prodemokrasi setelah merebut kekuasaan melalui kudeta pada tahun 2021.
Junta militer Myanmar membatasi akses informasi dan memutus internet serta akses ke media sosial sehingga mengisolasi banyak peristiwa negara tersebut.
Organisasi-organisasi internasional mengalami kesulitan mengakses informasi dampak gempa dan jumlah korban karena pembatasan akses serta banyaknya aliran listrik yang terputus.
Banyaknya korban serta masifnya kerusakan bangunan yang tidak tertangani oleh negara yang dilanda konflik perang saudara ini akhirnya memaksa junta militer Myanmar, melalui kepala junta Min Aung Hlaing, untuk meminta keterlibatan negara asing dan organisasi internasional agar terlibat dalam penanganan dampak gempa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/30/4ffd97bc-0a25-49fa-97ff-7f13c627d15a_jpg.jpg)
Foto-foto yang dirilis beberapa saat setelah gempa menunjukkan kerusakan yang terbilang ”kecil” untuk skala gempa yang sangat besar. Namun, seiring makin terbukanya informasi di Myanmar, dunia internasional bisa melihat besarnya dampak gempa yang terlihat dari foto yang beredar belakangan. Citra satelit yang dirilis juga menunjukkan besarnya area gempa melanda daerah ini.
Beberapa wartawan kantor berita yang berhasil masuk di Myanmar menunjukkan dampak gempa yang sebenarnya. Jumlah korban tewas, yang semula dilaporkan berjumlah ratusan, hingga hari ini tercatat lebih dari 1.600 korban tewas. Jumlah ini juga masih mungkin bertambah mengingat hanya sekitar tiga kota di negara ini yang bisa dijangkau. Beberapa daerah di luar kendali pemerintah masih belum didapat informasi soal dampak dan jumlah korban.
Bantuan internasional yang pertama tiba di Myanmar adalah dari China dan India. Selain mengirim regu penolong, mereka juga membawa bantuan logistik ke negara ini. Malaysia, Rusia, dan banyak negara lain juga telah mengirimkan bantuan ke negara ini.
Keterlibatan dunia internasional ini diharapkan dapat mempercepat penanganan gempa, terutama menyelamatkan korban di reruntuhan bangunan yang mungkin masih hidup.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu Widiantoro