Indonesia adalah satu-satunya negara anggota ASEAN yang menjalin Special Strategic Partnership dengan Korea.
19 Okt 2025 11:00 WIB · Artikel Opini
Pada 31 Oktober 2025, Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC akan diselenggarakan di Gyeongju, kota bersejarah yang dikenal dengan warisan seribu tahunnya. Kota yang menjadi rumah bagi situs Warisan Dunia UNESCO, seperti Kuil Bulguksa dan Goa Seokguram, ini dapat disandingkan dengan kota-kota budaya di Indonesia, seperti Yogyakarta, Surakarta, yang sarat nilai sejarah dan spiritualitas.
Para pemimpin dari 21 ekonomi anggota akan menyaksikan perpaduan antara tradisi kuno dan kemajuan modern Korea di Gyeongju, kota yang merepresentasikan harmoni masa lalu dan masa depan.
APEC merupakan forum kerja sama ekonomi regional terbesar di dunia, yang mencakup sekitar 40 persen populasi global, 61 persen produk domestik bruto, dan 50 persen volume perdagangan dunia. Sejak didirikan pada tahun 1989, anggota APEC telah menempuh jalan panjang menuju kemakmuran bersama melalui berbagai ide dan kolaborasi konkret.
Kini, APEC telah berkembang melampaui sekadar forum konsultatif dan menjadi platform utama yang berkontribusi bagi pertumbuhan dan stabilitas kawasan Asia-Pasifik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/25/302e3f89-d232-4de6-bbca-c606aca04574_jpg.jpg)
Setelah menjadi tuan rumah KTT APEC tahun 2005 di Busan dengan tema ”Challenges and Changes for One Community”, Korea kembali dipercaya menjadi tuan rumah setelah 20 tahun. KTT tahun ini akan mengusung visi untuk pertumbuhan dan kemakmuran yang berkelanjutan serta inklusif di tengah ketidakpastian global, mengusung tema ”Building a Sustainable Tomorrow: Connect, Innovate, Prosper.”
KTT Gyeongju 2025 juga menjadi pertemuan multilateral tingkat tinggi pertama yang diselenggarakan di Korea sejak pemerintahan Presiden Lee Jae Myung dilantik pada Juni lalu. Melalui forum ini, Pemerintah Korea ingin menunjukkan semangat untuk mengatasi krisis politik domestik dan menegaskan kebangkitannya sebagai negara demokrasi yang matang, sekaligus memperkenalkan visi dan kepemimpinan baru Korea dalam menghadapi tantangan global masa kini.
Sebagai tuan rumah, Korea mengusulkan ”Kerja Sama di Bidang Kecerdasan Buatan (AI) dan Penanganan Perubahan Struktur Demografi” sebagai agenda utama KTT. Untuk pertama kalinya dalam sejarah APEC, isu AI akan menjadi fokus pembahasan. Para pemimpin akan membahas penguatan kapasitas AI serta pemanfaatannya yang berkelanjutan. Selain itu, diskusi juga akan difokuskan pada upaya bersama menghadapi populasi menua, memperkuat sirkulasi sumber daya manusia, serta mendorong inovasi di bidang kesehatan dan teknologi.
KTT ini juga diharapkan akan menghasilkan kesepakatan untuk memperkuat kerja sama di berbagai sektor ekonomi penting, seperti perdagangan, pengembangan sumber daya manusia, pendidikan, ekonomi digital, ketahanan pangan, dan pemberdayaan perempuan.
Indonesia sendiri pernah menjadi tuan rumah KTT APEC ke-2 pada tahun 1994 yang melahirkan Deklarasi Bogor—tonggak bersejarah yang mencerminkan tekad anggota untuk mewujudkan Kawasan Perdagangan Bebas Asia-Pasifik. Deklarasi tersebut berperan besar dalam menjadikan kawasan Asia-Pasifik sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi paling dinamis di dunia.
Indonesia adalah satu-satunya negara anggota ASEAN yang menjalin Special Strategic Partnership dengan Korea, kedua negara sama-sama menganut prinsip demokrasi dan ekonomi pasar, serta menjadi mitra utama yang terus memperkuat kerja sama di berbagai forum multilateral, seperti APEC, G20, dan MIKTA.
Atas undangan Presiden Lee Jae Myung, Presiden Prabowo Subianto diharapkan hadir dalam KTT APEC Gyeongju. Kehadiran Presiden Prabowo di APEC tahun ini merupakan kunjungan pertama beliau ke Korea setelah dilantik sebagai presiden pada Oktober tahun lalu. Kunjungan tersebut semakin bermakna karena bertepatan dengan peringatan satu tahun masa kepemimpinan beliau.
Diharapkan kedua pemimpin memperlihatkan kepemimpinan dalam mendorong kemajuan visi kemakmuran bersama di kawasan Asia-Pasifik. Selain itu, kedua pemimpin dapat bertemu untuk pertama kalinya dan membahas langkah-langkah untuk meningkatkan kerja sama yang lebih komprehensif di antara kedua negara.
Dengan visi Indonesia Emas 2045, Pemerintah Indonesia mendorong transformasi besar menuju negara maju. Presiden Prabowo berupaya mewujudkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan melalui kebijakan Astacita dan berbagai program percepatan ekonomi. Upaya Pemerintah Indonesia tersebut sejalan dengan visi KTT APEC Gyeongju 2025 untuk membangun masa depan yang berkelanjutan melalui konektivitas, inovasi, dan kemakmuran.
Diharapkan Presiden Prabowo akan berbagi pandangan mengenai arah kebijakan ekonomi luar negeri Indonesia serta visi untuk menghadapi tantangan era baru—seperti pengembangan AI, perubahan demografi, dan promosi industri budaya—agar kawasan Asia-Pasifik dapat mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan dan siap menghadapi masa depan.
Lambang APEC tahun ini menampilkan simbol kupu-kupu yang merepresentasikan konektivitas, kontribusi terhadap kemakmuran ekosistem, serta semangat inovasi dan transformasi, disertai dengan Sumaksae, hiasan atap kuno bergambar wajah tersenyum dari Dinasti Silla yang melambangkan senyum abadi Korea. Korea akan menyambut para pemimpin dunia yang datang bagaikan kupu-kupu terbang menuju bunga, dengan senyum abadi Sumaksae yang telah terjaga selama seribu tahun.
Korea juga akan menjunjung tinggi semangat APEC yang telah terjalin selama lebih dari 30 tahun serta berupaya hingga akhir untuk mencapai kesepakatan konkret menuju masa depan yang berkelanjutan dan inklusif.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/19/fcb45f34f910c69e4f0f96eaec214690-WhatsApp_Image_2025_10_17_at_15.32.03.jpeg)
Park Soo-deok, Kuasa Usaha Sementara (Charge d’Affaires ad interim) Korea Selatan untuk Indonesia
Penulis:
Park Soo-deokEditor:
Neli TrianaPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul