Korea Utara ditengarai memberangkatkan 10.000 prajurit ke Rusia untuk membantu dalam perang melawan Ukraina. Pemberangkatan sesuai dengan perjanjian kedua negara.
02 Nov 2024 13:30 WIB · Internasional
Oleh Helena Fransisca Nababan - [email protected]
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/02/2b6efb00-a13a-4da5-8f77-4eb3e674fdb2_jpg.jpg)
MOSKWA, SABTU — Korea Utara menyatakan akan tetap bersama Rusia hingga mencapai ”kemenangan” di Ukraina. Pyongyang, Sabtu (2/11/2024), juga mengatakan tidak punya pilihan lain selain untuk terus membangun kapabilitas pertahanan diri.
Menteri Luar Negeri Korea Utara Choe Son Hui bertemu dengan Menlu Rusia Sergey Lavrov, Jumat, di Moskwa, dan mengutarakan dukungan Korut. Kunjungan itu berlangsung setelah Korea Selatan mengungkap pengiriman sekitar 10.000 tentara Korut ke Rusia untuk berperang di medan Ukraina. Kantor berita Korsel, Yonhap, melaporkan, Barat meyakini ribuan tentara Korut sudah berada di Rusia dan siap diterjunkan ke dalam perang Rusia-Ukraina.
”Hubungan tradisional dan persahabatan Korea Utara dan Rusia telah teruji dalam sejarah. Hari ini hubungan tersebut meningkat ke jenjang baru hubungan persahabatan militer yang tak terkalahkan,” ujar Choe, dalam pernyataan yang dirilis setelah pembicaraan dengan Lavrov.
Choe juga memuji peran Pemimpin Korut Kim Jong Un dan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam peningkatan hubungan kedua negara. ”Pyongyang yakin di bawah kepemimpinan bijak Putin, tentara dan rakyat Rusia akan meraih kemenangan besar dalam perjuangan suci untuk melindungi hak kedaulatan dan kepentingan keamanan negara mereka,” ujarnya.
”Kami juga memastikan bahwa hingga hari kemenangan kami akan berdiri teguh di samping kawan-kawan Rusia kami,” imbuh Choe.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/02/4cfdaf6c-a428-4353-8696-c52500b66733_jpg.jpg)
Lavrov menyambut pernyataan Choe dan mengungkapkan tentang hubungan sangat dekat antara militer kedua negara. Ia menyampaikan kedekatan tersebut memungkinkan mereka menyelesaikan tugas keamanan penting bersama-sama.
”Kami sangat berterima kasih atas sikap berprinsip Korut terhadap Ukraina. Saya sangat menghargai kesempatan hari ini untuk berbicara terus terang dengan cara yang bersahabat,” kata Lavrov.
Akan tetapi, baik Choe maupun Lavrov tidak merujuk pada pernyataan AS, NATO, Korea Selatan, dan Ukraina pada pekan ini bahwa Korut telah memberangkatkan sekitar 10.000 prajurit ke Rusia.
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken, Kamis (31/10/2024), mengatakan, sebanyak 8.000 prajurit Korut berada di wilayah Kursk, Rusia. Di wilayah itu pada Agustus lalu pasukan Ukraina menerobos ke perbatasan Rusia. Blinken memperkirakan para prajurit Korut akan bertempur melawan Ukraina dalam beberapa hari mendatang.
Moskwa tidak membantah atau secara langsung mengonfirmasi keberadaan pasukan Korut di Rusia. Pemberangkatan prajurit Korut ke Rusia berkaitan dengan perjanjian kerja sama yang ditandatangani Putin dan Kim di Pyongyang pada Juni lalu.
Melalui perjanjian tersebut, kedua negara berjanji akan saling membantu jika terjadi agresi terhadap salah satu negara. Dalam konferensi pers pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS pada akhir Oktober, Putin mengatakan, Rusialah yang memutuskan bagaimana menerapkan perjanjian tersebut dengan Korut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/02/e90ba121-07ca-4aa3-aa6e-e8afce268369_jpg.jpg)
Dalam siaran televisi, Choe yang berbicara dengan dibantu penerjemah juga menuduh AS dan Korsel merencanakan serangan nuklir terhadap Korut. Ia tidak memberikan bukti yang mendukung pernyataannya tersebut. Akan tetapi, ia merujuk pada konsultasi rutin antara Washington dan Seoul. Menurut Choe, konsultasi menjadi tempat terjadinya persekongkolan tersebut.
Choe mengatakan, situasi di Semenanjung Korea dapat meledak setiap saat. Ia mengatakan kepada Lavrov, Korut perlu memperkuat persenjataan nuklir dan menyempurnakan persiapan untuk melancarkan serangan nuklir balasan jika diperlukan.
Di tengah menguatnya desakan penarikan pasukan Korut di Rusia, Pyongyang memamerkan generasi baru rudal balistik antarbenua (ICBM), Hwasong-19, pada Kamis. Korut menyatakan, uji coba Hwasong-19 sebagai bentuk hak mempertahankan diri.
”DPRK (Korea Utara) akan mengintensifkan upaya praktis untuk menggentarkan ancaman militer dari pasukan jahat dan mengelola keseimbangan kekuasaan di kawasan,” kata seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Korut yang tidak disebutkan namanya, sebagaimana dikutip media resmi Pemerintah Korut, KCNA, Sabtu.
Keberadaan prajurit Korut di Rusia mendorong AS untuk memberikan tambahan bantuan militer sebesar 425 juta dollar AS kepada Ukraina. Tambahan bantuan yang diumumkan pada Jumat meliputi pencegat pertahanan udara dan amunisi untuk sistem roket serta artileri untuk memenuhi kebutuhan yang paling mendesak.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam pidatonya pada Jumat malam mengkritik sekutu-sekutu Kyiv karena tidak bertindak saat Ukraina meminta izin untuk menembakkan rudal jarak jauh. ”Alih-alih menyediakan kemampuan serangan jarak jauh yang sangat diperlukan, Amerika mengawasi, Inggris mengawasi, Jerman mengawasi. Semua orang hanya menunggu militer Korut mulai menyerang Ukraina,” katanya. (AFP/REUTERS)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Fransisca Romana Ninik W