Korea Utara Percepat Pengembangan Senjata Nuklir

Amerika Serikat memperkirakan Korea Utara punya 50 hulu ledak nuklir dan mampu mengembangkan hingga 90 unit. Perang Ukraina membawa kemajuan bagi militer Korut.

19 Agt 2025 11:35 WIB · Internasional

Oleh Iwan Santosa

SEOUL, SELASA — Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un memerintahkan militernya harus segera mengembangkan persenjataan nuklir untuk mengantisipasi aksi Amerika Serikat dan Korea Selatan. Kim menyampaikan hal itu, Selasa (19/8/2025), menanggapi latihan perang AS-Korsel yang digelar 11 hari dengan skenario perang menghadapi Korea Utara.

”AS-Korsel mengintensifkan hubungan militer dan pamer kekuatan, itu manifestasi yang jelas bahwa mereka ingin memicu perang,” kata Kim dikutip kantor berita resmi Korut, Korean Central News Agency (KCNA).

”Menanggapi situasi itu, kita perlu membuat perubahan radikal dan cepat dalam teori dan praktik militer serta percepatan pengembangan nuklir,” lanjut Kim.

Bersamaan dengan dimulainya latihan militer gabungan AS-Korsel, Kim melawat ke Pelabuhan Nampo, Senin. Di situ, ia menginspeksi kapal perang Choe Hyon, kapal perusak seberat 5.000 ton yang pertama kali dipamerkan pada April.

Menurut Kim, latihan perang AS-Korsel menjadi semakin provokatif dibandingkan sebelumnya. Dengan demikian, Korut akan merespons secara proaktif. ”Lingkungan keamanan di sekitar Korut menjadi lebih serius dari hari ke hari,” sebut KCNA, mengutip Kim.

AS-Korsel menggelar latihan dengan skenario perang nuklir menghadapi Korut. Korut menyebut latihan itu sebagai invasi ke Semenanjung Korea.

Para pejabat militer AS dan Korsel mengatakan, latihan Perisai Kebebasan Ulchi tahun ini fokus mengantisipasi ancaman nuklir dan rudal Korut. Mereka turut mengevaluasi Perang Ukraina-Rusia dan serangan Israel ke Iran.

Para peserta latihan menyusun antisipasi atas skenario serupa dengan mengantisipasi serangan drone, mencegat sinyal GPS, serta serangan siber. Latihan kali ini melibatkan kekuatan seperti tahun lalu, dengan 21.000 prajurit. Namun, menurut militer Korsel, simulasi lapangan berkurang dari 40 operasi menjadi 20 operasi.

Pengunjuk rasa di depan Istana Presiden Korea Selatan membawa alat peraga menentang latihan perang AS - Korea Selatan Perisai Kebebasan Ulchi 2025, Senin (18/8/2025).

Biasanya Korea Utara menyikapi latihan AS-Korsel dengan menembakkan rudal ke arah timur ke jurusan Korsel ataupun Jepang. Akibatnya, ketegangan di Semenanjung Korea pun meningkat.

Untuk meredakan ketegangan, Presiden Korsel Lee Jae-myung memundurkan agenda latihan perang. Seoul juga menyatakan ingin berbaikan dengan Pyongyang, salah satunya dengan menghidupkan kembali pakta pengurangan ketegangan militer yang ditandatangani kedua negara pada 2018.

”Keamanan yang sejati terletak pada (upaya) menjaga perdamaian. Yang kita butuhkan sekarang adalah keberanian untuk terus mengambil langkah-langkah agar ketegangan mereda sambil mempertahankan postur pertahanan yang kokoh,” kata Lee, dilansir kantor berita Korea Selatan, Yonhap, Senin.

Kemampuan meningkat

Para pengamat menilai, kemampuan militer Korut terus meningkat. Salah satunya dipicu Perang Ukraina-Rusia. Dalam perang itu, Korut membantu menyuplai tentara bagi Rusia untuk dikerahkan ke medan perang menghadapi Ukraina. Imbalannya, Korut mendapat aneka persenjataan dari Rusia.

Media Australia, ABC, memberitakan, pengalaman perang di Ukraina mempererat kerja sama militer Korut-Rusia. Diyakini, militer Korut meningkat kemampuannya dalam pertahanan udara, peringatan dini antiserangan udara, serta memiliki perangkat baru untuk perang elektronik di armada tank, rudal supersonik untuk kapal perusak, dan rudal udara ke udara.

Prajurit Korut yang dikerahkan ke Ukraina kini berpengalaman mengoperasikan akal imitasi (AI) dan drone untuk menghadapi lawan. Berbagai rudal balistik Korut juga digunakan dalam Perang Ukraina-Rusia. Dengan bantuan Rusia, Korut mengembangkan teknologi peluncuran satelit dan rudal antarbenua yang bisa membawa beberapa hulu ledak sekaligus.

Laporan Federasi Ilmuwan Amerika Serikat tahun lalu menyimpulkan, Korut telah memiliki material untuk membuat 90 hulu ledak nuklir. Korut juga diperkirakan telah membuat 50 hulu ledak nuklir.

Modernisasi militer Korut itulah yang membuat Korsel habis-habisan mengantisipasi.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengunjungi kapal perusak modern Choe Hyon yang memiliki persenjataan rudal nuklir. Rusia diyakini membantu Korea Utara melakukan modernisasi militer atas imbalan berbagai bantuan Korea Utara dalam Perang Rusia-Ukraina.

Korut sedang membangun kapal perusak berbobot 5.000 ton kelas Choe Hyon yang ketiga dan akan beroperasi pada Oktober 2026. Kapal perusak terbaru itu akan diperlengkapi rudal jelajah berhulu ledak nuklir dan rudal antiserangan udara.

Korut sudah mengoperasikan dua kapal perusak kelas Choe Hyon, yakni Choe Hyon dan Kang Kon. Peluncuran Kang Kon di Pelabuhan Chongjin pada Mei 2025 sempat mengalami kegagalan. Setelah diperbaiki, kapal kembali diluncurkan pada Juni.

Pada Juli 2025, Kim Yo Jong, saudari Kim Jong Un, menegaskan, Presiden AS Donald Trump harus menerima realitas baru dalam hubungan mereka terkait dengan isu nuklir. Korut menegaskan tidak akan melucuti kemampuan nuklirnya.

”Jika AS tidak bisa menerima kenyataan ini, mereka gagal memahami hubungan AS-Korut. Mereka hanya bertepuk sebelah tangan berharap bisa menghentikan pengembangan nuklir kami,” kata Kim Yo Jong.

Foto ini diambil pada 30 Juni 2019 dan dirilis oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) resmi Korea Utara pada 1 Juli 2019 menunjukkan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kiri) bersalaman dengan Presiden AS Donald Trump di Jalur Demarcation Militer yang membagi Korea Utara dan Selatan, di Wilayah Keamanan Bersama (JSA) Panmunjom di zona Demiliterisasi (DMZ).

Meski demikian Kim Yo Jong mengakui secara pribadi hubungan Trump dan Kim Jong Un baik-baik saja. Menurut dia, situasi geopolitik sudah banyak berubah dari tiga kali pertemuan Kim Jong Un dan Trump pada periode pertama pemerintahan Trump (2017-2021).

”Semua upaya untuk mencegah Korut sebagai negara berkekuatan nuklir akan kami tolak,” kata Kim Yo Jong. (REUTERS/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji