Kematian Boas adalah contoh nyata bagaimana penyakit yang dapat diobati seperti TBC masih merenggut nyawa di Papua.
13 Agt 2025 14:00 WIB · Artikel Opini
Boas Dambol. Nama ini mungkin asing di telinga sebagian orang. Namun, bagi wisatawan mancanegara yang pernah menginjakkan kaki di Korowai, nama tersebut akrab terdengar.
Boas adalah asisten chef yang kemampuannya setara dengan koki hotel bintang lima di kota besar. Bedanya, ia tak pernah mengenyam pendidikan formal di bidang kuliner. Pendidikan formalnya pun hanya sampai bangku sekolah dasar di Yaniruma, itu pun tak tamat. Semua keterampilannya lahir dari pengalaman, kemauan keras untuk belajar, dan kecintaan pada pekerjaan yang ia jalani.
Saya pertama kali berjumpa Boas pada 2003, saat melakukan penelitian etnografi di suku Korowai, masyarakat yang dikenal dengan rumah-rumah pohonnya yang menjulang tinggi.
Boas, dengan sifat ramah dan rasa ingin tahu yang besar, menjadi teman setia selama empat bulan saya tinggal sendiri di sana. Dari kehidupannya, saya melihat cermin cinta tanpa syarat. Boas, yang kala itu masih belia, menikahi seorang mama janda yang usianya terpaut cukup jauh darinya.
Rumah tangga mereka mengajarkan saya bahwa cinta tak selalu diukur dari hadirnya anak, tetapi dari kemauan dua orang untuk saling menghidupkan kebahagiaan bersama.
Boas menjadi antitesis terhadap stigma dari luar tentang Korowai—tentang masyarakat yang dianggap tertinggal, tentang lemahnya teknologi pangan, dan minimnya kemauan untuk terus belajar.
Sosoknya membuktikan bahwa keterbatasan geografis dan pendidikan formal bukanlah penghalang untuk mencapai keterampilan kelas dunia. Dalam setiap hidangan yang ia buat, ada cerita tentang kerja keras, rasa ingin tahu, dan kebanggaan akan jati diri.
Namun, seperti banyak warga di pedalaman Papua lainnya, Boas hidup di wilayah yang akses kesehatannya amat terbatas. Jarak yang ditempuh berjam-jam hingga berhari-hari untuk mencapai pusat kesehatan terdekat. Minimnya tenaga medis dan stok obat yang tak selalu tersedia membuat penyakit yang seharusnya dapat disembuhkan menjadi ancaman mematikan.
Tuberkulosis (TBC) adalah salah satunya. Penyakit ini telah lama mengintai Papua, menjadikannya salah satu provinsi dengan prevalensi TBC tertinggi di Indonesia. Situasi diperparah dengan minimnya pengetahuan masyarakat tentang disiplin minum obat dan bagaimana seharusnya pasien TBC ditangani.
Banyak pasien menghentikan pengobatan di tengah jalan karena merasa gejalanya membaik, padahal bakteri TBC belum sepenuhnya hilang. Akibatnya, muncul risiko resistensi obat yang membuat proses penyembuhan jauh lebih sulit dan memakan biaya lebih besar.
Boas Dambol akhirnya berpulang pada pertengahan 2025, setelah berbulan-bulan berjuang melawan TBC. Kondisinya memburuk dalam senyap.
Ketika gejala awal mulai terasa, akses menuju layanan kesehatan terdekat sudah menjadi tantangan berat. Saat pengobatan dimulai, ia harus berhadapan dengan jadwal minum obat yang ketat, sementara ketersediaan obat di wilayahnya tidak selalu terjamin. Situasi ini, diperparah dengan jarak dan biaya transportasi, membuat pengawasan medis tak optimal.
Kematian Boas bukan sekadar kehilangan bagi keluarga dan sahabat, melainkan juga sebuah alarm keras bagi kita semua. Ia adalah contoh nyata bagaimana penyakit yang dapat diobati seperti TBC masih merenggut nyawa di Papua, bukan karena kurangnya kemauan untuk sembuh, melainkan karena sistem kesehatan belum menjangkau semua warganya secara setara.
Kita paham bahwa Papua selalu punya tantangan sendiri. Medan berat, isu keamanan, hingga mahalnya biaya transportasi adalah ”lagu lama” yang diulang-ulang sejak puluhan tahun lalu. Namun, yang memprihatinkan adalah bagaimana narasi ini sering menjadi alasan diam-diam untuk menerima keadaan apa adanya.
Seolah-olah kesulitan ini tak bisa diatasi, padahal yang dibutuhkan adalah strategi khusus yang sesuai dengan karakter wilayah dan budaya setempat.
Program kesehatan nasional sering kali hanya ”menyentuh” Papua di tataran laporan, tetapi tidak sampai pada inti persoalan di lapangan. Obat dan tenaga medis mungkin tersedia di kota kabupaten, tetapi belum tentu mampu menembus kampung-kampung di pedalaman seperti Korowai.
Pendekatan satu pola untuk semua daerah membuat kebutuhan unik masyarakat adat terabaikan—mulai dari bahasa, pola mobilitas, hingga kepercayaan lokal terhadap penyakit dan penyembuhan.
Untuk mengakhiri siklus ini, kita perlu meninggalkan cara pandang ”Papua sebagai daerah istimewa yang penuh tantangan” hanya sebatas retorika.
Diperlukan intervensi kesehatan yang benar-benar berbasis komunitas adat. Kader kesehatan lokal dari kampung-kampung terpencil perlu dilatih untuk mengenali gejala TBC, melakukan pengawasan minum obat (DOTS) secara konsisten, dan menjadi penghubung antara pasien dengan fasilitas kesehatan yang lebih besar.
Selain itu, dukungan logistik harus dirancang khusus untuk wilayah seperti Korowai. Armada udara kecil, perahu bermotor, atau jalur darat alternatif yang melibatkan masyarakat lokal bisa menjadi solusi distribusi obat yang lebih efektif.
Pendekatan seperti ini tidak hanya memperpendek jarak, tetapi juga membangun rasa kepemilikan masyarakat terhadap upaya pencegahan dan penyembuhan TBC.
Di sisi lain, kampanye edukasi kesehatan harus mengakar pada bahasa dan cara pandang lokal. Materi tentang TBC dan pentingnya disiplin minum obat harus disampaikan melalui tokoh adat, guru, atau pemuka agama yang dipercaya masyarakat sehingga pesan tak hanya dipahami, tetapi juga dihayati.
Berdasarkan pengalaman saya di lapangan, misalnya pada momen pesta ulat sagu, kegiatan ini seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai ajang untuk mengedukasi masyarakat tentang kesehatan atau bahkan menjadi tempat untuk pengobatan massal.
Menggunakan momentum budaya seperti ini akan membuat masyarakat lebih mudah menerima informasi dan layanan kesehatan karena dilakukan dalam suasana yang akrab dan penuh kebersamaan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/30/d4ee5c49-5a38-4ec0-b6d8-97b67237e55d_png.png)
Kematian Boas Dambol adalah kehilangan yang terlalu mahal untuk dibiarkan berlalu sebagai catatan kecil. Ia adalah pengingat bahwa di balik statistik, ada manusia yang pernah bermimpi, berkarya, dan memberi arti bagi lingkungannya.
TBC di Papua bukan hanya persoalan medis, melainkan juga ujian kemanusiaan kita: apakah kita rela membiarkan jarak, biaya, dan stigma terus merenggut nyawa mereka yang seharusnya bisa diselamatkan.
Boas telah pergi. Namun, kisahnya seharusnya mendorong kita untuk memastikan bahwa tidak ada lagi nyawa yang hilang hanya karena ia lahir dan tinggal di tempat yang jauh dari pusat kekuasaan.
Papua berhak untuk mendapatkan perhatian yang setara, solusi yang tepat sasaran, dan komitmen yang tidak goyah. Karena setiap Boas yang kita selamatkan adalah kemenangan bagi kita semua.
Rhidian Yasminta Wasaraka, Antropolog
Penulis:
Rhidian Yasminta WasarakaEditor:
Sri Hartati Samhadi, Yohanes KrisnawanPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan