Hadapi AS, Korsel Merajut Lagi Persahabatan dengan Jepang

Presiden Korsel Lee Jae-myung dijadwalkan bertemu Presiden AS Donald Trump. Namun, Lee memilih ke Jepang terlebih dulu dan bertemu PM Shigeru Ishiba.

23 Agt 2025 19:00 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

TOKYO, SABTU — Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung tiba di Tokyo, Sabtu (23/8/2025), dan bertemu Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba. Pertemuan tersebut membawa pesan bahwa Korsel ingin menegaskan kembali hubungan persahabatan dengan Jepang, serta bersama-sama menghadapi tantangan dari Amerika Serikat.

Lee yang resmi menjabat sejak awal Juni dijadwalkan berkunjung selama enam hari ke AS dan Jepang mulai Sabtu. Namun, urutan lawatan Presiden Korsel kali ini tidak biasa.

Disebut urutan tidak biasa karena Lee memilih berkunjung ke Jepang terlebih dahulu, beru kemudian bertemu Presiden AS Donald Trump pada Senin (25/8/2025) di Washington. Ada ”pengaturan diplomatik” yang jarang terjadi. Urutan kunjungan itu dinilai menekankan bagaimana Trump semakin mendekatkan dua negara tetangga yang berseteru akibat persoalan historis yang mengakar.

Kunjungan lebih dulu ke Jepang dianggap bisa membantu Lee mempersiapkan diri menghadapi pertemuan dengan Trump. Ini pertemuan pertama dan berisiko tinggi bagi Lee. Mereka berdua akan berunding, terutama dalam isu perdagangan dan pertahanan.

Lawatan Lee ke Tokyo sebelum ke Washington disambut baik para pejabat Jepang. Mereka memaknai lawatan Lee sebagai tanda ia mementingkan hubungan kedua negara yang naik turun.

Kemenangan Lee dalam pemilihan presiden sempat menimbulkan kekhawatiran bagi Jepang. Lee, yang berhaluan liberal, menang cepat setelah pemakzulan Presiden Yoon Suk Yeol. Jepang khawatir kemenangan Lee berdampak pada memburuknya hubungan Tokyo-Seoul.

South Korean President Lee Jae Myung (center-L) meets with Japan’s Prime Minister Shigeru Ishiba (R) in Tokyo on August 23, 2025. (Photo by KIM KYUNG-HOON / POOL / AFP)

Namun, Lee malah mengkritik upaya-upaya sebelumnya untuk memperbaiki hubungan Seoul-Tokyo yang tegang. Ketegangan itu berasal dari dendam yang berkepanjangan atas penjajahan Jepang di Semenanjung Korea pada 1910-1945.

Pemerintah Korsel pekan lalu menyatakan kekecewaan dan penyesalan yang mendalam setelah para pejabat Jepang mengunjungi sebuah kuil di Tokyo. Kunjungan itu untuk mengenang para korban perang Jepang. Oleh banyak orang Korea, kuil itu dianggap sebagai simbol agresi Jepang di masa perang.

Sejauh ini, Lee sudah menyatakan dukungan terhadap hubungan yang lebih erat dengan Jepang. Pernyataan itu ia sampaikan dalam pertemuan pertamanya dengan Ishiba di sela-sela KTT G7 di Kanada pada Juni.

Yoshimasa Hayashi, Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, mengatakan, kunjungan Lee akan membantu mendorong perkembangan hubungan bilateral yang stabil. Kedua negara bisa bekerja sama menghadapi tantangan internasional dengan memanfaatkan diplomasi ulang-alik dari pertemuan puncak rutin.

Lee dan Ishiba dapat membahas dimulainya kembali perundingan perdagangan bebas yang telah lama terhenti. Lee dan Ishiba juga bisa membahas potensi masuknya Korsel ke dalam Perjanjian Komprehensif dan Progresif untuk Kemitraan Trans-Pasifik (CPTPP).

Ini adalah pakta perdagangan Asia-Pasifik beranggotakan 12 negara. Ishiba menyerukan perluasan keanggotaan CPTPP di tengah ketegangan terkait tarif AS.

Dalam kunjungan pertama ke Jepang kali ini, Lee bertemu dengan Ishiba di kediaman perdana menteri di Tokyo. Kedua pemimpin itu membahas hubungan bilateral, juga kerja sama keamanan yang lebih erat dengan AS di bawah pakta trilateral yang ditandatangani para pendahulu mereka.

South Korean President Lee Jae Myung, left, and Japan's Prime Minister Shigeru Ishiba shake hands as they head to the summit talk at the prime minister's office in Tokyo, Saturday, Aug. 23, 2025. (Kyodo News via AP)

Menurut media Korea JoongAng Daily, Lee bertemu Ishiba menghadiri jamuan makan siang bersama anggota komunitas Korea di Tokyo. Pada Minggu, Lee dijadwalkan bertemu dengan anggota Parlemen Jepang.

Ia kemudian akan bertolak ke AS dengan sejumlah agenda. Berhadapan dengan AS, Jepang dan Korsel memiliki kesamaan. Kedua negara menyetujui tarif 15 persen atas impor barang-barang mereka dari AS setelah Trump mengancam akan mengenakan tarif lebih tinggi.

Pada Senin, Lee akan menghadiri upacara penyambutan dan bertemu Trump untuk pertama kali di Gedung Putih. Lee dan Trump diperkirakan akan membahas masalah keamanan termasuk China, Korea Utara, dan kontribusi keuangan Seoul untuk pasukan AS yang ditempatkan di Korsel. AS berulang kali menekankan peningkatan kontribusi keuangan oleh Korsel.

Lee juga akan menghadiri diskusi bisnis Korea-AS dan menyampaikan pidato kebijakan di lembaga kajian Center for Strategic and International Studies (CSIS). Lee kemudian akan menghadiri pertemuan makan malam dengan para pemimpin opini dari kedua negara untuk mendengarkan pandangan mereka tentang kemajuan aliansi.

Melalui rangkaian pertemuan puncak berturut-turut tersebut, Korea JoongAng melaporan, Lee akan mempraktikkan diplomasi pragmatis khasnya. Diplomasi pragmatis itu berbasis pada kepentingan nasional untuk mengamankan peluang perdagangan terbaik. Selain itu, diplomasi juga sekaligus untuk menjaga keamanan di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan dan mengarungi persaingan AS-China yang semakin ketat. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto