Razia pabrik Hyundai-LG oleh petugas imigrasi AS dinilai masyarakat Korsel sebagai pengkhianatan. Apalagi, Korsel berinvestasi ratusan miliar dollar di AS.
08 Sep 2025 16:30 WIB · Internasional
Sakit hati. Itulah yang dirasakan oleh Korea Selatan. Mereka menganggap dikhianati oleh salah satu teman terdekat, yaitu Amerika Serikat. Setelah bertahun-tahun mengucurkan modal, membayar uang keamanan, dan lobi-lobi lainnya, pabrik Hyundai-LG di AS malah dirazia dan pekerjanya ditahan.
Berbagai media arus utama di Korsel, Senin (8/9/2025), mengeluarkan komentar pedas terhadap AS. ”Enak saja menyuruh kami menaikkan jumlah investasi, tetapi memperlakukan kami dengan semena-mena. Kalian (AS) itu bukannya teman?” tulis surat kabar Hankyoreh.
Razia terjadi tak sampai dua pekan setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden Korsel Lee Jae-myung bertemu di Gedung Putih. Dalam pertemuan itu disepakati, Korsel akan menanamkan hingga 550 miliar dollar AS ke Amerika Serikat. Hingga 150 miliar dollar AS akan diarahkan untuk membangkitkan lagi industri pembuatan kapal di AS.
Media Korsel, Joong Ang Daily, menyebut razia itu meningkatkan risiko investasi di AS. Sejumlah perusahaan Korsel mengumumkan penundaan kunjungan kerja ke AS. Hyundai dan LG, yang perusahaan patungannya menjadi sasaran razia pada Kamis pekan lalu, termasuk yang memutuskan penundaan.
Samsung, Hyosung, Cheil Jedang, Hanwha, dan SK On juga mengumumkan sikap serupa. Para raksasa Korsel itu sedang mengembangkan pabrik di AS, sama seperti patungan Hyundai-LG.
Dalam razia Kamis lalu, 475 orang ditangkap dari lokasi pembangunan pabrik baterai di Ellabel, Negara Bagian Georgia. Setidaknya 300 orang di antara yang ditangkap merupakan warga Korsel.
Petugas Badan Penegakan Hukum Imigrasi dan Cukai AS (ICE) merantai orang-orang yang ditangkap. Tangan, kaki, dan pinggang dirantai serta video orang-orang itu disebarkan. Penangkapan tersebut berikut videonya memicu sakit hati di Korsel.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/07/a658f065e8372fdb8b590301037b1f44-US_IMMIGRATION_SKOREA_DIPLOMACY_ECONOMY_132348979.jpg)
Presiden Korsel Lee rapat darurat tak lama setelah penangkapan. Sementara Menteri Luar Negeri Cho Yun dijadwalkan tiba di AS pada Senin. Hyundai dan LG juga mengirimkan pejabat tinggi untuk membebaskan ratusan warga Korsel tersebut.
Kemenlu Korsel menyewa pesawat untuk menjemput para pekerja itu. ”Menlu Cho akan menyelesaikan semua persoalan ini dan memastikan tidak ada persoalan baru timbul selama proses pemulangan warga kita,” demikian pernyataan Kemenlu Korsel.
Pesawat carteran itu akan bertolak dari Korsel pada Rabu (10/9/2025) waktu Korsel. Seoul berunding dengan Washington supaya para pekerja yang ditahan itu bisa pulang ke Korsel atas dasar sukarela.
Alasannya karena jika mereka statusnya dideportasi oleh AS, di masa depan akan sulit untuk mendapat visa AS lagi. Padahal, orang-orang itu adalah pakar yang diperlukan Hyundai-LG untuk mengembangkan pabrik di AS.
Ini hasil yang positif dari perundingan Seoul-Washington. Awalnya, Pemerintah AS hanya memberikan dua pilihan. Pertama, dideportasi dan dilarang ke AS selama lima tahun. Pilihan kedua ialah tidak dideportasi, tetapi tetap ditahan dan harus diadili. ”Setidaknya, kami memastikan warga kita selama ditahan tidak mengalami kekerasan,” kata Kemenlu Korsel.
Melansir majalah Rolling Stone, razia ICE di pabrik itu berasal dari aduan Tori Branum. Politisi Partai Republik itu sedang berusaha menjadi anggota DPRD Georgia lewat pemilu 2026. ”Saya senang bisa menegakkan aturan,” kata Branum.
Megapabrik Hyundai-LG di Ellabell itu direcanakan mulai beroperasi tahun depan. Kini, pabrik sedang dalam proses penyelesaian pembangunan.
Politisi Partai Republik yang jadi Gubernur Georgia, Brian Kemp, membanggakan pabrik itu. Ia menyebutnya mesin pemaju negara bagian dan menciptakan ribuan lapangan pekerjaan untuk warga lokal.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/05/2f8f5e22-052e-43f0-a601-c4429d3e6446_jpeg.jpg)
Menurut Branum, ia mendengar bisik-bisik yang mengatakan, di megapabrik itu ada banyak pekerja yang sejatinya adalah imigran ilegal. Selain itu, juga ada gosip bahwa tiga pekerja tewas ketika membangun pabrik tersebut.
Branum lalu bertanya kepada salah seorang warga AS yang bekerja di pabrik itu. Pekerja tersebut mengatakan, memang di pabrik ada banyak orang dari Korsel.
Namun, mereka umumnya memegang visa H1-B. Visa itu mengizinkan perusahaan di AS mempekerjakan tenaga asing dengan pendidikan serta keterampilan khusus dalam jangka waktu terbatas.
Sumber Branum mengatakan, ada pula pekerja-pekerja yang status keimigrasiannya tidak jelas berdasarkan pengetahuan dia. Hanya mengandalkan informasi itu, Branum mengontak ICE dan lembaga itu mengatakan akan menindaklanjutinya. Tidak lama kemudian, razia itu terjadi.
Sejumlah pekerja Korsel di megapabrik Hyundai-LG memang memegang visa H1-B. Akan tetapi, mayoritas ternyata berstatus abu-abu.
Hal ini mengacu dari jenis visa yang mereka pegang, yaitu ESTA. Ini visa elektronik yang bisa diakses oleh warga Korsel ketika memasuki wilayah AS. Masa berlaku ESTA 90 hari. Visa jenis ini biasa dipakai untuk jalan-jalan, mengunjungi kerabat, dan keperluan dinas. Biasanya, perjalanan dinas yang dimaksud berupa seminar, rapat, dan kunjungan perusahaan.
”Namun, ESTA ini memiliki celah karena sebenarnya tidak ada definisi yang jelas mengenai perjalanan dinas dan batasan-batasan pekerjaan yang boleh dilakukan selama dinas,” kata Jung Man-suk, pengacara imigrasi dari Firma Daeyang kepada surat kabar Joong Ang Daily.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/08/dc00aa3a-a615-433c-ab39-a00c5d41b46e_jpg.jpg)
Semestinya, profesional asing yang akan bekerja di perusahaan yang berada di AS masuk dengan visa H1-B, L-1, E-2, atau B-1 yang tergantung lama dan jenis pekerjaan. Akan tetapi, melamar dan mengantre visa-visa tersebut lama, bisa menghabiskan 100 hari.
Menurut pengakuan perusahaan-perusahaan Korsel yang beroperasi di AS, mereka selalu memerlukan teknisi dari Korsel untuk membangun sistem. Terutama ketika pabrik baru dibuka, setidaknya untuk beberapa tahun pertama.
Mereka harus mendatangkan teknisi dari Korsel secara cepat sehingga menggunakan celah ESTA tersebut. Para profesional itu tidak berada di AS untuk selamanya. Mereka akan pulang ke Korsel ketika sistem di pabrik sudah dibangun dan tidak bermasalah.
Oleh sebab itu, Pemerintah Korsel berusaha melobi AS untuk mengeluarkan visa khusus profesional jenis E-4 sebanyak 15.000 lembar per tahun. Visa E-4 ini sudah diterapkan untuk Australia sebanyak 10.500 lembar per tahun, Singapura (5.400), dan Chile (1.400).
Razia itu merupakan pukulan telak bagi Hyundai-LG. Apalagi, Hyundai selama 20 tahun terakhir mengucurkan miliaran dollar AS untuk berinvestasi di negara-negara bagian di selatan. Pada Agustus 2025 saja, Hyundai mengucurkan 26 miliar dollar AS untuk dua pabrik di Georgia.
Trump mencuit di pelantar Truth Social. Ia meminta agar perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di AS melatih para pekerja lokal supaya terampil. Perusahaan asing diharapkan mematuhi Undang-Undang Imigrasi.
”Kami menghargai investasi Anda dan kami mengharapkan Anda mendatangkan orang-orang sangat pintar secara legal untuk membantu membangun kompetensi pekerja AS supaya bisa menghasilkan produk kelas dunia. Kalau demikian, kami akan mengupayakan semua izin dikeluarkan secepatnya,” cuit Trump. (AFP/Reuters)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Retma Wati