Korut  Didesak Tarik Pasukan dari Ukraina

AS dan Korsel mendesak Korut tarik ribuan personel militernya dari Ukraina. Pengiriman pasukan bisa memanaskan Semenanjung Korea.

31 Okt 2024 14:37 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad - [email protected]

WASHINGTON, KAMIS — Korea Selatan dan Amerika Serikat mendesak Korea Utara menarik ribuan tentaranya yang bertempur bersama Rusia di Ukraina. Korsel meyakini pengerahan pasukan memberi Korut suntikan keyakinan atas postur militernya dan meningkatkan ancaman keamanan di Semenanjung Korea.

Salah satunya tampak pada Kamis (31/10/2024), Korut menguji coba rudal balistik antarbenua (ICBM). Rudal itu dirancang untuk bisa mencapai daratan AS.

Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin bersama Menhan Korsel Kim Yong-hyun bertemu di Pentagon membahas pengerahan pasukan Korut di Rusia, Rabu. ”Saya menyerukan pada mereka (Pemerintah Korut) untuk menarik pasukannya dari Rusia,” kata Austin seusai Pertemuan Konsultatif Keamanan (SCM) kedua negara.

Austin mengatakan, AS dan sekutu-sekutunya di kawasan akan berupaya keras mencegah Rusia menggunakan pasukan kiriman Korut di medan tempur. Pasukan itu telah dilengkapi persenjataan dan mengenakan seragam militer Rusia.

Pekan lalu, Badan Intelijen Korea Selatan (NIS) mengungkap, Korut telah mengirimkan lagi 1.500 personel militernya ke Rusia untuk berperang di Ukraina. Total sebanyak 3.000 prajurit telah dikirim Korut ke Rusia. Menurut laporan NIS, diperkirakan Pemimpin Tertinggi Korut Kim Jong Un akan mengirimkan 10.000 personel militernya untuk bertempur bersama pasukan Rusia di Ukraina hingga Desember 2024 (Kompas.id, 23 Oktober 2024).

Pentagon mengungkapkan, sejumlah kecil pasukan Korut telah dikerahkan di wilayah Kursk, Rusia. Di situ pasukan Ukraina melancarkan serangan darat sejak Agustus.

Menhan Kim meyakini, pengerahan personel militer Korut ke Ukraina untuk membantu Rusia akan berlanjut dengan transfer teknologi persenjatan Rusia. Teknologi itu digunakan untuk membantu program pengembangan senjatanya, termasuk senjata nuklir taktis, ICBM, dan satelit mata-mata.

Quote

Saya menyerukan pada mereka (Pemerintah Korut) untuk menarik pasukannya dari Rusia.

Korsel memiliki opsi untuk mengirimkan persenjataan ke Ukraina sebagai reaksi atas pengerahan tentara Korut ke Rusia. Bentuknya bisa bantuan atau penjualan. Kim tidak secara tegas menjelaskan hal ini. Sudah ada permintaan dari Washington dan Kyiv agar Seoul mempertimbangkan kembali, terutama untuk mengubah kebijakan yang tidak mengizinkan penjualan senjata ke daerah konflik.

Menteri Pertahanan Korea Selatan Kim Yong Hyun saat konferensi pers usai bertemu dengan Menhan Amerika Serikat Lloyd Austin di Pentagon, Washington DC, AS, Rabu (30/10/2024). AS dan Korsel mendesak Korea Utara menarik pasukannya yang dikirim ke Ukraina untuk bertempur bagi Rusia.

”Saat ini belum ada yang pasti,” kata Kim ketika ditanya apakah ada rencana Korsel untuk secara tidak langsung memasok amunisi ke Ukraina.

Austin mengingatkan kembali bahwa pasukan Korut di Ukraina akan menjadi target militer yang sah. ”Jika pasukan Korut bertempur bersama tentara Rusia dalam konflik ini dan menyerang tentara Ukraina, tentara Ukraina memiliki hak untuk membela diri,” kata Austin. ”Mereka (pasukan Rusia dan Korut) akan menjadi rekan seperjuangan, dan Anda memiliki banyak alasan untuk percaya mereka akan terbunuh dan terluka akibat pertempuran,” tambahnya.

Berbicara di hadapan Dewan Keamanan PBB, utusan AS, Robert Wood, memberikan peringatan lebih gamblang. Dia mengatakan, jika pasukan Korut memasuki Ukraina untuk mendukung Rusia, mereka pasti akan kembali dalam kantong jenazah.

”Saya akan menyarankan Ketua Kim (Kim Jong Un) untuk berpikir dua kali sebelum terlibat dalam perilaku yang sembrono dan berbahaya seperti itu,” tambahnya.

Pyongyang membantah telah mengirim pasukan ke Rusia. Akan tetapi, Wakil Menteri Luar Negeri Korut mengatakan, jika pengerahan pasukan tersebut terjadi, itu sejalan dengan norma-norma global.

Uji coba ICBM

Terkait uji coba ICBM Korut pada Kamis, tidak segera diketahui secara spesifik kemampuan rudal jarak jauh tersebut. Akan tetapi, diduga uji coba ini dilakukan untuk menarik perhatian Gedung Putih jelang pemilihan presiden pekan depan.

Kepala Staf Gabungan Korea Selatan dalam pernyataan menyebutkan, rudal itu terdeteksi meluncur dari wilayah Pyongyang sekitar pukul 07.10 waktu setempat. Disebutkan, rudal meluncur pada sudut yang tinggi dan diduga sebagai rudal balistik jarak jauh.

Seorang pria melihat ke layar televisi yang menayangkan berita tentang uji coba rudal balistik antarbenua (ICBM) Korea Utara di sebuah stasiun kereta di Seoul, Korea Selatan, Kamis (31/10/2024).

Jika benar, ini uji coba ICBM pertama Korut sejak Desember 2023. Saat itu, Pyongyang meluncurkan ICBM Hwasong-18 berbahan bakar padat. Rudal dengan propelan padat bawaan lebih mudah dipindahkan dan disembunyikan, serta dapat diluncurkan lebih cepat daripada senjata berbahan bakar cair.

Sehari sebelumnya, NIS memberikan informasi pada parlemen Korsel bahwa Korut bersiap menggelar uji coba rudal jarak jauh yang mampu mencapai Amerika Serikat. Laporan itu juga menyebut potensi Korut menyelesaikan persiapan uji coba ketujuh kemampuan nuklirnya.

Semua uji ICBM Korut dalam beberapa tahun terakhir dilakukan pada sudut tinggi untuk menghindari potensi jatuh di teritori negara tetangga. Pejabat pemerintah dan pakar persenjataan sebelumnya memperkirakan Korut mungkin akan menguji coba peluncuran ICBM pada sudut normal untuk memverifikasi apakah hulu ledak senjata tersebut akan bertahan dalam kondisi sulit saat memasuki atmosfer. Hal itu dianggap sebagai salah satu rintangan teknologi yang tersisa dan perlu diatasi Korut untuk memperoleh ICBM bertenaga nuklir yang benar-benar berfungsi dan teruji.

Ada pula spekulasi Korut mungkin segera menguji ICBM baru. Pada September, media Pemerintah Korut menerbitkan foto Kim Jong Un tengah memeriksa sesuatu yang tampak seperti kendaraan peluncur rudal 12 poros, platform peluncuran bergerak terbesar yang telah diungkapkan Korut sejauh ini. Para pengamat mengatakan, Korut mungkin sedang mengembangkan ICBM baru yang lebih besar dari yang sudah ada.

Sejumlah analis persenjataan dan intelijen menilai, teknologi rudal Korut mengalami kemajuan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Akan tetapi, mereka percaya negara itu belum memperoleh rudal bersenjata nuklir yang berfungsi dan dapat menyerang daratan AS. Kemampuan penggunaan senjata nuklir Korut sebatas ditujukan untuk sejumlah negara tetangga, terutama Korsel. (AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W