Meski ada yang kecewa, kemenangan kotak kosong wajib dihormati. Pasalnya, rakyat punya hak untuk memilih lepas dari belenggu hegemoni elite politik.
28 Nov 2024 07:11 WIB · Politik & Hukum
Dari perhitungan yang dilakukan relawan, kotak kosong unggul atas pasangan calon tunggal di Pilkada Kota Pangkal Pinang dan Pilkada Kabupaten Bangka dari total tiga pilkada dengan pasangan calon tunggal di Provinsi Bangka Belitung. Fenomena itu dianggap sebagai bentuk perlawanan masyarakat terhadap hegemoni elite politik.
Ketua Pemuda Pangkal Pinang Bersuara Tomi Permana saat dihubungi dari Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (27/11/2024), mengatakan, data penghitungan suara mencapai 100 persen per pukul 21.30 WIB. Hasilnya, kotak kosong meraih kemenangan dengan persentase 55,9 persen dari total 87.081 suara masuk, sedangkan pasangan calon wali kota-wakil wali kota tunggal, Maulan Aklil-Masagus M Hakim, meraih 40,5 persen suara. Suara tidak sah 3,6 persen.
Kotak kosong menang di sekitar 70 persen tempat pemungutan suara (TPS) dari total 311 TPS di seluruh Pangkal Pinang. Adapun tingkat partisipasi pemilih hanya sekitar 53 persen dari total jumlah daftar pemilih tetap (DPT) Pangkal Pinang yang mencapai 164.330 pemilih.
Bagi Tomi ataupun para anggota Pemuda Pangkal Pinang Bersuara, kemenangan kotak kosong adalah bentuk nyata bahwa masyarakat tidak bisa lagi dibodoh-bodohi oleh para elite politik ataupun partai politik yang membentuk koalisi besar dalam Pilkada Pangkal Pinang kali ini. Masyarakat ingin perubahan setelah tidak ada dampak nyata selama Maulan Aklil menjabat sebagai Wali Kota Pangkal Pinang 2018-2023.
”Kemenangan kotak kosong adalah kemenangan rakyat. Hasil ini menunjukkan bahwa rakyat ingin menentukan pilihannya sendiri, bukan oleh elite politik atau partai politik. Sebab, dalam Pilkada kali ini, rakyat melawan pasangan calon tunggal yang didukung semua partai politik yang ada. Seandainya pasangan calon tunggal menjadi kepala daerah, pasti yang didahulukan mengakomodasi kepentingan para partai politik yang mendukungnya,” ujar Tomi.
Tomi menuturkan, Pemuda Pangkal Pinang Bersuara adalah tempat bernaung 792 relawan yang muak dengan hegemoni elite politik. Mereka bersama 97 kelompok lainnya berada dalam rumah besar, Rumah Aspirasi Kotak Kosong yang menggaungkan gerakan kotak kosong sejak Agustus atau bertepatan saat masa pendaftaran calon peserta Pilkada Pangkal Pinang.
Ratusan hingga ribuan relawan yang tergabung dalam gerakan itu berasal dari beragam latar belakang, mulai dari mahasiswa, pengusaha, hingga pekerja. Rentang usia mereka mulai dari yang termuda berusia 19 tahun hingga tertua mencapai 65 tahun. Semua relawan itu tidak terafiliasi dengan partai politik ataupun bakal calon peserta pilkada yang kecewa.
Mereka semua bergabung dalam gerakan tanpa mendapatkan uang sepeser pun, mulai dari sebelum, saat pemungutan suara, hingga nanti penetapan hasil pilkada. Saat pemungutan suara, mereka turun menjadi saksi sebanyak 311 orang, koordinator pengawas tingkat kelurahan 42 orang, dan koordinator tingkat kecamatan 12 orang.
”Selama gerakan ini muncul, kami aktif mencegah terjadinya upaya-upaya kecurangan, seperti politik uang. Bahkan, kami membuat Satgas Antipolitik Uang. Saya pribadi membuat sayembara tangkap pelaku politik uang dengan hadiah Rp 50 juta bagi yang berhasil menangkapnya,” ucap Tomi yang merangkap sebagai Bendahara Rumah Aspirasi Kotak Kosong.
Kemenangan kotak kosong adalah kemenangan rakyat. Hasil ini menunjukkan bahwa rakyat ingin menentukan pilihannya sendiri, bukan oleh elite politik atau partai politik.
Menurut Tomi, alasan utama para relawan menyuarakan gerakan itu karena kekecewaan terhadap sekumpulan partai politik yang berusaha membangun dominasi besar. Hegemoni para partai politik itu telah membegal semangat demokrasi di Pangkal Pinang sehingga calon-calon lain tidak bisa mendaftar.
”Padahal, ada tiga pasangan bakal calon peserta Pilkada Pangkal Pinang sebelum mengerucut jadi pasangan calon tunggal,” ungkapnya.
Pada perjalanannya, lanjut Tomi, gerakan kotak kosong mendapatkan banyak hambatan. Tomi sempat diikuti pengendara sepeda motor yang membawa tongkat golf yang dianggap ingin melakukan intimidasi. Puncaknya, kaca jendela Posko Rumah Aspirasi Kotak Kosong pecah karena dilempari batu oleh orang tidak dikenal (OTK) dua-tiga hari sebelum masa tenang.
”Dari batu yang dilempar itu, terselip kertas ancaman pembunuhan terhadap anggota gerakan kami,” katanya.
Tidak berhenti sampai di sana, gerakan kotak kosong coba dihambat oleh penyelenggara pilkada. Terbukti, akreditasi sejumlah saksi dari gerakan itu ditunda sertifikasinya hingga H-1 pemungutan suara. Kini, seusai pemungutan suara, ada dugaan upaya mengintervensi pengawas pilkada agar dilakukan pemungutan suara ulang (PSU).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/27/3b4d4fb2-abb3-4a21-a411-dbf6cf5c6863_jpg.jpg)
”Saat ini, kami merapatkan barisan untuk terus mengawal proses pendataan suara, mulai dari TPS, kelurahan, kecamatan, hingga nanti digeser ke KPU. Kami juga terus mengawasi tempat-tempat yang mungkin akan mengalami intimidasi agar terjadi PSU, seperti di Kantor Bawaslu dan Kantor Panwascam,” kata Tomi.
Kemenangan kotak kosong bukan hanya terjadi di Pangkal Pinang, melainkan menular juga ke Bangka. Pengamat politik Bangka yang tidak ingin disebutkan nama karena alasan keamanan mengatakan, dari penghitungan suara yang mencapai 85 persen per pukul 21.15, kotak kosong meraih kemenangan dengan persentase 56-57 persen.
Kotak kosong menang atas pasangan calon bupati-wakil bupati tunggal, Mulkan-Ramadian. Kotak kosong menang di hampir semua TPS dari total 455 TPS di seluruh Bangka. Adapun tingkat partisipasi pemilih hanya sekitar 40 persen dari total DPT Bangka yang mencapai 237.930 pemilih.
Hasil itu dianggap sebagai fenomena yang sangat unik. Pasalnya, tidak ada gerakan kotak kosong yang nyata dilakukan di Bangka. Sebaliknya, pasangan calon tunggal sudah merangkul semua elemen masyarakat di Bangka, mulai dari semua partai politik, organisasi kemasyarakatan ataupun lembaga swadaya masyarakat (LSM), hingga kelompok pemuda. Selain itu, Mulkan yang merupakan Bupati Bangka 2018-2023 masih memiliki pengaruh besar.
”Kemungkinan, fenomena unik ini terjadi karena pasangan calon tunggal terlalu nyaman dengan kekuatan yang mereka miliki. Terbukti, sebelum pemungutan suara, tidak ada kegiatan kampanye yang masif untuk memengaruhi masyarakat di sini. Mereka berpikir sudah pasti menang. Di sisi lain, boleh jadi masyarakat telah terpapar gerakan kotak kosong yang masif dilakukan di Pangkal Pinang. Lagi pula, wilayah Bangka dan Pangkal Pinang saling berbatasan langsung,” ujar pengamat politik Bangka.
Terlepas dari itu, kemenangan kotak kosong di Bangka dianggap sebagai bentuk nyata ekspresi kejenuhan masyarakat atas hegemoni elite politik atau partai politik. Masyarakat ingin membuktikan bahwa mereka punya kekuatan untuk menentukan nasib ataupun pemimpinnya. ”Kami kaget ternyata kotak kosong bisa mendominasi pilkada di Bangka. Mungkin, inilah suara nurani sesungguhnya dari masyarakat yang sudah muak dengan hegemoni para elite politik,” kata pengamat politik tersebut.
Selain di Pangkal Pinang dan Bangka, pasangan calon tunggal juga terjadi pada Pilkada Bangka Selatan. Satu-satunya kontestan itu adalah Bupati-Wakil Bupati Bangka Selatan petahana, Riza Herdavid-Debby Vita Dewi. Namun, mereka bisa unggul atas kotak kosong.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Bangka Belitung Komisaris Besar Fauzan Sukmawansyah menyampaikan, kemenangan kotak kosong adalah fenomena demokrasi dan semua pihak harus menghormati. ”Meski belum final hingga penetapan hasil oleh KPU, kita harus menghargai fenomena demokrasi yang sedang terjadi. Itulah yang diinginkan oleh rakyat,” tuturnya.
Terkait fenomena itu, Fauzan tidak menafikan bahwa ada pihak yang bereuforia dan ada pihak yang kecewa. Kendati demikian, secara umum, kondisi keamanan masih kondusif dan akan terus dikawal kondusif hingga semua tahapan Pilkada tuntas.
”Kami percaya masyarakat Bangka Belitung sudah cerdas dalam menghormati apa pun hasil pilkada. Apalagi situasi ekonomi Bangka Belitung sedang begini (kurang baik karena efek kasus korupsi timah). Kalau ada ribut-ribut, masyarakat yang akan semakin dirugikan,” ujarnya.
Fauzan mengatakan, per pukul 20.30, kondisi keamanan Bangka Belitung tetap aman terkendali. Saat ini, kepolisian fokus melakukan pengamanan pergeseran logistik hasil perhitungan suara dari TPS ke kelurahan. Praktis hanya sedikit logistik yang belum sampai ke kelurahan, antara lain dari TPS di dua pulau di Kabupaten Belitung karena masalah jarak akses transportasi laut dan ada kendala cuaca sehingga ditargetkan sampai ke kelurahan, Kamis (28/11/2024) antara pukul 03.00 dan pukul 07.00.
Dalam sisa masa tahapan Pilkada, meliputi rekapitulasi suara di kelurahan dan kecamatan hingga penetapan hasil oleh KPU, kepolisian akan terus melakukan pengamanan agar semua tahapan berjalan aman dan lancar.
”Salah satu yang paling kami antisipasi adalah penyebaran berita hoaks oleh oknum provokator yang ingin memengaruhi hasil penghitungan ataupun rekapitulasi suara, terutama oleh pihak-pihak yang merasa dirugikan (kalah),” ujar Fauzan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/27/e333ed7a-a7fe-46a1-8906-7921f14cb993_jpg.jpg)
Walaupun mengecewakan untuk sebagian pihak, terlebih pasangan calon tunggal, kemenangan kotak kosong di Pangkal Pinang dan Bangka wajib dihormati. Dalam pesta demokrasi, masyarakat punya hak menentukan nasibnya, termasuk lepas dari belenggu hegemoni elite politik.
Penulis:
Adrian FajriansyahEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari