KPK-Komika Pandji Hadirkan ”Mens Rea”, Mampukah Menggugah Kesadaran Antikorupsi?

KPK berkolaborasi dengan komika Pandji Pragiwaksono dalam pertunjukan komedi tunggal ”Mens Rea”. KPK berharap ada kesadaran yang lahir dari sindiran dan gelak tawa.

25 Agt 2025 19:39 WIB · Politik & Hukum

Oleh Willy Medi Christian Nababan

Suasana berbeda tampak di ruang konferensi pers di Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi, Senin (25/8/2025) sore. Jika biasanya ruangan digunakan untuk mengumumkan para tersangka KPK yang sudah mengenakan rompi oranye, tetapi kini muncul komika Pandji Pragiwaksono. Didampingi salah satu pejabat di KPK, ia memaparkan rencana pertunjukan komedi tunggal yang di dalamnya membawa pesan terkait pemberantasan korupsi.

Pertunjukan komedi tunggal yang mengangkat tema ”Mens Rea” tersebut bakal digelar selama sekitar 2 jam, di Indonesia Arena, Jakarta, Sabtu (30/8/2025). Pandji menargetkan pertunjukannya itu akan disaksikan oleh 10.000 penonton.

”Mens Rea” yang berarti niat jahat telah disiapkan Pandji sejak setahun lalu. Setumpuk materi kocak di dalamnya akan mengangkat soal isu-isu sosial-politik terkini, termasuk banyak materi seputar korupsi dan semangat anti-korupsi. Ia pun mengaku tak gentar membicarakan isu-isu yang sensitif karena ia tak punya niat jahat.

”Kalaupun nanti ada intel, saya, sih, yakin intelnya juga pas datang (mereka akan berpikir) ’lucu nih Panji’,” kelakarnya, menunjukkan keyakinan pada materi komedinya yang bakal berdurasi hampir 2 jam itu.

Komika Pandji Pragiwaksono dan Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK Amir Arief saat konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Senin (25/8/2025).

Lebih dari sekadar kata-kata di panggung, spirit ”Biasakan yang Benar, Jangan Benarkan yang Biasa” yang menjadi jargon KPK untuk membangun budaya antikorupsi bakal diterjemahkan Pandji menjadi sebuah eksperimen sosial bagi penontonnya.

Ia menjelaskan telah merancang sistem pengambilan nomor kursi yang menguji integritas. Penonton yang datang awal bisa menandai kursinya, lalu bebas beraktivitas di luar arena dengan modal kepercayaan bahwa kursinya tak akan diserobot orang lain.

Semangat antikorupsi dalam ”Mens Rea” itulah yang kemudian mendorong KPK untuk berkolaborasi dengan Pandji. Dorongan kolaborasi juga dipantik oleh rekam jejak Pandji yang kerap menyuarakan kritik, dan adanya ”frekuensi” yang sama pada pentingnya pemberantasan korupsi.

Suasana produksi acara Stand Up Comedy Indonesia season 6 di Balai Sarbini, Jakarta, Rabu (20/4). Kompas/Riza Fathoni (RZF) 20-04-2016 utk Kehidupan Koming

Selain itu, menurut Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK Amir Arief, pihaknya melihat panggung komedi bisa menjadi medium populer yang efektif untuk menyebarkan pesan ”Biasakan yang Benar, Jangan Benarkan yang Biasa”.

”Kami menitipkan pesan saat show ’Mens Rea’, kami berharap Mas Pandji memasukkan pesan itu dalam beat-beat komedinya,” kata Amir.

KPK juga menempatkan kolaborasi ini sebagai bagian penting dari strategi pemberantasan korupsi yang lebih besar. Pendekatan budaya ditekankannya sebagai pilar pendidikan yang berjalan beriringan dengan pilar pencegahan melalui perbaikan sistem dan penindakan yang tegas.

Petugas menunjukkan barang bukti uang tunai hasil operasi tangkap tangan terhadap Direktur Utama PT Inhutani V Dicky Yuana Rady, Staf Perizinan PT Sungai Budi Group Aditya dan Direktur Paramitra Mulia Langgeng Djunaidi yang ditetapkan tersangka dalam kasus dugaan suap pengelolaan kawasan hutan oleh Komisi Pemberntasan Korupsi (KPK) di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (14/8/2025). Penetapan tersangka dilakukan setelah KPK melakukan operasi tangkap tangan di kantor Inhutani V Jakarta terkait kasus dugaan suap pengelolaan kawasan hutan di Lampung dangan kerugian negara sebesar Rp 30 miliar per tahun serta berpotensi menghilangkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) hingga Rp 15, 9 triliun per tahun. Kompas/Hendra A Setyawan (HAS)

Target dari pilar pendidikan tersebut, menurut Amir, bukanlah perubahan perilaku secara instan. KPK berharap sindiran dan punchline komedi Pandji bisa membuat penonton ”terhenyak sedikit” atau ”tersindir sedikit” hingga memantik kesadaran baru.

”Kita tahu bahwa kesadaran antikorupsi bisa saja terpantik. Nah, henyakan-henyakan itu, rasa itu yang kami harapkan menjadi titik kesadaran integritas,” papar Amir.

Meski berkolaborasi, KPK tampaknya sadar betul akan pentingnya menjaga kebebasan ekspresi sang komika. Karena itu, tidak akan ada intervensi atau batasan materi dari KPK. Hal ini pun dibenarkan oleh Pandji. ”Tidak,” ucapnya singkat.

”Mens Rea” menjanjikan tawa, tetapi juga sindiran yang menohok. Akankah kita hanya tertawa, atau juga mulai berubah?


Kerabat Kerja

Penulis:

Willy Medi Christian Nababan
 | 

Editor:

A. Ponco Anggoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto