Turki yang dipimpin gelandang kreatif Arda Guler akan menemui ujian pertama dari pertahanan solid Australia. Kembalinya Turki sangat dinanti setelah hilang 24 tahun.
13 Jun 2026 06:55 WIB · Olahraga
AFP
VANCOUVER, JUMAT — Turki kembali ke Piala Dunia dengan generasi emas baru yang diisi deretan gelandang kreatif bertalenta. Walaupun kerap bermain sangat kreatif, Turki patut waspada dalam laga pembuka karena sudah dinanti Australia yang terkenal punya pertahanan kokoh.
Setelah menanti 24 tahun, Turki akhirnya bermain lagi di Piala Dunia. Mereka sudah melupakan era emas di 2002 yang diisi para pemain legendaris, seperti Hasan Sas dan Hakan Sukur. ”Si Bintang Bulan Sabit” kini datang dengan generasi baru yang dipimpin bintang muda Real Madrid, Arda Guler.
”Dia punya talenta, intuisi, kemampuan membaca laga, tahu cara memperlambat dan mempercepat permainan, serta bisa mencetak gol. Dia mampu bermain di level tinggi, mengatasi tekanan besar. Wajahnya polos, tetapi dia sangat pintar,” kata Pelatih Turki Vincenzo Montella soal Guler.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/31/2515dabec92cdbca7513afc6807b61b7-1000004497.jpg)
Kembalinya Turki ke panggung terbesar akan ditandai dengan laga Grup D versus Australia di Stadion BC Place, Vancouver, Kanada, Minggu (14/6/2026) pukul 11.00 WIB. Tim asuhan Montella membawa kepercayaan diri tinggi setelah penampilan impresif dalam kualifikasi zona Eropa.
Turki datang untuk menunjukkan potensi besar kekuatan serangan mereka. Selain Guler, lini tengah mereka juga diperkuat gelandang yang tidak kalah kreatif, yaitu Hakan Calhanoglu dan Orkan Kokcu. Kreativitas mereka seperti sumber mata air, tidak ada habisnya.
Turki berhasil mencetak 19 gol dari delapan laga kualifikasi. Sebanyak 12 asis atau 63 persen untuk gol-gol itu disumbangkan trio Guler, Calhanoglu, dan Kokcu. Aliran kreativitas tersebut yang diharapkan akan kembali hadir di Vancouver, sebab itu adalah kekuatan terbesar mereka.
Sosok Montella sebenarnya cukup untuk mewakili identitas permainan Turki. Sang pelatih merupakan salah satu mantan penyerang paling tajam dalam sejarah sepak bola Italia. Montella membawa visi bermain ofensif sekaligus pengalaman bermain di Piala Dunia yang tidak dimiliki para pemainnya.
Menariknya, Australia hadir dengan filosofi permainan berbanding terbalik. Pelatih mereka adalah Tony Popovic, mantan bek tangguh yang pernah bermain di klub Inggris, Crystal Palace. Wajar jika ”Socceroos” terkenal dengan filosofi pragmatis dan menggunakan formasi defensif 5-4-1.
Keunggulan terbesar Australia terletak di area defensif, khususnya dalam hal postur dan kekuatan fisik. Trio bek tengah mereka dipimpin Harry Souttar yang berstatus pemain Leicester City. Lima bek sejajar mereka dilindungi duo gelandang jangkar kokoh, yaitu Jackson Irvine dan Aiden O’Neill.
Di bawah mistar, Australia memiliki penjaga gawang veteran Matthew Ryan yang sudah malang-melintang bermain di liga-liga terbaik Eropa. Sang kapten tim sudah 104 kali membela negaranya, termasuk tampil dalam tiga edisi Piala Dunia terakhir.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/13/f9d209cdb3835f7974d2bd571923c6f1-20260613_GKT_Australia_Turki_mumed.jpg)
Australia bisa lolos ke Piala Dunia kali ini berkat prinsip defensif ala Popovic. Sejak mengambil alih kursi pelatih Graham Potter pada September 2024, Popovic sukses membawa Australia tidak terkalahkan dalam delapan laga kualifikasi zona Asia. Mereka hanya kemasukan enam gol dari seluruh laga itu.
Walaupun lebih sering tampil di Piala Dunia dalam dua dekade terakhir, Australia tidak akan terlalu unggul dari sisi pengalaman. Mereka sedang berada dalam fase regenerasi. Popovic berpotensi memainkan 17 debutan dalam laga nanti, salah satunya penyerang debutan Nestory Irankunda.
Pemain bertahan Australia, Milos Degenek, berkata, Turki tetap akan mendapatkan tekanan lebih berat. ”Mereka sudah tidak bermain di Piala Dunia sejak 2002. Akan ada harapan dan juga tekanan besar kepada mereka. Kami sudah siap,” ujar bek yang tampil di Qatar 2022 dan Rusia 2018 itu.
Kelemahan utama Turki ada di lini belakang. Pertahanan mereka sering tidak siap ketika menghadapi transisi serangan balik. Itu yang membuat mereka sempat dihukum Spanyol dalam kekalahan enam gol tanpa balas di kualifikasi. Adapun Australia pasti akan lebih banyak mengandalkan transisi.
Sementara itu, Australia selalu kesulitan menciptakan peluang dari permainan terbuka. Mereka terlalu bergantung pada bola mati. Di kualifikasi, hanya Qatar (11) yang lebih banyak mencetak gol dari tendangan sudut dan tendangan bebas tidak langsung dibandingkan dengan Australia (8).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/30/8f0e4532-84c8-43f9-86e8-768b1eaf8cd4_jpg.jpg)
Isu kebugaran turut menghantui Turki. Penyerang sayap dari klub Juventus, Kenan Yildiz, diragukan bisa tampil versus Australia. Yildiz masih dalam pemulihan cedera dan berlatih terpisah dari skuad utama. Padahal, Yildiz selalu mendapat posisi inti dalam semua laga kualifikasi Turki.
Tanpa Yildiz, beban terbesar berada di pundak Guler. Pemain 21 tahun itu akan memimpin Turki untuk kembali meraih status kuda hitam. Terakhir kali ikut serta di Piala Dunia, Turki sukses menyudahi turnamen sebagai peringkat ketiga.
”Jika ada tekanan, saya di sini untuk itu,” tegas Guler. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar