Imbas pelemahan ekonomi turut dirasakan oleh industri perbankan. Meski demikian, kinerja bank swasta masih mencatatkan tren positif.
31 Jul 2025 19:24 WIB · Ekonomi & Bisnis
JAKARTA, KOMPAS — Meski pertumbuhan kredit dalam tren melambat, bank-bank swasta tetap membukukan laba bersih yang tumbuh positif pada semester I-2025. Kondisi ini antara lain ditopang oleh efisiensi operasional serta pendapatan nonbunga di tengah tekanan profitabilitas.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, industri perbankan telah menyalurkan kredit pada Juni 2025 sebesar Rp 8.059,79 triliun atau tumbuh 7,77 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini terus melambat sejak awal tahun atau Januari 2025 yang sebesar 10,27 persen, bahkan terendah sejak Maret 2022. Pada tahun itu kredit hanya tumbuh 6,65 persen.
Sejalan dengan itu, penyaluran kredit oleh perbankan swasta, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BCA), PT Bank Danamon Indonesia Tbk, dan PT Bank Permata Tbk, pun cenderung tumbuh melambat. Kendati demikian, mereka masih mampu membukukan pertumbuhan laba yang positif selama semester I-2025.
Kepala Riset Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan berpendapat, salah satu faktor utama yang memengaruhi kinerja perbankan swasta tersebut adalah efisiensi dari sisi operasional. Selain itu, pendapatan nonbunga alias fee base income turut berkontribusi terhadap kinerja perbankan.
”Faktor penyebabnya lebih ke efisiensi operasional yang berjalan baik sehingga dapat mendorong pertumbuhan laba walau pertumbuhan kredit melambat. Di sisi lain, fee based income juga berkontribusi pada pertumbuhan laba bank,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Kamis (31/7/2025).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/24/57a2112dff28787cc76ff8fb5562a54e-Screenshot_2025_07_24_191957.png)
Berdasarkan laporan keuangannya, BCA mencatatkan pertumbuhan laba bersih dan entitas anak 8 persen secara tahunan menjadi Rp 29 triliun pada semester I-2025. Secara triwulanan, laba BCA juga tumbuh 5,1 persen pada triwulan II-2025 menjadi Rp 14,9 triliun.
Pencapaian itu ditopang pendapatan bunga dan pendapatan nonbunga. Pertumbuhan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) BCA tumbuh 7 persen secara tahunan menjadi Rp 42,5 triliun, sedangkan pendapatan selain bunga naik 10,6 persen secara tahunan menjadi Rp 13,7 triliun. NPL coverage adalah besarnya dana penyangga yang disiapkan oleh bank dibandingkan dengan total kredit bermasalah (NPL). Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan bank ketika menghadapi kredit bermasalah.
Apalagi, untuk kredit hingga akhir tahun ini, sepertinya akan melambat selama masih belum didukung pemulihan daya beli masyarakat.
Di sisi lain, Bank Danamon membukukan laba bersih konsolidasian pada semester I-2025 sebesar Rp 1,6 triliun atau tumbuh 12 persen secara tahunan. Dibandingkan dengan triwulan I-2025 yang sempat terkoreksi 9 persen, laba Bank Danamon berbalik tumbuh positif 16 persen menjadi Rp 877 miliar pada triwulan II-2025.
Capaian tersebut sejalan dengan terjaganya kualitas aset, yang tecermin dari berkurangnya rasio loan at risk sebesar 210 basis poin secara tahunan menjadi 9,9 persen. Lebih lanjut, rasio pencadangan kredit bermasalah (NPL coverage) Bank Danamon meningkat 16 persen poin secara tahunan menjadi 279,2 persen.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/18/5ccb9f91-d3cd-45c1-9327-c5a56ce6f5f6_jpg.jpg)
Sementara itu, Bank Permata mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 7,6 persen secara tahunan menjadi Rp 1,6 triliun. Tren positif ini terjadi setelah pada triwulan I-2025 laba bersih Bank Pertama sempat terkoreksi sebesar 2,64 persen secara tahunan menjadi Rp 788,97 miliar.
Menurut Trioksa, bank swasta perlu mewaspadai peningkatan beban pencadangan atau cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) guna terus menjaga momentum pertumbuhan. Apabila rasio CKPN semakin besar, laba perbankan akan semakin tergerus.
”Apalagi, untuk kredit hingga akhir tahun ini, sepertinya akan melambat selama masih belum didukung pemulihan daya beli masyarakat,” ujarnya.
Dengan kata lain, bank swasta akan cenderung kembali bergantung pada efisiensi operasional dan pendapatan nonbunga untuk menjaga kinerjanya. Langkah tersebut dilakukan mengingat kondisi saat ini yang belum memungkinkan untuk ekspansi kredit secara maksimal.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/31/ace84f6ed60ab1844705f1687dc7d2f5-20250731PRI3HR.jpg)
Dalam kesempatan lain, Ketua Perhimpunan Perbankan Nasional (Perbanas) Hery Gunardi mengatakan, industri perbankan nasional tengah menghadapi tantangan berupa perlambatan ekonomi. Ini sejalan dengan proyeksi lembaga internasional, seperti Bank Dunia, yang memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh melambat.
Dalam laporan Macro Poverty Outlook edisi April 2025, Bank Dunia merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia, dari 5,1 persen menjadi 4,7 persen untuk 2025. Rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan hanya akan berada di kisaran 4,8 persen hingga 2027.
”Kita juga melihat bahwa saat ini kita di Indonesia memasuki era pertumbuhan ekonomi dengan triwulan I-2025 kemarin sekitar 4,9 persen. Nah, ini memperkuat sinyal bahwa pemulihan ekonomi berjalan secara moderat. Belum cukup kuat untuk kembali ke masa-masa pertumbuhan tinggi, seperti tahun-tahun sebelumnya,” tuturnya dalam konferensi pers di Jakarta.
Di sisi lain, kinerja profitabilitas industri perbankan juga mulai menunjukkan sedikit tren pelemahan. Kondisi tersebut antara lain tampak dari turunnya rasio margin bunga bersih (net interest margin/NIM) dan return on assets (ROA), serta kenaikan beban operasional pendapatan operasional (BOPO).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/31/09903ee4feee7ad5e2a4ff3c6db490b9-WhatsApp_Image_2025_07_31_at_18.37.39.jpeg)
Hery menambahkan, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi industri perbankan nasional dalam menyalurkan kredit pada 2025, antara lain mulai melemahnya daya beli, standar kredit yang masih ketat, tingginya biaya dana, volatilitas bunga, kualitas aset yang menantang, serta disrupsi digital.
”Jadi, tahun 2025 ini strategi penyaluran kredit tidak cukup hanya ekspansi, tetapi juga selektif, adaptif, dan berbasis dengan teknologi, agar relevan dengan sustainability,” ujarnya.
Secara umum, Perbanas memproyeksikan pertumbuhan kredit oleh industri perbankan pada 2025 akan berkisar 7,7-9,7 persen secara tahunan, dengan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) 3,38-5,38 persen. Ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan dalam kisaran 4,7-4,9 persen.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/05/0e3b0c68-a37d-4c41-a085-d37c111caaab_png.png)
Sebelumnya, Presiden Direktur BCA Hendra Lembong mengatakan, pihaknya tidak merevisi atau tetap mempertahankan rencana bisnis bank (RBB) pada 2025. Dengan kata lain, BCA masih menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 6-8 persen, sesuai dengan guideline.
”Jadi kita tetap fokus memperkuat produk-produk dan layanan kita dan dengan ini kita harapkan servis makin baik untuk nasabah dan bisa mendapatkan lebih banyak lagi bisnis dari para nasabah kita,” katanya dalam konferensi pers Paparan Kinerja BCA Semester I-2025, secara virtual, Kamis (31/7/2025).
Secara keseluruhan, BCA dan entitas anak membukukan pertumbuhan kredit sebesar 12,9 persen secara tahunan menjadi Rp 959 triliun pada semester I-2025. Pertumbuhan positif ini terjadi di berbagai segmen, mulai dari korporasi; usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM); serta konsumer.
Selain itu, penyelenggaraan BCA Expoversary 2025 turut menopang kinerja pembiayaan pada paruh pertama 2025. Ke depan, BCA senantiasa akan tetap menyalurkan kredit secara pruden, dengan mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan disiplin dalam menerapkan manajemen risiko.
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
Budi SuwarnaPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto