Krisis iklim bukan sekadar masalah lingkungan. Krisis iklim telah memicu kerugian besar di berbagai bidang, mulai dari pertanian, kelautan, kesehatan, hingga budaya.
02 Okt 2025 07:36 WIB · Lingkungan
Krisis iklim bukan lagi ancaman masa depan. Bumi dan segala isinya sedang menghadapinya sekarang. Suhu meningkat, penyakit menular dengan cepat, pangan terancam, degradasi lingkungan, dan bencana terjadi di mana-mana. Saat krisis iklim masih dipandang sebelah mata, dampaknya justru telah mengintai di sekitar kita.
Masih banyak yang menganggap krisis iklim hanya masalah lingkungan. Padahal, isunya jauh lebih kompleks. Krisis iklim telah memicu kerugian di bidang perekonomian, kesehatan, pertanian, sosial, bahkan budaya. Sialnya, masyarakat di akar rumput sering kali menjadi pihak paling terdampak.
Agam Subarkah, Chief Executive Officer dan pendiri Cendekia Iklim, lembaga riset dan penasihat strategi perubahan iklim, mengatakan, dampak krisis dapat dirasakan setiap hari. Contoh paling mudah dirasakan adalah cuaca yang semakin panas. Intensitas bencana terkait iklim, seperti banjir dan longsor, meningkat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/01/019c6161bdf522bb85f2b76adb36b4e8-20251001TAM_01.jpeg)
Musim semakin tidak menentu. Petani kesulitan menentukan waktu menanam. Gagal panen bukan lagi kabar yang mengejutkan. Harga beras dan komoditas pangan lainnya melambung. Perekonomian rakyat kecil pun limbung.
”Krisis iklim sudah tidak terbendung. Ini sudah darurat dan dalam kondisi paling ujung,” ujarnya dalam ”Lokakarya IKLIM: Memperluas Narasi Iklim melalui Musik, Media, dan Budaya Pop”, di Jakarta, Rabu (1/10/2025).
IKLIM (The Indonesian Climate Communications, Arts & Music Lab) dibentuk pada awal 2023 sebagai inisiatif komunikasi iklim berbasis budaya. Melalui kolaborasi antara musisi, seniman, organisasi lingkungan, dan ahli iklim, inisiatif ini bertujuan mengangkat isu perubahan iklim ke ruang publik secara relevan, menyentuh, dan menggugah, khususnya bagi generasi muda.
Aktivitas manusia merupakan salah satu pemicu terbesar perubahan iklim. Ketergantungan terhadap sumber energi fosil, seperti batubara, minyak, dan gas, sangat tinggi. Pembakarannya melepaskan gas rumah kaca ke atmosfer. Selain itu, laju deforestasi tidak terbendung. Tutupan hutan terus menyusut akibat alih fungsi lahan.
Polusi udara di Jakarta dapat menyebabkan kehilangan 2,3 tahun angka harapan hidup.
Agam mengatakan, produksi batubara di Indonesia konsisten meningkat dalam lima tahun terakhir. Bahkan, tahun lalu, jumlahnya mencapai 836 juta ton. Jumlah itu naik signifikan dibandingkan 2020 dengan 563,7 juta ton.
Tingginya produksi batubara berdampak ke berbagai lini. Pencemaran udara dan air menurunkan kualitas kesehatan. Lingkungan rusak membuat satwa kehilangan habitatnya. Limbah pertambangan mencemari permukiman masyarakat. Saat sumber daya habis, galian bekas pertambangan dibiarkan menganga.
”Kasus ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) semakin sering terjadi pada anak-anak. Bahkan, meski sudah memakai masker, tetap kena. Ini menunjukkan dampak polusi udara sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari,” jelasnya.
Krisis iklim turut menyebabkan kerugian dan ketimpangan ekonomi. Agam menyebutkan, banjir di kawasan Jabodetabek, misalnya, dapat memengaruhi produk domestik bruto (PDB) sebesar 3,14 persen. Jika tidak ada perbaikan infrastruktur mitigasi banjir, perkiraan kerusakan perkotaan pada 2050 diperkirakan mencapai 2,5 miliar dollar AS.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/08/4ed5c80d226d168674d1df60a3026f4d-20250708PRI3HR.jpg)
”Kerugian ekonomi nasional akibat perubahan iklim pada sektor pertanian periode 2020-2024 diperkirakan mencapai Rp 77,9 triliun,” ujarnya.
Contoh ketimpangan dapat dilihat dari kondisi masyarakat di sekitar lokasi tambang. Menurut Agam, di saat produksi batubara meningkat, kesejahteraan warga di sekitarnya justru tidak terdongkrak.
”Akses kesehatan dan pendidikan terbatas. Mereka rawan terserang penyakit pernapasan, tetapi mau berobat ke rumah sakit malah susah,” katanya.
Climate Action Senior Lead di World Resources Institute (WRI) Indonesia Wira A Swadana mengatakan, potensi batubara di Tanah Air sangat melimpah. Tidak heran jika sumber energi primer di Indonesia didominasi oleh batubara sebesar 40 persen.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/11/24/3a8b3623-528a-4400-b563-3ffa50573590.jpg)
Namun, batubara mempunyai hubungan toksik dengan manusia dan lingkungan. ”Kita masih menggunakan batubara untuk kehidupan sehari-hari. Di saat bersamaan, pembakaran energi batubara menyebabkan polusi yang memicu masalah kesehatan,” ujarnya.
Wira menyebutkan, berdasarkan hasil riset, pada periode 2024 hingga berakhirnya masa operasi semua pembangkit listrik batubara akan mengakibatkan sekitar 303.000 kematian terkait polusi udara. Sementara kerugian biaya kesehatan mencapai 210 miliar dollar AS.
Dampaknya semakin berbahaya karena banyak pembangkit listrik beroperasi tidak jauh dari kota besar yang padat penduduk. Dalam radius 100 kilometer dari Jakarta, misalnya, terdapat lebih dari 20 pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara.
”Menurut AQLI (Air Quality Life Index), polusi udara di Jakarta dapat menyebabkan kehilangan 2,3 tahun angka harapan hidup,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/05/16/54e177e3-e294-4534-b18e-f8560156a808.jpg)
Jurnalis Pulitzer Center, Febrianti, menuturkan, masyarakat di pulau-pulau kecil sangat terdampak krisis iklim. Deforestasi membuat sumber air semakin menyusut. Bahkan, di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, warga harus menampung air hujan untuk keperluan minum.
Ekosistem pesisir dan laut ikut rusak. Gurita dan beberapa biota laut lainnya semakin langka. Hutan yang beralih fungsi membuat tanaman obat kian sulit dicari. Padahal, Mentawai dikenal dengan budaya sikerei yang merujuk pada sosok pemimpin ritual adat sekaligus tabib tradisional.
”Sikerei banyak yang mengeluh karena untuk mencari tanaman obat harus semakin jauh masuk ke hutan. Alih fungsi hutan tidak boleh terus diperluas,” jelasnya.
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Adhitya RamadhanPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan