Krisis Suriah dalam Sekilas

Krisis Suriah sebenarnya dapat ditelusuri sejak tahun 2011. Kejatuhan Presiden Bashar al-Assad tak dapat dihindari setelah dukungan Rusia dan Iran melemah.

08 Des 2024 15:50 WIB · Internasional

Oleh Antonius Tomy Trinugroho

Latar Belakang Perang Saudara

Perang saudara di Suriah dimulai pada 2011 yang merupakan bagian dari ”Arab Spring”. Saat itu, unjuk rasa damai menentang rezim Presiden Bashar al-Assad berubah menjadi konflik bersenjata, menyusul tindakan keras dari kubu pemerintah.

Konflik berkembang menjadi perang yang rumit, melibatkan banyak aktor: Pemerintah Suriah, kelompok-kelompok oposisi dalam negeri, milisi ekstrem seperti Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS), serta kekuatan internasional seperti AS, Rusia, dan Iran. Lebih dari 500.000 orang telah tewas dan jutaan lainnya mengungsi dalam perang saudara di Suriah.

A defaced portrait of Syrian President Bashar Assad lies on the ground in the town of Maarat al-Numan, southwest from Aleppo, Syria, Saturday Nov. 30, 2024. Thousands of Syrian insurgents have fanned out inside Syria's largest city Aleppo and large areas around previously controlled by the government with little resistance from troops.(AP Photo/Omar Albam)

Situasi Terkini

Dalam beberapa pekan terakhir, koalisi kelompok oposisi yang dipimpin oleh Hayat Tahrir al-Sham (HTS) melancarkan serangan kilat yang berhasil merebut kota-kota besar seperti Aleppo, Hama, Homs, dan akhirnya merebut ibu kota Suriah, Damaskus. Bagi Assad yang kini tidak diketahui keberadaannya, serangan tersebut menjadi tantangan terbesarnya dalam beberapa tahun terakhir.

HTS, yang sebelumnya memiliki hubungan dengan Al Qaeda, telah menyatakan tak lagi memiliki relasi dengan kelompok teroris tersebut. Pendekatan pragmatis ini dinilai sebagai bagian agar mereka bisa diterima lebih luas oleh kelompok internasional. Meski demikian, Barat masih menganggap HTS sebagai kekuatan teroris.

(FILES) Hayat Tahrir al-Sham (HTS) chief Abu Mohamed al-Jolani checks the damage following an earthquake in the village of Besnaya in Syria's rebel-held northwestern Idlib province at the border with Turkey, on February 7, 2023. Jolani is the leader of the Islamist alliance that spearheaded an offensive late November 2024 that rebels say brought down President Bashar al-Assad and ended five decades of Baath Party rule in Syria on December 8, 2024. During the offensive, he started signing his statements under his real name -- Ahmed al-Sharaa. (Photo by Omar HAJ KADOUR / AFP)

Aktor 

Berikut adalah aktor-aktor dalam krisis Suriah:

  1. Rezim Assad didukung oleh Iran, Rusia, dan kelompok milisi Hizbullah. Assad berhasil merebut kembali sebagian besar wilayah yang sempat dikuasai oposisi pada beberapa tahun lalu berkat bantuan Rusia. Namun, dukungan dari sekutu-sekutunya melemah akibat keterlibatan mereka dalam konflik lain, yakni  perang di Ukraina (Rusia) serta bentrokan dengan Israel (Iran dan Hizbullah). 
  2. Iran dan Hizbullah menggunakan Suriah sebagai jembatan strategis. Sejumlah laporan menyebutkan, Iran menyuplai kebutuhan logistik Hizbullah di Lebanon melalui wilayah Suriah. Hal ini menyebabkan Iran dan Hizbullah mendukung Assad. Akan tetapi, peningkatan intensitas konflik dengan Israel membuat Hizbullah melemah. Demikian juga Iran. Kemampuan mereka untuk mendukung Assad telah berkurang drastis.
  3. Turki merupakan pendukung utama kelompok oposisi Suriah. Ankara dinilai memainkan peran signifikan dalam menciptakan perkembangan terakhir di Suriah. Salah satu kepentingan Turki terhadap Suriah ialah memastikan perbatasan negara tersebut dengan Suriah tak dijadikan basis kelompok perlawanan Kurdi. 
  4. AS dan Barat selama ini mendukung kelompok oposisi moderat dalam memerangi NIIS. AS juga berada satu kubu dengan sejumlah pasukan yang berada di wilayah Suriah yang dikuasai Kurdi. Terhadap HTS, Barat masih sangat berhati-hati.
  5. Israel selama ini melakukan serangan udara terhadap sasaran terkait Iran dan Hizbullah di Suriah guna mengurangi ancaman terhadap keamanan nasional mereka.
A picture taken early on January 21, 2019 shows Syrian air defence batteries responding to what the Syrian state media said were Israeli missiles targeting Damascus. - Israel struck what it said were Iranian targets in Syria today in response to rocket fire it blamed on Iran, sparking concerns of an escalation after a monitor reported 11 fighters killed. Israel openly claimed responsibility for the strikes against facilities it said belonged to the Iranian Revolutionary Guards' Quds Force, continuing its recent practice of speaking more openly about such raids. FOTO STR / AFP

Dampak  

Kejatuhan Assad diperkirakan bakal mengubah keseimbangan kekuatan di Timur Tengah. Hal ini menciptakan tantangan baru bagi negara-negara seperti Iran, Rusia, Turki, serta Arab Saudi.

Setelah Assad jatuh, perhatian terbesar ialah bagaimana mewujudkan transisi menuju pemerintahan yang inklusif dan stabil.


Kerabat Kerja

Penulis:

Antonius Tomy Trinugroho
 | 

Editor:

Kris Mada