Krisis Terbesar City di Era Guardiola, Salah Siapa?

Potensi krisis Manchester City sebenarnya sudah terlihat sejak jendela transfer musim panas. Mereka gagal mengantisipasi bencana lebih awal.

12 Nov 2024 07:16 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa - [email protected]

Setelah satu setengah dekade menjadi manajer, Josep Guardiola akhirnya memahami makna dari kata ”krisis”. Kata itu tidak pernah muncul dalam kamus Guardiola sebelumnya. Baru kali ini, setelah musim kesembilan bersama Manchester City, dia merasakan sensasi yang sudah jadi makanan sehari-hari manajer pada umumnya.

Empat kali kalah beruntun dalam 11 hari. Guardiola belum pernah merasakan itu sejak debut sebagai manajer di Barcelona pada 2008. Pengalaman pahit itu terjadi di City. Sungguh pengalaman yang menandakan sang pria asal Spanyol ternyata hanya manusia biasa, bukan sosok genius yang datang dari planet lain. 

”Anda akan dipecat pada keesokan hari,” nyanyi para pendukung Brighton usai tim mereka menaklukkan City, 2-1, di Stadion Amex, pada Minggu (10/11/2024) dini hari WIB. Dunia serasa terbalik ketika mendengar ada ejekan seperti itu kepada Guardiola, sosok yang telah meraih 39 trofi di tiga liga berbeda.

Namun, saking kuatnya karakter Guardiola sebagai manajer terhebat sedunia saat ini, masih banyak yang belum yakin terhadap krisis di City. Empat kekalahan seperti belum cukup, saat manajer lain sudah dikritik habis setelah tidak menang dalam tiga laga. Apakah itu krisis atau hanya kesialan kecil pada awal musim?

Manchester City's Spanish manager Pep Guardiola gestures on the touchline during the English Premier League football match between Brighton and Hove Albion and Manchester City at the American Express Community Stadium in Brighton, southern England on November 9, 2024. (Photo by Glyn KIRK / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE. No use with unauthorized audio, video, data, fixture lists, club/league logos or 'live' services. Online in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No video emulation. Social media in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No use in betting publications, games or single club/league/player publications. /

Brighton, Sporting CP, Bournemouth, dan Tottenham. Empat tim itu menegaskan City sedang tidak baik-baik saja. Mereka mengalahkan City di tiga kompetisi berbeda. Dari seluruh laga itu, City kemasukan 10 gol dan hanya memasukkan 4 gol. Terlihat jelas ada masalah di dua sisi lapangan dari tim asuhan Guardiola.

Gelandang City, Bernardo Silva, sampai bertanya-tanya sendiri tentang penyebab tren buruk timnya belakangan ini, seperti saat sudah unggul atas Brighton, tetapi dibalikkan pada paruh kedua. ”Bahkan, ketika bermain bagus sekali pun, kami tidak bisa mencetak gol dari peluang dan justru terlalu mudah kemasukan,” katanya.

Tanpa Rodri

Simplifikasi dari segala permasalahan City adalah kehilangan Rodri. Siapa lagi selain gelandang andalan peraih Ballon d’Or itu? Bersama Rodri, City hanya kalah sekali dalam 53 laga terakhir di seluruh kompetisi. Persentase kemenangan City menurun dari 73,6 persen ke 53,8 persen saat sang pemain absen.

Quote

Direktur Olahraga City Txiki Begiristain mengumumkan akan hengkang pada akhir musim setelah mengabdi 13 tahun. Entah itu berhubungan dengan kegagalan pada jendela kali ini atau tidak. 

Rodri memang sepenting itu. Jika City itu manusia, dia adalah otaknya. Dia yang menerjemahkan ide dan filosofi Guardiola di lapangan. Meskipun begitu, faktor krisis ”The Citizens” lebih kompleks daripada itu. Badai cedera, celakanya, juga menerpa pemain utama lain, seperti Ruben Dias, Manuel Akanji, dan Jack Grealish. 

Gelandang Manchester City, Rodri, menghadiri konferensi pers pada 17 September 2024.
Gelandang Manchester City, Rodri, terjatuh saat menghadapi Arsenal pada laga Liga Inggris di Stadion Etihad, Manchester, 22 September 2024. Ia lantas mengalami cedera.
Gelandang Manchester City, Rodri, mengerang kesakitan saat menghadapi Arsenal pada laga Liga Inggris di Stadion Etihad, Manchester, Inggris, Minggu, 22 September 2024.
Pemain Manchester City, Rodri (kanan), mencium trofi penghargaan Ballon d'Or 2024 usai menerimanya dari mantan Presiden dan sekaligus mantan pemain Liberia, George Weah, pada acara di Theatre du Chatelet, Paris, 28 Oktober 2024.
Pemain Manchester City, Rodri, mengangkat trofi penghargaan Ballon d'Or 2024 pada acara di Theatre du Chatelet, Paris, 28 Oktober 2024.

”Jika Anda bertanya, ’bagaimana jika dibandingkan dengan musim lalu?’ Musim lalu, kami punya skuad (lengkap). Ketika para pemain kembali, maka kami juga akan kembali. Saya tidak punya keraguan sama sekali kami akan kembali ke bentuk terbaik jika itu terjadi,” ujar Guardiola.

Namun, masalah Guardiola bukan hanya cedera. City terlalu bergantung dengan penyerang Erling Haaland. Lihat saja kontribusi gol mereka di Liga Inggris. Sebanyak 54,5 persen atau 12 dari 22 gol diciptakan Haaland. Pemain-pemain City lainnya yang paling banyak menyumbangkan tiga gol yaitu Josko Gvardiol dan Mateo Kovacic. Mereka bukan penyerang.

Akibat minim opsi, serangan City terlalu mudah dibaca. Haaland turut terdampak karena itu. Dia menghasilkan 10 gol dari 5 pertandingan pertama awal musim di liga, tetapi hanya menyumbang 2 gol dalam 6 laga terakhir. Guardiola juga tidak punya solusi ketika rencana utama tidak berjalan mulus. 

Kegagalan transfer

Cedera memang tidak bisa ditebak, tergantung keberuntungan. Namun, dampak dari badai cedera semestinya bisa diminimalisasi dengan perencanaan lebih baik. Masalahnya, City gagal mengantisipasi itu pada jendela transfer musim panas. Aktivitas transfer mereka sangat pasif dibandingkan tim-tim besar lainnya.

infografik Liga-Inggris 2024/2025

Kegagalan terbesar City adalah tidak mencari pelapis untuk Rodri. Sang gelandang memang jarang cedera, tetapi bencana bisa terjadi kapan saja. Terbukti, saat Rodri harus absen hingga akhir musim akibat cedera lutut, City tidak punya ”ban serep”. Satu-satunya pelapis Rodri, Kalvin Phillips, justru dipinjamkan.

Begitu pun di lini serang. City melepas penyerang Julian Alvarez ke Atletico Madrid. Lalu, mereka hanya mendatangkan Savinho yang berstatus pemain sayap. Padahal, Alvarez yang sangat versatile tidak hanya menjadi pelapis Haaland selama dua musim terakhir, tetapi juga untuk gelandang serang Kevin De Bruyne. 

Tren cedera De Bruyne seperti terlewatkan. Pemain berusia 33 tahun itu sudah melewatkan lebih dari 50 laga sejak musim 2023-2024 untuk klub dan tim nasional akibat rentetan cedera. Kondisinya tidak sebugar beberapa tahun silam. Selain itu, beberapa pemain utama City lainnya juga berusia cukup tua, seperti Ilkay Guendogan (34) dan Kyle Walker (34).

Bagi City, situasi pada jendela transfer terakhir memang sangat sulit. Mereka terbelenggu 115 tuntutan Liga Inggris atas pelanggaran regulasi keuangan. Keputusan sidang akan muncul pada awal 2025. Alhasil, banyak pemain enggan bertaruh pindah ke City yang terus dibayangi hukuman berat. 

Manajemen City juga tidak mau mengambil risiko berinvestasi besar-besaran. Potensi hukuman yang menanti adalah degradasi dan dicoret dari liga. City hanya mengeluarkan 25 juta euro (Rp 434 miliar) pada jendela transfer lalu, sepuluh kali lipat lebih rendah dibandingkan musim sebelumnya.

Adapun setelah musim panas paling pasif sejak Guardiola tiba di City, Direktur Olahraga Txiki Begiristain mengumumkan akan hengkang pada akhir musim setelah mengabdi 13 tahun. Entah itu berhubungan dengan kegagalan pada jendela kali ini atau tidak. 

Faktor lain adalah kepercayaan diri Guardiola. Dia tidak protes dengan situasi saat ini karena merasa skuadnya sudah cukup. Skuad itu, minus Alvarez, juga berhasil mengamankan gelar liga untuk empat kali beruntun pada musim lalu. Guardiola sempat berkata, ia lebih memilih skuad kecil karena bisa lebih memaksimalkan pemain.

Lantas, siapa yang paling bersalah atas krisis terbesar City saat ini? Semua berperan dalam krisis itu, mulai dari Begiristain, Guardiola, sampai keadaan tidak ideal. Namun, itu tidak terlalu penting. Hal paling menarik saat ini adalah melihat bagaimana Guardiola merespons tantangan tersebut. 

Guardiola masih begitu percaya diri dan tetap tenang. ”Saya ditanya apakah ini akhir dari sebuah era. Saya tahu orang-orang menginginkan itu. Saya sudah menciumnya bertahun-tahun. Namun, jika ada yang ingin mengalahkan kami, mungkin akan terjadi 50 tahun ke depan. Kami tidak akan memenangkan semua trofi liga,” ujarnya.

Guardiola sering diibaratkan sebagai grandmaster catur di lapangan sepak bola. Adapun grandmaster selalu punya jalan keluar dalam keadaan sesulit apa pun, kecuali jika terkena skakmat. Solusi brilian pun kini dinanti dari manajer genius tersebut. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan