BerandaTokohKrisna Bayu, Epilepsi Tak...

Krisna Bayu, Epilepsi Tak Jadi Halangan untuk Mental Juara

Jika akhirnya menyerah, orang pun akan menganggapnya wajar. Namun nyatanya, itu tidak menjadi keputusan Krisna Bayu (50). Ia tetap teguh menjadi seorang juara.

19 Mar 2025 19:01 WIB · Tokoh

Oleh Deonisia Arlinta, Rebiyyah Salasah

Hidup dengan epilepsi sejak usia sembilan tahun serta jatuh bangun dengan cedera di sebagian besar bagian tubuh bukan penghalang bagi Krisna Bayu untuk menjadi seorang juara.

Nama Krisna Bayu menjadi bagian dari sejarah Indonesia dalam berbagai kejuaraan dunia judo. Sebagai Judoka Olimpian, Krisna pernah berlaga di Olimpiade Atlanta pada 1996, Olimpiade Sydney pada 2000, dan Olimpiade Athena 2004. Hingga saat ini, dia satu-satunya judoka Indonesia yang bisa tampil dalam tiga edisi Olimpiade.

Selain itu, jangan tanya prestasi di level Asia dan Asia Tenggara. Krisna merupakan peraih medali emas di Asian Marial Arts Games Bangkok 2009. Dia juga pemilik delapan medali emas, tiga perak, dan satu perunggu dari sembilan edisi SEA Games.

Klise memang jika disebutkan bahwa semua prestasi butuh perjuangan panjang dan tantangan yang tidak mudah. Setiap orang, tidak terkecuali para atlet tingkat dunia, punya perjuangannya masing-masing.

Namun, mendengar kisah dari Krisna Bayu, perjuangan yang dilewatinya jelas tidak mudah. Sebagai seorang atlet yang memiliki epilepsi, pertandingan yang dilaluinya tidak hanya dengan lawan yang berada di hadapannya saat di atas matras, tetapi juga dengan dirinya sendiri, lengkap dengan epilepsi yang dialami.

Quote

Seorang juara itu berarti hidupnya harus mesra dengan rasa sakit. Kalau tidak bisa bersahabat dengan rasa sakit, ya berarti kamu bukan juara.

”Sampai pada akhirnya, saya bertekad menjadi seorang juara. Seorang juara itu berarti hidupnya harus mesra dengan rasa sakit. Kalau tidak bisa bersahabat dengan rasa sakit, ya berarti kamu bukan juara,” ujar Krisna saat ditemui di salah satu restoran Korea di kawasan Jakarta Barat pada pertengahan Februari 2025. Makanan khas Korea merupakan salah satu makanan favorit Krisna.

Judoka Olimpian Krisna Bayu memprakekkan teknik banting kepada murid-muridnya dalam sesi "coaching clinic" di Dojo Gorillaz Fighter Club di Bogor, Rabu (26/2/2025). Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Meski hanya dalam ingatan yang samar-samar, Krisna menyampaikan, gejala epilepsi muncul saat ia berusia sekitar sembilan tahun. Sejak usia anak-anak, ia memang sering mengalami kejang. Setelah beberapa kali dilakukan pemeriksaan, Krisna pun terdiagnosis epilepsi atau yang juga dikenal sebagai penyakit ayan atau sawan.

Epilepsi merupakan gangguan pada saraf di otak yang terjadi secara menahun. Gejala yang paling umum muncul dari epilepsi berupa kejang dengan tubuh, tangan, dan kaki yang tampak kaku, bisa disertai kondisi kelojotan.

Gejala ini sering kali menimbulkan persepsi yang salah di masyarakat sebagai kondisi kesurupan ataupun kutukan. Akibatnya, stigma dan diskriminasi masih banyak dirasakan oleh orang dengan epilepsi. Penanganan yang salah juga sering ditemukan. Orang dengan epilepsi banyak yang awalnya justru dibawa ke pengobatan alternatif atau dukun.

Hal itu juga yang sempat dialami Krisna. Oleh orangtuanya, ia awalnya dibawa ke–yang oleh lingkungan sekitarnya disebut–orang pintar. Namun, gejala kejang tetap saja dialami oleh Krisna setelahnya. Baru kemudian ia dibawa ke rumah sakit hingga akhirnya terdiagnosis epilepsi.

Berusaha ”bodo amat”

Dengan kondisi epilepsi yang masih sering kambuh, Krisna punya tekad besar untuk menjadi juara judo. Ia sudah berlatih judo sejak usia sekolah dasar. Kemampuannya akhirnya diakui oleh banyak pihak hingga akhirnya dia bisa masuk sebagai atlet dalam program Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas).

Krisna Bayu Judoka Olimpian Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Pada saat itu, kekambuhan semakin sering terjadi seiring jadwal latihan yang semakin padat dan keras. Tidak sedikit orang yang tetap mendukung Krisna, tetapi ada juga yang mencemooh dan menjatuhkan Krisna dengan kekurangannya.

”Tetapi saya tidak mau menanggapi itu. Kalau saya malah fokus ke hal (cemooh) itu, saya tidak bisa fokus dengan tujuan saya untuk menjadi juara. Ya kalau mau memaki-maki saya paling masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Ternyata sikap masa bodoh itu yang berdampak positif untuk menjadikan saya seperti sekarang,” kata Krisna.

Dalam hidup Krisna, ia punya prinsip. Ia tidak mau dikalahkan oleh siapa pun dan apa pun, termasuk epilepsi yang ada di dalam dirinya. Dengan kondisi yang dialaminya, Krisna justru berpikir untuk berusaha lebih kuat lagi agar bisa menjadi juara.

Disiplin, punya tekad yang kuat, serta berusaha sampai titik akhir menjadi pedoman hidupnya. Jika jadwal latihan dimulai pukul 09.00, itu artinya ia harus mulai satu jam sebelumnya. Jika pelatihnya meminta melakukan push up sebanyak 100 kali, ia akan melakukannya dua sampai tiga kali lipat. Menjadi juara bagi Krisna berarti harus melakukan lebih dari yang lain.

Hidup dengan epilepsi

Epilepsi menjadi bagian dari hidup Krisna sepanjang kariernya sebagai atlet. Ada kalanya, kekambuhan terjadi di saat yang tidak tepat. Pada Olimpiade Sydney 2000, misalnya, Krisna mengalami kekambuhan selepas laga babak pertama melawan Carlos Honorato dari Brasil.

Menurut Krisna, bantingan dari lawannya yang begitu keras, mengenai kepala dan leher hingga memicu epilepsinya. Setelah keluar dari arena, dia sempat mengalami bangkitan. Dia pun tidak bisa melanjutkan laga kendati berhak ikut repechage (kesempatan) karena punya poin.

Di ajang SEA Games pada 2011, yang sekaligus menjadi pertandingan terakhir Krisna sebagai judoka, ia juga mengalami kekambuhan. Krisna, yang saat ini merupakan Komite Eksekutif bidang Komisi Atlet Komite Olimpiade Indonesia ini, sadar betul saat gejala-gejala mulai muncul.

Krisna Bayu Judoka Olimpian Kompas/Riza Fathoni (RZF)

”Waktu itu saya hanya bisa bilang, waduh saya (tumbang),” ucapnya. Dalam kondisi itu, ia tetap berusaha melawan meski akhirnya ia belum bisa membawa pulang medali emas.

”Kesal? Sebagai manusia tentu kesal. Namun kodrat saya sudah digariskan sebagai penderita epilesi. Kalau saya menyesali apa yang Tuhan berikan sepertinya itu tidak akan ada hentinya. Jadi bagaimana mencari solusi untuk menghadapinya agar bisa terus melangkah maju,” kata Krisna yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Sambo Indonesia (Persambi).

Ketika akan bertanding, seorang juara harus bisa ”mengenal” lawan yang akan dihadapinya. Dengan begitu, seorang juara akan tahu kelemahan sang lawan sehingga bisa dimanfaatkan untuk mengalahkannya.

Hal sama yang digunakan Krisna untuk melawan epilepsi pada dirinya. Hingga ia pun menang dan bisa berdamai dengan epilepsi. Ia tahu kekambuhan dari epilepsinya akan muncul saat dipicu cahaya yang terang. Ia pun berusaha menghindari cahaya yang terang agar tidak terjadi kekambuhan.

Selain itu, ia bahkan punya caranya sendiri untuk melawan diri ketika aura atau tanda kejang ringan akan terjadi. Dengan memasukkan jari ke dalam mulutnya hingga terasa ingin muntah, kejang biasanya urung muncul.

Menurut dia, itu mungkin terjadi karena otaknya teralihkan oleh keinginan muntahnya. Sejak saat itu hingga sekarang, sekitar 14 tahun, ia sudah tidak pernah lagi mengalami kekambuhan.

Judoka Olimpian Krisna Bayu memberikan "coaching clinic" kepada murid-muridnya di Dojo Gorillaz Fighter Club di Bogor, Rabu (26/2/2025). Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Dari pengalamannya, Krisna percaya bahwa epilepsi bukan hambatan bagi siapa pun untuk berkarya dan berprestasi. Banyak tokoh dunia, seperti Julius Caesar yang juga memiliki epilepsi tetapi bisa berkembang bahkan menjadi pemimpin dunia.

Ia pun berharap agar masyarakat bisa lebih sadar dan memahami apa itu epilepsi. Pemahaman yang minim membuat stigma dan diskriminasi masih banyak terjadi pada orang dengan epilepsi. Banyak orang juga tidak paham bagaimana mengatasi orang dengan epilepsi saat kejang terjadi.

Bagi orang dengan epilepsi, Krisna menuturkan, mental juara harus terus dimiliki. Setiap orang dengan epilepsi tidak boleh kalah dengan epilepsi yang dimiliki. Jatuh bangun adalah hal biasa. Yang terpenting, jangan pernah jatuh kemudian tidak bangkit lagi.

Krisna Bayu

Lahir : Semarang, 24 Desember 1974

Prestasi:

  • Judoka di Olimpiade Atlanta 1996, Olimpiade Sydney 2000, dan Olimpiade Athena 2004
  • Peraih medali emas Asia Martial Arts Games Bangkok, Thailand pada 2009
  • Peraih medali perunggu Kejuaraan Asia Kazakhtan 2004 dan Makau 2006
  • Peraih delapan medali emas, tiga perak, dan satu perunggu SEA Games 1993 sampai 2011
  • Peraih medali emas dalam PON 1993 sampai 2012

Kerabat Kerja

Penulis:

Deonisia Arlinta, Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Dwi As Setianingsih
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari