Serangan pasukan oposisi Suriah ke Aleppo tampaknya sudah direncanakan bertahun-tahun. Tak ada perlawanan pasukan pemerintah, mereka bebas melenggang masuk Aleppo.
01 Des 2024 10:51 WIB · Internasional
BEIRUT, MINGGU — Sudah dua hari ini, Minggu (1/12/2024), kelompok oposisi Suriah secara mengejutkan merebut dan menguasai Aleppo, kota terbesar kedua di Suriah, dari tangan pasukan pemerintahan Presiden Bashar al-Assad. Perkembangan di luar dugaan ini mendadak menyedot kembali perhatian dunia pada perang saudara di Suriah, yang belakangan tenggelam oleh perang Gaza dan perang Ukraina-Rusia.
Bagaimana Aleppo, kota yang strategis itu, bisa sampai lepas dari genggaman pasukan Assad?
Di tengah memuncaknya perang saudara Suriah, yang meletus sejak 2011 di tengah gelombang Musim Semi Arab, Aleppo pernah dikuasai pasukan oposisi. Selama hampir 4,5 tahun kota itu menjadi medan pertempuran sengit antara oposisi dan pasukan Assad.
Sedemikian sengit perlawanan oposisi kala itu, meski sudah dikepung dalam peristiwa yang kerap disebut ”Pengepungan Aleppo”, kota itu tak kunjung jatuh dan direbut pasukan Assad. Baru pada Desember 2016, dengan dukungan Rusia dan milisi Iran, pasukan Assad merebut Aleppo dari tangan oposisi.
Peristiwa ini disebut-sebut menjadi titik balik dan mengubah jalannya perang Suriah. Tahun-tahun berikutnya, pasukan Pemerintah Suriah menguasai wilayah-wilayah yang pernah dikuasai oposisi. Assad pun kembali kokoh sebagai pemimpin Suriah. Pada 2023 Suriah bahkan telah diterima kembali di organisasi kawasan, Liga Arab.
Jatuhnya Aleppo ke tangan pasukan oposisi bermula dari serangan kejutan kelompok salafi jihadis Hayat Tahrir al-Sham dan para petempur dukungan Turki pada dua penjuru di wilayah Idlib dan Aleppo. Serangan kejutan ini berlangsung sejak Rabu (27/11/2014), bersamaan dengan dimulainya gencatan senjata antara Hizbullah di Lebanon dan Israel.
Mereka melancarkan serangan di wilayah perdesaan Aleppo dan perdesaan Idlib. Di dua wilayah itu, mereka merebut puluhan desa.
Dua hari kemudian, Jumat (29/11/2024), pasukan oposisi memasuki Aleppo. Tanpa perlawanan berarti dari pasukan pemerintah, mereka dengan mudah mengambil alih kota strategis itu pada Sabtu (30/11/2024).
Media Arab Saudi, Saudi Gazette, melaporkan, penduduk kota Aleppo melihat pasukan oposisi mengerahkan kendaraan lapis baja dan truk pikap ke seluruh kota. Pada Jumat malam, menurut lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR), serangan udara yang menargetkan bantuan bagi pasukan oposisi di pinggiran Aleppo menewaskan 20 orang.
Warga melaporkan, bentrokan dan tembakan sporadis terjadi di beberapa bagian kota. Banyak warga sipil mengungsi dari lokasi-lokasi pertempuran. Hari Sabtu kemarin, sekolah-sekolah dan kantor-kantor pemerintah di Aleppo diliburkan dan ditutup.
Pasukan oposisi menguasai sejumlah tempat penting, seperti benteng-benteng bersejarah dan pusat kota Aleppo. Mereka menyingkirkan poster-poster Presiden Bashar al-Assad dan mengibarkan bendera-bendera oposisi di atas Benteng Aleppo, simbol warisan dan sejarah kota itu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/01/bb1445ad-8b96-40bc-8920-5db74b3e2882_jpg.jpg)
Menurut SOHR, pasukan oposisi juga menguasai Bandar Udara Internasional Aleppo. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan bahwa bandara Aleppo ditutup, penerbangan ditangguhkan, dan rumah sakit-rumah sakit dipenuhi pasien. Banyak fasilitas medis swasta ditutup karena situasi yang tidak stabil.
Turki, pendukung utama kelompok oposisi Suriah, mengatakan bahwa upaya diplomatiknya gagal menghentikan serangan pemerintah terhadap wilayah yang dikuasai oposisi dalam beberapa minggu terakhir. Serangan pasukan pemerintah itu dinggap melanggar perjanjian de-eskalasi yang didukung Rusia, Iran, dan Turki.
Selama berminggu-minggu terjadi kekerasan tingkat rendah oleh pasukan pemerintah terhadap wilayah yang dikuasai oposisi. Serangan itu terjadi saat Hizbullah di Lebanon—dulu mereka menjadi salah satu pendukung Pemerintah Suriah—disibukkan dengan pertempuran melawan Israel.
Pejabat keamanan Turki mengatakan, serangan terbatas oleh oposisi direncanakan untuk menghentikan serangan pemerintah dan mengizinkan warga sipil untuk kembali. Akan tetapi, serangan itu meluas saat pasukan Pemerintah Suriah mulai mundur dari posisi mereka.
Militer Suriah kemudian mengeluarkan pernyataan yang menyatakan kelompok oposisi telah memasuki kota. Meski demikian, menurut militer Suriah, pasukan oposisi belum mendirikan pangkalan atau pos-pos pemeriksaan.
Militer Suriah juga mengumumkan penempatan kembali pasukan untuk memperkuat garis pertahanan. Selain untuk menahan serangan, penempatan kembali pasukan dimaksudkan untuk menyelamatkan nyawa warga sipil dan tentara, serta mempersiapkan serangan balik.
Pengambilalihan Aleppo secara mendadak oleh pasukan oposisi merupakan pukulan telak bagi Presiden Assad. Assad merebut kembali kendali penuh atas Aleppo pada tahun 2016 dengan bantuan Rusia setelah serangan brutal. Hal ini membuat kelompok oposisi mengalami kemunduran yang signifikan.
Menurut laporan The Guardian, pada serangan hari Jumat, pasukan oposisi tampaknya memasuki Aleppo dengan mudah. Hal itu sangat kontras dengan pertempuran jalanan yang sengit untuk menguasai setiap blok yang melanda pusat kota kuno tersebut, 12 tahun silam.
”Tidak seorang pun mengira Aleppo akan direbut, yang berarti tidak ada garis pertahanan yang nyata di dalam kota. Begitu mereka sampai di sana, semuanya tampak terbuka,” kata Jerome Drevon dari International Crisis Group (ICG).
Drevon menyatakan, hal itu menunjukkan adanya upaya oposisi selama bertahun-tahun untuk merencanakan serangan sambil mengasah kekuatan mereka dan memungkinkan mereka untuk mengalahkan pasukan Pemerintah Suriah yang jauh lebih tidak terorganisir. ”Saya pikir, rezim tidak mengira ada langkah yang begitu cepat, operasi dimulai hanya beberapa hari yang lalu,” kata Drevon.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/01/e8546ce6-0d50-41c9-add0-99551f5ec37e_jpg.jpg)
Serangan cepat dan mendadak pada Jumat kemarin bukan hanya memalukan bagi Assad. Namun, serangan itu juga menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan angkatan bersenjata Assad.
Dalam pernyataan publik pertama setelah serangan, Assad mengatakan, Suriah akan terus mempertahankan stabilitas dan integritas teritorialnya terhadap teroris dan pendukungnya. ”Suriah mampu mengalahkan mereka (kelompok oposisi), tidak peduli seberapa gencarnya serangan mereka,” ujar Assad melalui pernyataan yang dirilis oleh kantor berita Suriah, SANA, pada Sabtu malam.
Dari Aleppo, pasukan oposisi kemudian bergerak untuk merebut kota-kota dan desa-desa di wilayah Hama utara. Wilayah ini juga sempat menjadi area kekuasaan kelompok oposisi sebelum diusir pasukan pemerintah pada 2016. Mereka mengklaim pada Sabtu malam telah memasuki kota Hama.
Kembalinya para kelompok oposisi ke Aleppo akhir pekan ini merupakan yang pertama kali sejak tahun 2016. Tepatnya setelah menghadapi serangan militer melelahkan di mana pasukan Assad didukung oleh Rusia, Iran, dan kelompok-kelompok sekutunya.
Pertempuran Aleppo tahun 2016 merupakan titik balik dalam perang antara pasukan Pemerintah Suriah dan pasukan oposisi. Pertempuran ini terjadi setelah unjuk rasa tahun 2011 terhadap pemerintahan Assad berubah menjadi perang habis-habisan.
Setelah melemahkan kelompok oposisi dan menguasai Aleppo pada akhir tahun 2016, Assad mampu memperkuat cengkeraman di wilayah-wilayah strategis Suriah. Sementara itu, faksi-faksi pasukan oposisi menguasai wilayah-wilayah di pinggiran.
Akan tetapi, serangan kilat oposisi pada Jumat kemarin menghidupkan kembali ancaman memanasnya perang saudara di negara itu. (AP/REUTERS)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Muhammad Samsul HadiPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra