Kerja sama antarnegara-negara kawasan yang lebih kuat akan menjadi kunci bagi negara-negara anggota agar lebih tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan.
27 Mei 2025 20:14 WIB · Internasional
JAKARTA, KOMPAS — Indonesia mendorong penguatan kerja sama di sektor perdagangan dan perlindungan pekerja migran dalam kemitraan negara-negara ASEAN dengan negara-negara Arab di Kawasan Teluk. Penguatan kerja sama itu dibutuhkan untuk mewujudkan masa depan kawasan yang menjanjikan.
”Sekarang adalah momentum yang tepat untuk mendekatkan kedua kawasan kita, dan untuk bekerja sama dan membawa manfaat bagi rakyat kita. Marilah kita bekerja keras untuk mewujudkan masa depan kita yang menjanjikan,” ujar Presiden Prabowo saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-2 ASEAN-Gulf Cooperation Council (GCC) di Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (27/5/2025).
Hadir dalam konferensi tersebut, para pemimpin negara dari ASEAN dan GCC. Turut mendampingi Prabowo, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri Perdagangan Budi Santoso, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/26/41ab3c1ef693544d951c62096cf30bda-AP25146056195158.jpg)
Sepuluh negara anggota ASEAN adalah Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Adapun enam negara yang tergabung dalam GCC adalah Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, serta Uni Emirat Arab.
Prabowo menilai masa depan kawasan yang menjanjikan harus diwujudkan oleh semua negara. Sebab, masih ada sejumlah aspek yang harus diperbaiki agar kerja sama ASEAN-GCC memberikan dampak yang optimal bagi masyarakat.
Presiden pun menyambut baik rencana pelaksanaan studi kelayakan bersama terkait pembentukan kawasan perdagangan bebas ASEAN-GCC. Rencana itu diperlukan karena potensi perdagangan di antara negara-negara ASEAN-GCC dinilai belum dimanfaatkan secara optimal. Prabowo juga mengusulkan pembentukan jaringan bisnis ASEAN-GCC untuk memfasilitasi kemitraan antarpelaku usaha dari kedua kawasan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/26/d3d2306b006cffccd0596637f203413f-AP25146032586509.jpg)
Sementara pada sektor industri halal, Prabowo menilai ASEAN dan GCC merupakan mitra alami dalam industri halal. Namun, kolaborasi untuk harmonisasi standar halal perlu dipertimbangkan untuk meningkatkan perdagangan di industri halal.
”Kita harus punya mekanisme saling mengakui sertifikasi halal. Dan, kita harus meningkatkan investasi bersama untuk meningkatkan pembangunan kapasitas,” ucap Presiden.
Di sisi lain, Prabowo juga memberikan perhatian khusus pada perlindungan pekerja migran ASEAN yang bekerja di negara-negara Arab di Kawasan Teluk. Perlindungan tidak hanya soal keselamatan, tetapi penguatan kerja sama regional untuk menjamin para pekerja migran mendapatkan hak sebagai pekerja yang layak.
”Memastikan upah yang adil, kondisi kerja yang aman dan sehat, serta meningkatkan jumlah pekerja terampil,” kata Presiden.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan, kemitraan antara ASEAN-GCC tidak pernah sepenting seperti saat ini. Sebab, 10 negara ASEAN dan enam negara GCC sama-sama menghadapi lanskap global yang semakin kompleks. Situasi ini ditandai oleh ketidakpastian ekonomi dan tantangan geopolitik.
”Hubungan ASEAN-GCC yang lebih kuat akan menjadi kunci untuk meningkatkan kolaborasi antarkawasan, membangun ketangguhan, dan menjamin kemakmuran yang berkelanjutan bagi masyarakat kita,” ujar Anwar.
Anwar melanjutkan, kerangka kerja sama ASEAN-GCC 2024-2028 yang diadopsi pada KTT perdana di 2023 telah memberikan cetak biru untuk memperdalam kolaborasi. KTT tersebut menjadi momentum yang sangat menggembirakan bagi penguatan kerja sama antarnegara.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/26/ca7986619c11b59744170a7be381badc-AP25146068679666.jpg)
Terlebih, kerja sama perdagangan di antara negara-negara ASEAN-GCC sangat menggembirakan. Pada 2023, GCC menjadi mitra dagang terbesar ketujuh bagi ASEAN dengan total perdagangan mencapai 130,7 miliar dollar AS. Investasi juga terus tumbuh, mencerminkan kepercayaan yang meningkat terhadap prospek jangka panjang kemitraan.
Oleh karena itu, lanjut Anwar, pembahasan di KTT ke-2 ASEAN-GCC menjadi sangat penting untuk memastikan kemitraan tetap dinamis, responsif, dan berdampak. Konferensi ini mesti digunakan untuk menegaskan kembali ambisi kolektif dan mewujudkan visi bersama menjadi kerja sama yang konkret dan berdampak nyata.
”ASEAN dan GCC memiliki sarana dan tanggung jawab untuk bangkit sebagai jangkar stabilitas dan mesin pertumbuhan masa depan,” tutur Anwar.
Saat KTT ke-16 Forum Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Filipina East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) yang juga digelar hari ini, Presiden Prabowo menilai kerja sama ekonomi ASEAN bagian timur telah mencatat kemajuan yang signifikan. Sektor perdagangan, pariwisata, dan investasi dari negara anggota mengalami perbaikan.
”Indonesia berkomitmen penuh untuk memastikan bahwa BIMP-EAGA menjadi model ketahanan subregional dan pertumbuhan ekonomi yang cepat,” ucap Prabowo.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/26/1b1b2c2abe9e9ab2f4fc10562a5d76ba-antarafoto_ktt_asean_ke_46_kuala_lumpur_1748233713.jpg)
Presiden mengapresiasi keberhasilan patroli bersama antara negara anggota BIMP-EAGA yang mampu menekan kasus pembajakan di perairan Sulawesi, Sabah, dan Filipina Selatan. Presiden pun menyampaikan terima kasih atas kerja sama dari Pemerintah Filipina dan Malaysia atas keberhasilan ini.
”Kerja sama subregional ini tidak hanya meningkatkan kemajuan ekonomi, tetapi juga kemajuan keamanan,” kata Prabowo.
Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr mengatakan, kerja sama ekonomi ASEAN bagian timur memberikan manfaat yang signifikan bagi rakyat. Kemitraan yang dibangun sejak delapan tahun lalu tersebut bahkan mampu menjadi dasar bagi pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
”Bersama-sama, kita telah meletakkan dasar yang lebih kuat untuk pertumbuhan yang inklusif, berkelanjutan, dan didorong oleh inovasi,” ujar Marcos.
Menurut Marcos, kerja sama negara-negara BIMP-EAGA mampu memperkuat konektivitas, fasilitasi perdagangan dan investasi, ketahanan pangan dan energi, ekowisata, serta pembangunan hijau telah berkembang secara signifikan. Kerja sama di berbagai bidang tersebut memperkuat komitmen negara-negara untuk memperkecil kesenjangan pembangunan di subkawasan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/27/8a5fe51ca9bd3b8b6cff4fee6aa4d2d6-IMG_0938.jpeg)
Atas capaian-capaian yang diraih, Marcos mengajak para pemimpin negara BIMP-EAGA untuk memanfaatkan momentum tersebut guna menegaskan kembali visi bersama demi kawasan teluk yang terintegrasi, makmur, dan tangguh. Sebab, tantangan ke depan menuntut sinergi yang lebih besar, inovasi, dan kemauan politik.
”Saya yakin bahwa melalui kerja sama kita, kita akan terus mengubah aspirasi yang telah kita miliki ini menjadi dampak nyata yang bertahan lama bagi rakyat kita,” tuturnya.
Penulis:
Iqbal Basyari melaporkan dari Kuala LumpurEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra