KTT Ke-47 ASEAN Cetak Sejarah Baru, Timor Leste Resmi Jadi Anggota

Presiden Prabowo dan sembilan pemimpin ASEAN menandatangani deklarasi penerimaan Timor Leste sebagai anggota baru ASEAN.

26 Okt 2025 13:55 WIB · Politik & Hukum

BPMI Sekretariat Presiden/Kris

Oleh Nina Susilo

JAKARTA, KOMPAS — Konferensi Tinggi Tinggi atau KTT Ke-47 ASEAN mencetak sejarah baru dengan penandatanganan deklarasi penerimaan Timor Leste sebagai anggota baru perhimpunan bangsa-bangsa Asia Tenggara tersebut. Deklarasi itu menandai berakhirnya penantian selama 14 tahun Timor Leste untuk dapat bergabung dengan 10 negara lain dalam ASEAN.

Deklarasi penerimaan Timor Leste ditandatangani seluruh pemimpin negara-negara ASEAN, termasuk Presiden Prabowo Subianto, dalam pembukaan KTT Ke-47 ASEAN di Kuala Lumpur Convention Centre (KLCC), Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (26/10/2025). Dokumen deklarasi itu juga ditandatangani Perdana Menteri (PM) Timor Leste Xanana Gusmão.

Selain para pemimpin negara-negara ASEAN, pembukaan KTT Ke-47 juga dihadiri Presiden Timor Leste José Ramos-Horta. Hadir pula Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa dan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva, PM Kanada Mark Carney, serta Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

Dalam sambutannya, PM Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan bahwa kehadiran Timor Leste melengkapi keluarga besar ASEAN. Keanggotaan Timor Leste juga menegaskan kembali takdir bersama dan rasa persaudaraan kawasan yang mendalam.

PM Malaysia Anwar Ibrahim (kedua dari kiri menyerahkan deklarasi penerimaan Timor Leste sebagai negara anggota ASEAN kepada Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn (kanan). Tampak pula PM Timor Leste Xanana Gusmao (kedua dari kanan dan Presiden Timor Leste Ramos-Horta (kiri). Presiden Prabowo Subianto dan para pemimpin ASEAN menandatangani deklarasi di pembukaan KTT ke-47 ASEAN di Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (26/10/2025).

Tak lupa, Anwar juga memberikan selamat kepada Presiden Ramos Horta dan PM Xanana Gusmao atas status keanggotaan Timor Leste dalam ASEAN. Sambutan itu disampaikan Anwar karena saat ini Malaysia merupakan Ketua ASEAN.

Seusai memberikan sambutan, Anwar menyerahkan dokumen deklarasi itu kepada Sekjen ASEAN Kao Kim Hourn. Bendera Timor Leste pun ditempatkan bersama bendera negara-negara anggota ASEAN lain.

PM Timor Leste Xanana Gusmao, dalam sambutannya, menyampaikan apresiasi atas penerimaan Timor Leste sebagai anggota ASEAN. Ia menyebut deklarasi penerimaan itu sebagai sejarah baru karena Timor Leste sudah 14 tahun mengajukan permohonan menjadi anggota ASEAN.

”Kepercayaan, dukungan, dan solidaritas yang tak bertepi telah membuat hari bersejarah ini tiba. Jalan kami menuju keanggotaan ini sudah lama, tetapi bermanfaat. Sejak mengajukan aplikasi pada 2011, kami sudah menyiapkan lembaga-lembaga kami, mereformasi kebijakan, serta memperkuat kesiapan kami dipandu kebijaksanaan, dukungan, dan semangat ASEAN serta mitra-mitranya,” tuturnya.

Xanana pun menegaskan komitmen penuh Timor Leste pada Piagam ASEAN. Timor Leste siap bekerja dengan negara-negara anggota lain untuk menjaga kawasan tetap damai, terbuka, dan makmur, serta memastikan tak ada yang ditinggalkan.

”Untuk Timor Leste, awal ini membawa peluang luar biasa pada perdagangan, investasi, pendidikan, dan tata kelola pemerintahan yang baik, memperkuat institusi kami supaya bisa bekerja sama menuju pembangunan yang berkelanjutan. Ini bukan akhir perjalanan kami, tapi awal bab baru yang menginspirasi. Kami akan ikut bersama-sama mendorong visi ASEAN 2045,” tutur Xanana.

Mendefinisikan prioritas ASEAN

Sementara itu, dalam sambutannya, PM Anwar Ibrahim juga menyampaikan bahwa kepemimpinan di ASEAN bukanlah urusan rutin. Lebih dari itu, kepemimpinan adalah soal pilihan untuk mendefinisikan prioritas, memperbarui makna dan tujuan ASEAN, serta merumuskan arah yang layak bagi harapan rakyat.

Presiden Prabowo Subianto berbincang akrab dengan PM Malaysia Anwar Ibrahim (kiri) dan PM Kanada Mark Carney (kanan) di sela pembukaan KTT ke-47 ASEAN, Minggu (26/10/2025) pagi di Kuala Lumpur, Malaysia.

Sebab, menurut Anwar, tahun 2025 menjadi ujian besar bagi kawasan dan dunia. Tatanan global kini berada di persimpangan, dengan sistem lama yang rapuh sementara sistem baru belum terbentuk.

”Dunia tampak guncang, tatanan lama tak lagi pasti, dan tatanan baru belum didefinisikan. Di berbagai kawasan, kita lihat kontestasi menyebabkan ketidakpastian berkembang,” tuturnya.

Situasi global tersebut tidak hanya mengguncang stabilitas ekonomi, tetapi juga menguji keyakinan ASEAN terhadap pentingnya kerja sama dan dialog. Namun, menurut Anwar, di tengah berbagai tantangan global itu, ASEAN tetap menjadi kekuatan yang mampu bertahan karena memiliki dasar solidaritas dan saling menghormati.

”Kekuatan kita tidak terletak pada keseragaman, melainkan pada keyakinan bahwa sikap saling hormat dan akal sehat masih menyatukan kita. Pagi ini, ketika Kamboja dan Thailand menandatangani perjanjian perdamaian mereka di Kuala Lumpur, dunia melihat apa yang dapat dicapai oleh keyakinan itu. Ini mengingatkan kita bahwa rekonsiliasi bukanlah bentuk kelemahan, melainkan tindakan berani dan perdamaian, ketika dipilih, dapat membentuk kembali masa depan bangsa. Terima kasih kepada Perdana Menteri Thailand dan Perdana Menteri Kamboja,” tambah Anwar.

Ingatkan visi ASEAN

Dalam kesempatan itu, Anwar juga mengingatkan kembali soal visi ASEAN 2045 (ASEAN Community Vision 2045) yang diadopsi di Kuala Lumpur pada Mei lalu. ”Visi itu menyerukan kepada kita untuk memperkuat persatuan dan sentralitas ASEAN, mengejar pertumbuhan yang tangguh dan berkeadilan, serta melindungi kesejahteraan generasi mendatang,” katanya.

Presiden Prabowo Subianto dan para pemimpin ASEAN menandatangani deklarasi penerimaan Timor Leste sebagai negara anggota ASEAN di pembukaan KTT ke-47 ASEAN di Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (26/10/2025).

Anwar juga menyinggung mengenai upaya mendorong perdamaian di Myanmar. Menurutnya, diperlukan kesabaran dan konsistensi serta apresiasi yang jujur atas realitas yang terjadi.

”Dipandu Konsensus Lima Poin, ASEAN sudah menggunakan seluruh saluran dan mitra yang tersedia untuk mengurangi kekerasan dan meringankan krisis kemanusiaan. Namun, perdamaian yang langgeng tidak dapat dipaksakan—perdamaian itu harus dimiliki dan dipimpin sendiri oleh Myanmar. Hanya dengan demikian, rekonsiliasi akan bertahan,” tuturnya.

Meski demikian, menurut Anwar, perdamaian dan kemakmuran ASEAN selama hampir enam dekade harus terus diperbarui melalui kerja sama dan tujuan bersama. Untuk itu, ASEAN memperkuat hubungan ekonomi, memperluas perdagangan, dan mendorong daya saing.

Pembaruan Persetujuan Perdagangan Barang ASEAN yang akan diluncurkan di KTT ini, lanjutnya, akan menciptakan pasar kawasan yang semakin terintegrasi dan membuka skala ekonomi, efisiensi, serta peluang bagi para pelaku bisnis dan pekerja.

”Kita juga akan memajukan ASEAN Power Grid (APG). Fasilitas pembiayaan APG yang baru juga akan membantu menjembatani kesenjangan pembiayaan dan mempercepat transisi ke energi yang lebih bersih dan aman. Secara paralel, kita menuju Kerangka Ekonomi Biru ASEAN dan ekosistem kendaraan listrik kawasan, membangun fondasi industri hijau yang lebih berkelanjutan dan terus tumbuh,” kata Anwar.

Infografik riset laju pertumbuhan sejumlah negara di ASEAN.

Seluruh negara ASEAN juga sudah sepakat untuk mempercepat Persetujuan Kerangka Ekonomi Digital ASEAN pada 2026. Hal ini agar target pertumbuhan ekonomi digital menjadi 2 triliun dollar AS pada 2030 bisa tercapai.

Sementara untuk memastikan teknologi tetap sebagai pembantu, bukan malah menjadi tuan, negara-negara ASEAN juga mendirikan jejaring keamanan AI ASEAN (ASEAN AI safety network/ASEAN AI-safe). Ini akan menjaga etika, keamanan, dan kekuatan pemerintah dalam penggunaan AI.

Di sisi lain, meningkatnya proteksionisme dan pergeseran rantai pasok mengingatkan semua untuk mengandalkan adaptasi. ”ASEAN harus bertahan. Kita harus memiliki keberanian untuk membangun kemitraan baru dan memperkuat yang sudah ada. Dengan semangat itu, kami menjadi tuan rumah ASEAN GCC kedua dan KTT ASEAN GCC China awal tahun ini. Besok, kita juga akan menyelenggarakan KTT RCEP kelima untuk memajukan kawasan perdagangan bebas terbesar di dunia,” katanya.

Komitmen Indonesia

Sementara itu, Presiden Prabowo yang hadir dalam pembukaan KTT Ke-47 ASEAN tampak duduk di antara Sultan Brunei Darussalam Sultan Hassanal Bolkiah dan PM Kanada Mark Carney.

PM Malaysia Anwar Ibrahim menyambut Presiden Prabowo Subianto yang tiba di Kuala Lumpur Convention Center, Kuala Lumpur, untuk menghadiri pembukaan KTT ke-47 ASEAN, Minggu (26/10/2025) pagi.

Menurut rencana, Presiden Prabowo akan berbicara pada sesi pleno KTT Ke-47 ASEAN yang bertema ”Inclusivity and Sustainability”, Minggu siang. Prabowo juga akan menyampaikan pidato di sesi retret pada malam hari.

Tidak hanya itu, Presiden Prabowo juga dijadwalkan menghadiri rangkaian konferensi lainnya, yakni KTT ASEAN-Jepang, KTT ASEAN-India, dan KTT ASEAN-AS. Kehadiran Presiden pada KTT ini menegaskan komitmen Indonesia terhadap penguatan kerja sama dan solidaritas, tidak hanya di kawasan Asia Tenggara, tetapi juga dengan negara mitra di luar Asia Tenggara.

Melalui forum ini, Indonesia juga menegaskan tekad untuk terus mendorong kolaborasi konkret antarnegara anggota dalam menghadapi tantangan global, memperkuat konektivitas, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat ASEAN dan negara mitra ASEAN di luar Asia Tenggara.









Kerabat Kerja

Penulis:

Nina Susilo
 | 

Editor:

Anita Yossihara
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto