Kualitas Udara Membaik, tetapi Belum Bebas dari Polusi

Kualitas udara ambien membaik, tetapi kualitas udara di pinggir jalan burik atau tidak sehat sekalipun ada hujan.

30 Nov 2024 20:41 WIB · Metro

Oleh Aguido Adri

JAKARTA, KOMPAS — Dua hari terakhir kualitas udara di Jakarta menunjukkan baik dan sedang. Meski begitu, secara keseluruhan, masyarakat belum bebas dari polusi pencemaran udara, terutama dari kendaraan bermotor.

Indeks kualitas udara (AQI⁺) dan polusi udara PM 2,5 di Jakarta pada pukul 17.00 menunjukkan kualitas udara sedang dengan indeks konsentrasi AQ 61, mengacu pada PM 2,5 dengan konsentrasi 14,5 mikrogram per meter kubik.

Dari peta kualitas udara Jakarta setidaknya ada delapan titik yang memiliki kualitas baik dengan indeks konsentrasi AQ 33 hingga 50. Hanya satu wilayah masuk kategori tidak sehat dengan indeks konsentrasi AQ 137.

Kualitas udara Sabtu sore menurun jika dibanding pada Sabtu siang. Data pada pukul 13.00 menunjukkan kualitas udara di Jakarta baik dengan indeks konsentrasi AQ 33, mengacu pada PM 2,5 dengan konsentrasi 6 mikrogram per meter kubik.

Secara rata-rata, dari Rabu hingga Sabtu (27-30/11/2024), kualitas udara di Jakarta masuk kategori sedang.

Beberapa hari terakhir kualitas udara di Jakarta terpantau cerah. Seperti pada Sabtu (30/11/2024) sore, tampak senja cerah dari gedung perkantoran di Jakarta.

Cuaca cerah ini dimanfaatkan betul oleh Mery Amelia (29), warga Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, untuk menghabiskan waktu berjalan-jalan. Ia bersama teman-temannya berencana menghabiskan waktu ke Pantai Indah Kapuk 2, Kabupaten Tangerang, untuk menikmati suasana senja sore.

”Senang kalau udara Jakarta bisa bersih cerah. Tetap khawatir kalau hujan sebenarnya. Tapi kalau enggak hujan, Jakarta lagi bagus ini,” kata Mery, Sabtu (30/11/2024).

Jakarta yang akrab dengan selimut polusi membuat Mery tak nyaman. Walakin, Mery pun berharap kondisi Jakarta bisa terus cerah dan kualitas udaranya sehat.

”Kayak sesuatu aja kalau Jakarta itu bersih,” kata Mery.

Suasana di Pantai Indah Kapuk 2, Kabupaten Tangerang, tampak cerah, Sabtu (30/11/2024). Suasana langit cerah ini diabadikan oleh Mery Amelia saat berkumpul bersama teman-temannya.

Udara yang tampak bersih ini juga dimanfaatkan Vania Larissa (31) untuk berolahraga di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

”Saya joging pas udara di Jakarta bagus. Kalau udara buruk malah khawatir kesehatan. Pas hari libur pas udara bersih, pas untuk olahraga. Kebetulan saja sering pantau juga kualitas udara di medsos juga,” tutur Vania.

Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin menjelaskan, jika merujuk pada data stasiun pemantau kualitas udara (SPKU), udara di Jakarta menunjukkan kualitas baik dan sedang. Kondisi udara ini sudah berlangsung beberapa hari terakhir.

Faktor kualitas udara Jakarta ini dipengaruhi karena Jakarta dan wilayah sekitarnya telah memasuki musim hujan. Faktor lainnya karena pengaruh arah angin.

Menurut Ahmad, meski udara di Jakarta cenderung membaik, bukan berarti warga bebas dari polusi.

”Hujan cukup menolong menurunkan polusi di Jakarta. Hujan membilas polutan. Namun, polusi atau pencemaran udara tetap ada dan berbahaya bagi kesehatan,” ujar Ahmad, Sabtu.

Ia menjelaskan, ada dua variabel untuk melihat pencemaran udara. Pertama, kualitas udara ambien atau di atmosfer yang dihitung di atas 5 meter dari permukaan tanah.

Kondisi kemacetan lalu lintas di salah satu jalan di Jakarta Barat, Sabtu (30/11/2024).

Kualitas udara ambien ini salah satunya ditentukan oleh faktor cuaca. Jika musim hujan, kualitas udara membaik. Namun, jika kemarau, tidak ada angin, atau arah angin dari laut ke darat, maka kecenderungan polusi sangat tinggi.

Quote

Hujan membilas polutan.

Seperti pada 2023 ketika terjadi musim kemarau panjang sehingga kualitas udara sangat buruk atau tinggi polutan di Jakarta dan sekitarnya.

Kedua, lanjut Ahmad, kualitas udara side road atau di pinggir jalan. Tidak peduli hujan, pencemaran udara atau polusi tetap tinggi.

”Kenapa? Karena salah satunya keberadaan kendaraan. Lalu pembangunan infrastruktur dan pembangunan gedung yang menyumbang polutan debu, hingga keberadaan pabrik dan kebiasaan membakar sampah,” kata Ahmad.

Polusi udara di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (8/5/2024). KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 8-5-2024

Oleh karena itu, meski kualitas udara ambien membaik, sisi lainnya, kualitas udara pinggir jalan tetap memburuk. Kualitas udara di pinggir jalan akan membaik jika kendaraan berkurang. Kenyataannya, setiap hari tingkat lalu lintas kendaraan di Jabodetabek masih tinggi.

”Kita masih dalam ancaman polusi yang bisa mengganggu kesehatan. Pencemaran udara tetap ada dan tinggi meski kualitas udara atmosfer baik dan cerah. Positifnya, saat ini kita lihat langit lebih cerah biru, pemandangan gedung tinggi terlihat jelas, dan gunung di Bogor pun terlihat,” tutur Ahmad.

Menurut dia, yang perlu menjadi perhatian dan penanganan serius justru memperbaiki kualitas udara road side di pinggir jalan.

”Caranya, memasifkan pengunaan transportasi publik, pengaturan atau kebijakan bahan bakar bertimbal pada truk dan kendaraan lain, tidak membakar sampah, hingga menertibkan pabrik-pabrik nakal,” ucap Ahmad.

Penanganan serius ini bukan tanpa alasan, transportasi merupakan penyumbang polutan tertinggi sekitar 57 persen pada PM 2,5 di Jabodetabek. Lalu, pada PM 10, transportasi menyumbang 70 persen hidrokarbon dan karbon monoksida.

Tingginya jumlah kendaraan bermotor dan truk serta konsumsi bahan bakar bertimbal, kata Ahmad, menyebabkan kualitas udara di Jabodetabek tak pernah sehat.

Kendaraan melalui jalan layang Slipi dengan latar belakang gedung-gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi udara di kawasan Jakarta Barat, Minggu (28/7/2024). Menurut data AirVisual, situs penyedia peta polusi daring harian kota-kota besar di dunia, pada pukul 14.00 kemarin, nilai Indeks Kualitas Udara (AQI) kota Jakarta adalah 177 atau masuk ke dalam kategori tidak sehat. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK) 28-07-2024

Jika merujuk pada data Badan Pusat Statistik tahun 2021, terdapat 16,5 juta sepeda motor di Jakarta. Tercatat juga ada 4,1 juta mobil penumpang, 785.000 truk, serta 342.000 bus di Ibu Kota.

Berdasarkan pemetaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan World Resources Institute Indonesia dalam program USAID Clean Air Catalyst, kendaraan berat seperti truk menjadi penyumbang utama polutan, PM 10, PM 2,5, karbon hitam, nitrogen oksida (NOx), dan sulfur dioksida (SO2). Sementara sepeda motor lebih banyak menyumbang emisi karbon monoksida (CO) dan senyawa organik volatil non-metana (NMVOC).

”Jadi, kita tidak sepenuhnya bebas dari polusi. Pencemaran udara masih mengintai dan mengancam kita. Lalu, apakah juga kita akan terus mengandalkan alam. Mau sampai kapan? Justru untuk menjaga kualitas udara baik dan sehat kita butuh kebijakan kuat pemerintah yang sayangnya itu belum terlihat,” kata Ahmad.

Ia juga menegaskan, permasalahan pencemaran udara bukan semata urusan Jakarta saja, tetapi juga di Jabodetabek. Oleh karena itu, penting setiap pemerintah daerah dan pusat melihat isu kesehatan masyarakat sebagai prioritas utama untuk menangani pencemaran udara.


Kerabat Kerja

Penulis:

Aguido Adri
 | 

Editor:

Siwi Yunita Cahyaningrum