Amerika Serikat mengatur ekspor minyak Venezuela sesuai kepentingan keamanan AS. Hasil minyak Venezuela digunakan membeli produk pertanian dan obat dari AS.
08 Jan 2026 09:35 WIB · Internasional
AFP/Margioni BERMÚDEZ
WASHINGTON DC, KAMIS — Setelah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Amerika Serikat kembali melancarkan operasi untuk menguasai minyak Venezuela. AS menangkap kapal tanker Rusia, Marinera, di perairan Samudra Atlantik dekat Eslandia.
Tanker tersebut mengangkut minyak dari Venezuela dengan tujuan Rusia. Moskwa mengecam penggunaan kekuatan AS dalam pengejaran dan penangkapan kapal tanker itu, serta mendesak dibebaskannya para awak kapal.
Dengan langkah itu, Presiden AS Donald Trump berusaha mempertegas cengkeramannya atas minyak Venezuela. Ia juga berniat mengendalikan produksi dan penjualan minyak Venezuela serta memaksa Pemerintah Venezuela bekerja sama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/08/1b529eb8346ed015518a02fa91430d34-Op_ration_en_cours_des_forces_am_ricaines_pour_prendre_le_contr_le_d_un_p_trolier_russe_dans_l_Atlantique.jpg)
Kapal tanker Rusia yang ditangkap militer AS itu sudah diburu sepekan lebih di perairan Atlantik. Pada Rabu (7/1/2026), Penjaga Pantai AS dan Pasukan Khusus AS dengan dalih penegakan hukum menangkap tanker Marinera yang menolak pemeriksaan AS pada bulan lalu. Kini tanker tersebut ditangkap dalam posisi mengibarkan bendera Rusia.
Operasi AS tersebut didukung Angkatan Udara Inggris (RAF) dengan salah satu pesawatnya. Menteri Pertahanan Inggris John Healy mengatakan, langkah tersebut sebagai upaya global untuk menindak pelanggaran sanksi. ”Ada sebuah kapal selam dan kapal Rusia di dekat tanker yang ditangkap. Penangkapan tersebut berisiko konfrontasi dengan militer Rusia yang sedang berseberangan dengan Barat karena Perang Rusia-Ukraina,” kata Healy.
Rusia mengecam keras tindakan AS menangkap kapal tanker berbendera Rusia. ”Sesuai Konvensi Hukum Laut PBB tahun 1982, kebebasan navigasi diberlakukan di samudra dan tidak ada negara yang berhak menggunakan kekerasan untuk menangkap kapal resmi yang berada di bawah yurisdiksi suatu negara,” demikian keterangan Kementerian Perhubungan Rusia.
Kapal tersebut mengganti identitas sementara dari Bella-1 menjadi Marinera dan diizinkan mengibarkan bendera Rusia sejak 24 Desember 2025. Kementerian Perhubungan Rusia menyebutkan, komunikasi dengan Marinera terputus setelah militer AS menyerbu kapal di perairan internasional.
Kremlin belum memberikan tanggapan resmi atas penangkapan tanker karena di Rusia sedang libur panjang merayakan Natal Ortodoks yang berlangsung setiap 7 Januari.
Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan memiliki informasi tentang warga negara Rusia di antara awak kapal Marinera. Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan kantor berita Rusia Tass dan RIA Novosti, mereka menuntut agar ”Amerika memastikan perlakuan yang manusiawi dan bermartabat terhadap mereka, menghormati hak dan kepentingan mereka secara ketat, dan tidak menghalangi kepulangan mereka dengan cepat ke tanah air mereka”.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/01/26a6a59b-527a-4edf-b465-77b1be48cd6a.jpg)
”Tanker tersebut menggunakan identitas palsu sebagai kapal Rusia. Mereka menggunakan identitas sebagai kapal Rusia agar bisa meloloskan diri dari sanksi terhadap ekspor minyak Venezuela,” kata Wakil Presiden AS JD Vance dalam wawancara dengan Fox News.
Sebelumnya pada hari yang sama, Penjaga Pantai AS mencegat kapal tanker berbendera Panama yang mengangkut minyak Venezuela di timur laut Amerika Latin. Pejabat AS mengatakan, ini penangkapan keempat dalam beberapa pekan terakhir. Tanker tersebut bermuatan penuh, menurut perusahaan minyak negara Venezuela PDVSA.
AS disebut mengincar armada bayangan, yakni tanker yang mengangkut minyak dari Venezuela dan Iran yang dikenai sanksi AS dan Barat. Tanker Marinera yang sebelumnya bernama Bella-1 dan M Sophia disebut sebagai bagian dari armada bayangan.
”Angkutan minyak yang diizinkan hanya yang sesuai dengan hukum AS dan keamanan nasional AS,” kata Stephen Miller, Wakil Kepala Staf Gedung Putih, dalam keterangan tertulis.
”Ada peluang besar bagi pengembangan ekonomi sektor energi Venezuela melalui hubungan dagang dengan Amerika Serikat,” kata Miller.
Jaksa Agung AS Pam Bondi dalam keterangan tertulis menyatakan, para awak kapal Marinera dalam ketakutan berusaha menghindari penangkapan dan tidak mematuhi perintah Penjaga Pantai AS. Dengan demikian, mereka akan dituntut hukum pidana oleh AS.
Trump secara terbuka menyatakan berniat mengendalikan cadangan minyak Venezuela setelah memenjarakan Maduro. Minyak Venezuela akan dihubungkan dengan pebisnis minyak AS.
Melalui Truth Social, Trump menyatakan, Venezuela akan menggunakan uang hasil penjualan minyaknya untuk membeli berbagai barang produksi AS, termasuk komoditas pertanian dan obat-obatan. ”Dengan kata lain, Venezuela berkomitmen melakukan bisnis dengan Amerika Serikat sebagai mitra utama,” kata Trump.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan, minyak yang diambil dari kapal-kapal yang dikenai sanksi dan disita di Atlantik Utara dan Laut Karibia akan dijual sebagai bagian dari kesepakatan yang diumumkan Trump pada Selasa. Kesepakatan itu menyebutkan, Venezuela akan menyediakan hingga 50 juta barel minyak kepada AS.
”Pemerintah sementara Venezuela menginginkan minyak yang disita itu menjadi bagian dari kesepakatan ini,” kata Rubio kepada wartawan, Rabu.
”Mereka memahami bahwa satu-satunya cara mereka dapat memindahkan minyak dan menghasilkan pendapatan serta menghindari keruntuhan ekonomi adalah jika mereka bekerja sama dengan Amerika Serikat.”
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/08/819bd04b062dfbef490ccb348d164c88-wires_photo_2026_01_08T080114.467.jpg)
Dalam wawancara dengan Fox News, dalam program Jesse Watters Primetime, Vance juga mengutarakan agar AS mengendalikan cadangan minyak Venezuela. ”Kita kuasai sumber energi dan mengatur rezim Venezuela sehingga mereka bebas menjual minyak selama sesuai dengan kepentingan keamanan nasional AS. Anda dilarang menjual minyak kalau tidak sesuai dengan kepentingan AS,” katanya.
Pada Selasa, Trump menyatakan, AS akan mengilang minyak dan menjual 50 juta barel minyak mentah Venezuela yang dijatuhi sanksi AS. Itu merupakan tahap pertama memulihkan industri minyak di negeri yang produksinya menurun karena sanksi ekonomi dan berbagai masalah teknis produksi.
Untuk mewujudkan rencana tersebut, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt kepada wartawan mengungkapkan, Trump secara selektif menghapus sanksi terhadap minyak Venezuela.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/08/11ddc6b881883cf23eeb5298a3559f7d-wires_photo_2026_01_08T080139.100.jpg)
Pemerintah AS menyatakan, penjualan akan berlanjut tanpa batas waktu, dengan hasil penjualan akan masuk ke rekening yang dikendalikan AS di ”bank-bank yang diakui secara global”. Uang tersebut akan didistribusikan kepada penduduk AS dan Venezuela atas kebijakan pemerintahan Trump.
Perusahaan minyak milik negara Venezuela, PDVSA, menyatakan sedang bernegosiasi dengan Pemerintah AS untuk penjualan minyak mentah.
”Proses ini dikembangkan berdasarkan skema yang mirip dengan yang berlaku dengan perusahaan internasional, seperti Chevron, dan didasarkan pada transaksi komersial murni, dengan kriteria legalitas, transparansi, dan manfaat bagi kedua belah pihak,” kata perusahaan tersebut dalam pernyataan. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Nur Adji