Indonesia dan Kuba punya ikatan sejarah kuat selama enam dekade lebih. Akan tetapi, kerja sama ekonomi kedua negara belum terealisasi secara optimal.
11 Feb 2025 15:00 WIB · Internasional
Tahun ini, hubungan diplomatik Indonesia dan Kuba berusia 65 tahun. Terlepas dari ikatan sejarah yang ada, pekerjaan rumah menumpuk untuk memperkuat kerja sama ekonomi kedua negara. Tidak mudah, sebab ada perbedaan geografis dan embargo Amerika Serikat masih membelenggu Kuba.
Pada Juli 1959, Ernesto ”Che” Guevara atas perintah Perdana Menteri Fidel Castro Ruz bertemu Presiden Soekarno di Indonesia. Setahun kemudian, tepatnya 22 Januari 1960, hubungan diplomatik kedua negara terbentuk. Bung Karno balik mengunjungi Kuba pada April 1960 yang menjadi kunjungan perdana oleh kepala negara setelah Revolusi Kuba.
Romantisasi hubungan masa lalu kedua negara terlihat dalam resepsi perayaan hubungan diplomatik di Aston Priority Simatupang Hotel and Conference, Jakarta, 22 Januari lalu. Foto-foto pertemuan Bung Karno, Che Guevara, dan Fidel Castro terpampang selama acara, seolah untuk mengingatkan persahabatan lama yang sudah terjalin.
”Pembicaraan Soekarno dengan Fidel Castro meletakkan dasar bagi hubungan bilateral. Kedua negara telah menikmati periode kerja sama yang erat dan berkelanjutan, yang ditandai dengan kesepakatan bersama mengenai masalah-masalah yang penting secara global,” kata Duta Besar Kuba untuk Indonesia Dagmar Gonzalez Grau.
Dalam wawancara pada Senin (10/2/2025), Grau menjelaskan, kedua negara telah bekerja sama di berbagai sektor, seperti kesehatan, olahraga, pariwisata, bioteknologi, dan pelatihan sumber daya manusia. Namun, realisasi perdagangan antara kedua negara masih sangat rendah, tidak sampai 100 juta dollar AS dalam setahun.
Mengutip situs Kementerian Perdagangan Indonesia, nilai perdagangan bilateral Kuba-Indonesia menunjukan tren peningkatan. Total perdagangan mencapai 10,5 juta dollar AS pada 2024, meningkat dibandingkan 9,4 juta dollar AS pada 2023 dan 6,8 juta dollar AS pada 2019 sebelum pandemi Covid-19. Namun, tahun 2021 mencatat rekor tertinggi dalam enam tahun terakhir, yaitu 13,3 juta dollar AS.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/11/29202d8e-ccca-41f7-9003-3ff5c29ed161_jpg.jpg)
Perdagangan barang secara langsung sedikit karena masalah jarak geografis dan keterbatasan fasilitas finansial. Pengusaha, misalnya, kesulitan mengakses kartu Visa atau MasterCard untuk berbisnis akibat embargo AS. Banyak produk dipasarkan melalui pasar ketiga. Grau mencontohkan, perusahaan Spanyol menggunakan minyak sawit Indonesia untuk membuat kosmetik yang selanjutnya dijual di Kuba.
Dari sisi investasi, perusahaan hotel Archipelago yang berbasis di Jakarta sudah mengoperasikan lima hotel di Kuba. Grau berpendapat, kedua negara saat ini bisa mengeksplorasi kerja sama bidang literasi sebab Kuba punya program pembelajaran Yes, I Can yang populer.
Grau melanjutkan, Indonesia-Kuba harus menemukan peluang bisnis yang saling menguntungkan, mengandalkan nota kesepahaman, dan mengatasi hambatan geografis. ”Ditambah dengan kreativitas dan penggunaan teknologi baru,” ucapnya.
Di Asia, mitra dagang terbesar Kuba adalah China dan Vietnam. Baru-baru ini, Kuba dan China berkolaborasi membuat taman fotovoltaik untuk mengatasi krisis energi Kuba. Adapun Vietnam sudah membangun kawasan industri ViMariel di Zona Pengembangan Khusus Mariel yang memproduksi furnitur, ubin lantai, dan perlengkapan bayi.
Menurut Grau, posisi Kuba di Karibia cocok untuk berbisnis lantaran bisa menjadi basis ke pasar negara Amerika Latin lain. Bisnis Archipelago, misalnya, menyebar ke Republik Dominika setelah berbisnis di Kuba.
Lewat pernyataan pers, Duta Besar Indonesia untuk Kuba Nana Yuliana mengatakan, kedua negara telah menandatangani lima kesepakatan penting dalam empat tahun terakhir, antara lain nota kesepahaman bebas visa untuk paspor diplomatik dan dinas, serta kerja sama sains, teknologi, dan inovasi. ”Potensi Kuba dalam industri pariwisata serta pertambangan nikel dan kobalt membuka peluang kerja sama yang lebih luas,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/11/ac71620c-a030-4127-a477-8a8fda467c55_jpg.jpg)
Perekonomian Kuba terbelenggu oleh embargo ekonomi AS. Lewat Perintah Eksekutif 3447, Presiden AS John F Kennedy mengumumkan embargo perdagangan atas Kuba pada Februari 1962. Dasar putusan itu adalah keberpihakan Kuba pada kekuatan komunis yang tidak sejalan dengan prinsip AS.
Embargo kepada Kuba berlaku sampai sekarang sehingga menjadi salah satu boikot terlama di dunia oleh satu negara ke negara lain. Kehadiran Undang-Undang Helms-Burton alias Libertad pada 1996 makin menjegal perdagangan luar negeri dan investasi asing di Kuba.
”Ekonomi Kuba mendapat tekanan luar biasa pada industri, penyediaan layanan, perdagangan retail, makanan, obat-obatan, serta tingkat konsumsi dan kesejahteraan umum penduduk. Tujuan embargo adalah menciptakan kekurangan dan keputusasaan penduduk untuk menggulingkan pemerintah,” tutur Grau.
Hubungan diplomatik Kuba-AS naik turun di era Presiden Barack Obama sampai Presiden Donald Trump menjabat sekarang. Pada 31 Januari 2025, Trump kembali menaruh Kuba dalam daftar negara sponsor terorisme (SST). Grau pesimistis terkait relasi AS-Kuba di era Trump.
”Seperti 60 tahun terakhir, Kuba akan terus berjuang untuk kedaulatan, kemerdekaan, dan melawan masalah embargo ini. Kami juga terus mencari cara untuk bertumbuh, misalnya dengan menjadi mitra forum ekonomi BRICS,” tuturnya.
Grau menambahkan, dukungan Indonesia untuk Kuba sangat berarti karena sama-sama mendukung multilateralisme dan negara nonblok. Indonesia konsisten memberi suara di Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mendukung resolusi agar embargo ekonomi oleh AS atas Kuba berakhir. ”Kami harap Indonesia terus mendukung,” ujarnya.
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra