Kurs Rupiah Paling Lemah Lima Tahun Terakhir

Geopolitik Amerika Serikat dan domestik mengguncang pelemahan rupiah, harga emas, hingga pasar modal.

28 Feb 2025 19:48 WIB · Ekonomi

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS terus diuji kekuatannya. Kurs rupiah ada di posisi Rp 16.596 pada perdagangan Jumat (28/2/2025) sore, menjadikannya yang terdalam dalam lima tahun terakhir. Dinamika ekonomi dan geopolitik Amerika Serikat dan domestik turut memengaruhi pergerakan harga tersebut.

Mata uang rupiah ditutup melemah 141 poin setelah dari penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp 16.454 per dollar AS. Posisi ini menjadikan nilai tukar rupiah terlemah sejak Maret 2020, setelah penetapan status pandemi Covid-19 di seluruh dunia.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya memperkirakan, nilai tukar rupiah berpotensi terus melemah, dengan rentang Rp 16.580-Rp 16.670 per dollar AS, hingga perdagangan Senin (3/3/2025) depan. 

Grafis kurs dollar AS terhadap rupiah hingga akhir Februari 2025.

Fluktuasi nilai tukar rupiah yang buruk sejauh ini dipengaruhi banyak faktor. Salah satu faktor yang signifikan adalah kekhawatiran pelaku pasar akan dampak dari banjir pengumuman kebijakan terkait energi yang dibuat oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump kepada beberapa mitra dagangnya bulan ini.

Kebijakan Trump membuat perdagangan emas ikut fluktuatif. Emas dunia diperdagangkan di sekitar harga 2.860 dollar AS per ons pada Jumat atau di level koreksi mingguan pertamanya dalam sembilan minggu terakhir.

Trading Economics mencatat, meskipun terjadi penurunan, komoditas emas tetap berada di jalur untuk kenaikan bulanan setelah berulang kali mencetak rekor tertinggi. Hal ini salah satunya didorong oleh permintaan komoditas safe haven.

Pasar luar negeri juga mencermati efek data pengangguran AS yang melonjak lebih dari yang diharapkan pada minggu sebelumnya dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat pada triwulanan keempat 2024. ”Pasar kemudian menunggu rilis indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi AS pada hari Jumat waktu setempat, untuk mencari wawasan tentang keputusan suku bunga The Federal Reserve di masa mendatang,” kata Ibrahim.

Dari internal, pasar merespons negatif berlanjutnya pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri manufaktur imbas banyaknya pabrik yang menutup operasinya, baik karena kebangkrutan maupun hengkangnya investor asing dari Indonesia. Hal ini seperti terjadi di pabrik tekstil, Sritex, yang mem-PHK sekitar 10.000 buruh per 1 Maret 2025.

Pemerintah, menurut Ibrahim, sadar betul hubungan perlambatan pertumbuhan ekonomi dengan tren penyusutan jumlah masyarakat kelas ekonomi menengah. Bahkan, pergeseran struktur kelas masyarakat itu menjadi pembahasan khusus dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.

”Pakar khawatir jumlah kelas menengah akan terus menyusut apabila tidak ada aksi perkuat sektor industri,” ujarnya.

Infografik riset Jumlah Pekerja yang Terkena PHK 2023-2024

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat setidaknya 9,4 juta penduduk kelas menengah telah ”turun kasta” ke kelompok calon kelas menengah selama 2019 sampai dengan 2024. Akibatnya pada 2024, jumlah kelas menengah menjadi 47,85 juta atau setara 17,13 persen dari total penduduk Indonesia. Ini lebih rendah dari proporsi kelas menengah yang mencapai 57,33 juta atau setara 21,45 persen dari total penduduk di 2019.

Dalam menanggapi pelemahan rupiah, perusahaan manajer investasi Eastspring Investments menyoroti intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar keuangan untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan valuta asing, guna menjaga stabilitas dan kepercayaan pasar. Kebijakan BI membuat imbal hasil Surat Berharga Negara tenor 10 tahun naik 1 basis poin menjadi 6,93 persen.

Selain nilai tukar rupiah, pelemahan juga terjadi di pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan Jumat melemah 3,31 persen ke level 6.270. IHSG terus tertekan akibat aksi jual investor asing yang meluas dan membebani sentimen di berbagai sektor.

Beberapa saham yang mengalami penurunan terdalam adalah BBRI (-7,44 persen), ΤΡΙΑ (-11,26 persen), ΤΙKM (-5,62 persen), BBNI (-7,14 persen), dan AMMN (-5,07 persen). Penurunan saham Bank BRI terutama dipicu oleh kinerja keuangan bulan Januari yang kurang memuaskan, dengan laba turun minus 58 persen secara bulanan dan minus 58 persen secara tahunan menjadi Rp 2 triliun. Kinerja keuangan ini terjadi karena kenaikan biaya kredit sebesar 5,6 persen.

Bersamaan dengan nilai tukar rupiah yang melemah, Eastsprings dalam laporan analisa pasarnya menyebut, pasar saham dalam negeri mengalami tekanan akibat faktor kebijakan Trump. Situasi ikut mengguncang pasar saham Asia, dengan indeks regional mencatat penurunan harian terbesar dalam hampir sebulan.

”Tekanan jual yang signifikan dalam beberapa bulan terakhir telah mendorong IHSG ke level terendah sejak tahun 2021, dengan pasar saham Indonesia mulai memasuki wilayah bearish, koreksi mendekati 21 persen dari puncaknya pada September 2024, mencerminkan meluasnya tekanan jual di tengah meningkatnya sentimen risk-off dan ketidakpastian pasar,” kata mereka dalam rilis Jumat.

Dalam menghadapi tekanan pasar akibat aksi jual investor asing, investor jangka panjang disarankan untuk tetap tenang dan tetap berpegang pada strategi investasi yang direncanakan karena pemulihan pasar mungkin memerlukan waktu.



Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Aris Prasetyo