Sekalipun terjadi La Nina, yang merupakan fase pendinginan setelah El Nino, suhu global pada Januari dan Februari 2025 terus memanas.
07 Mar 2025 08:20 WIB · Humaniora
JAKARTA, KOMPAS — Suhu permukaan laut yang saat ini lebih dingin daripada rata-rata di Pasifik khatulistiwa diperkirakan kembali normal, menandai segera berakhirnya fase La Nina yang berlangsung sejak Desember 2024. Sekalipun terjadi La Nina, yang merupakan fase pendinginan setelah El Nino, suhu global pada Januari dan Februari 2025 terus memanas hingga melebihi 1,5 derajat celsius dari rata-rata tahun 1850.
Prediksi musiman yang dikeluarkan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada Kamis (6/3/2025) menunjukkan, fase La Nina kemungkinan hanya berlangsung sebentar. Suhu permukaan laut yang saat ini lebih dingin daripada rata-rata di Pasifik khatulistiwa akan kembali normal.
Menurut analisis ahli dari WMO, ada 60 persen kemungkinan kondisi akan beralih kembali ke kondisi netral ENSO, bukan El Niño maupun La Niña, selama Maret-Mei 2025. Kondisi netral El Niño-Southern Oscillation (ENSO) meningkat menjadi 70 persen untuk April–Juni 2025.
Kemungkinan berkembangnya El Niño dapat diabaikan selama periode prakiraan pada Maret hingga Juni. Namun, ketidakpastian dalam prakiraan jangka panjang lebih tinggi dari biasanya karena adanya hambatan prediktabilitas musim semi boreal.
”Prakiraan musiman untuk El Niño dan La Niña serta dampak terkaitnya pada pola cuaca dan iklim secara global merupakan alat penting untuk memberikan peringatan dini dan tindakan dini, serta merupakan salah satu dari serangkaian layanan yang ditawarkan komunitas WMO untuk mendukung pengambilan keputusan,” kata Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/07/e38aa64228ea3b89956712df0c894f4d-Factsheet_ENSO_Update_February_2025_en_pdf.png)
Menurut Saulo, prakiraan ini seharusnya bisa membantu menghasilkan penghematan ekonomi senilai jutaan dolar untuk sektor-sektor utama seperti pertanian, energi, dan transportasi, serta menyelamatkan ribuan nyawa selama bertahun-tahun dengan memungkinkan kesiapsiagaan risiko bencana.
La Niña mengacu pada pendinginan skala besar suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator tengah dan timur, ditambah dengan perubahan sirkulasi atmosfer tropis, termasuk perubahan angin, tekanan, dan pola curah hujan. La Niña biasanya membawa dampak iklim yang berkebalikan dengan El Niño, terutama di wilayah tropis.
Februari 2025 melanjutkan rekor atau mendekati rekor suhu yang diamati selama dua tahun terakhir.
Namun, menurut Saulo, perubahan iklim yang disebabkan manusia saat ini menjadi faktor yang memengaruhi peristiwa iklim yang terjadi secara alami seperti La Niña dan El Niño. Perubahan iklim meningkatkan suhu global, memperburuk cuaca dan iklim ekstrem, serta memengaruhi curah hujan musiman dan pola suhu.
Indikasi dampak perubahan iklim adalah terjadinya pemanasan yang berlanjut selama Januari, sekalipun masih dalam fase La Niña. Bahkan, Januari 2025 menjadi yang terpanas yang pernah tercatat.
Sebelumnya, para ilmuwan iklim memprakirakan gelombang panas luar biasa di seluruh dunia akan mereda setelah peristiwa El Niño yang memanas mencapai puncaknya pada Januari 2024 dan kondisi secara bertahap beralih ke fase La Niña yang mendingin.
Laporan terbaru Layanan Perubahan Iklim Copernicus menunjukkan, kenaikan suhu Bumi terus berlanjut dengan suhu pada Februari 2025 mencapai 1,59 derajat celsius, lebih panas dibandingkan 1850. Bahkan, di dekat Kutub Utara, suhu melonjak hingga 11 derajat celsius.
Sementara Februari 2025 tercatat menjadi rekor terpanas ketiga sepanjang sejarah, dengan emisi gas rumah kaca yang memanaskan planet memicu suhu global. Dalam 20 bulan sejak pertengahan 2023, hanya Juli tahun lalu suhu turun di bawah 1,5 derajat celsius.
”Februari 2025 melanjutkan rekor atau mendekati rekor suhu yang diamati selama dua tahun terakhir,” kata Samantha Burgess dari Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa, yang mengelola pemantau iklim Copernicus.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/10/72b35a891da012542c4c1edfa97c886c-an_arctic_meltdown_is_1.jpg)
Menurut Samantha, salah satu konsekuensi dari dunia yang lebih hangat adalah mencairnya es laut. ”Rekor rendah tutupan es laut di kedua kutub telah mendorong luasan es laut global ke titik minimum sepanjang masa,” katanya.
Pemanasan ini membantu mendorong es laut Antarktika dan Arktik, yaitu air laut yang membeku dan mengapung di permukaan, mencapai ke rekor luas minimum sebesar 16,04 juta kilometer persegi pada 7 Februari. Es laut Antarktika berada 26 persen di bawah rata-rata sepanjang Februari.
Menurut Samantha, berkurangnya lapisan es berdampak serius terhadap cuaca, manusia, dan ekosistem, tidak hanya di wilayah tersebut, tetapi juga secara global. Ketika salju dan es yang memantulkan cahaya berubah menjadi lautan biru tua, jumlah energi matahari yang seharusnya dipantulkan kembali ke luar angkasa menjadi diserap oleh air. Hal ini pada akhirnya mempercepat laju pemanasan global.
Arktik, tempat lapisan es biasanya tumbuh hingga mencapai titik tertinggi musim dingin tahunan pada Maret, juga sama. Kawasan ini telah mengalami rekor terendah lapisan es bulanan sejak Desember, dengan lapisan es Februari 8 persen di bawah rata-rata untuk bulan tersebut.
Luas es laut global terendah yang tercatat saat ini yang terungkap analisis Copernicus menjadi perhatian serius karena mencerminkan perubahan besar di Arktik dan Antarktika. Suhu laut dan atmosfer yang hangat ”dapat menyebabkan kegagalan es untuk tumbuh kembali” di Antarktika selama musim dingin di belahan bumi selatan.
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Adhitya RamadhanPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari