Sekalipun saat ini terjadi La Nina, suhu bulan Januari 2025 mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, menandai terjadinya perubahan iklim.
06 Feb 2025 18:19 WIB · Humaniora
JAKARTA, KOMPAS — Suhu Bumi terus memanas hingga mencapai rekor bulanan pada Januari 2025 meskipun saat ini terjadi La Nina dan musim dingin di sebagian wilayah. Rekor baru ini diumumkan bersamaan dengan studi baru dari pakar ilmu iklim yang menemukan bahwa pemanasan global kini semakin cepat dan diprediksi bakal naik hingga dua derajat celsius pada 2045.
Rekor suhu bulanan ini diumumkan Layanan Iklim Eropa Copernicus pada Kamis (6/2/2025). Menurut data mereka, Januari 2025 secara global lebih panas 0,09 derajat celsius daripada Januari 2024, sekaligus memecahkan rekor sepanjang sejarah pencatatan. Januari 2025 ini sudah 1,75 derajat celsius lebih panas daripada sebelum masa Revolusi Industri tahun 1850.
Dengan rekor suhu bulanan terbaru ini, kini sudah bulan ke-18 dari 19 bulan terakhir di mana dunia mencapai atau melampaui batas pemanasan yang disepakati secara internasional sebesar 1,5 derajat celsius di atas masa pra-industri. Sementara itu, proksi dari lingkaran pohon menunjukkan bahwa era ini adalah yang terhangat dalam sekitar 120.000 tahun atau sejak dimulainya peradaban manusia modern (Homo sapiens).
Samantha Burgess, Direktur Layanan Iklim Eropa Copernicus, mengatakan, pendorong terbesar rekor panas adalah penumpukan gas rumah kaca dari pembakaran batubara, minyak, dan gas alam. Faktor alami seperti siklus ENSO tidak berperan optimal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/06/ea4e446e0e648b850c24db1da2622f79-2025_the_warmest_janua.jpg)
El Nino yang berkontribusi menaikkan suhu Bumi telah berakhir pada Juni 2024, La Nina telah mulai pada bulan Januari 2025. Bulan lalu, ilmuwan iklim memperkirakan bahwa tahun 2025 tidak akan sepanas tahun 2024 atau 2023, dengan La Nina sebagai alasan utamanya.
”Biasanya, setelah El Nino seperti tahun lalu, suhu turun dengan cepat, tetapi kita belum melihatnya saat ini. Meskipun suhu Pasifik khatulistiwa tidak menciptakan kondisi yang menghangat bagi iklim global kita, nyatanya kita masih melihat rekor suhu,” kata Burgess, seperti dilaporkan AFP.
Data Copernicus juga menunjukkan, cuaca pada bulan Januari 2025 di Arktik tidak seperti biasanya. Sebagian wilayah Arktik, Kanada, memiliki suhu 30 derajat celsius lebih hangat daripada rata-rata. Suhu menjadi sangat hangat sehingga es laut mulai mencair di beberapa tempat.
Menurut Burgess, Arktik bulan ini menyamai rekor Januari untuk es laut terendah. Pusat Data Salju dan Es Nasional yang berbasis di AS mencatatnya sebagai yang terendah kedua setelah 2018.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/12/c111b18353583ecb283685c3f7869447-PHOTO_2024_12_09_10_05_22.jpg)
James Hansen, mantan ilmuwan NASA yang dijuluki sebagai bapak ilmu iklim, mengatakan, tahun 2025 kemungkinan bakal tetap panas karena laju pemanasan global yang kian cepat. Hansen, yang kini bekerja di Universitas Columbia, dan timnya dalam penelitian terbarunya di jurnal Environment: Science and Policy for Sustainable Development menunjukkan, kenaikan suhu dalam 15 tahun terakhir dua kali lipat dari laju 40 tahun sebelumnya.
”Saya yakin bahwa laju (kenaikan suhu) yang lebih tinggi ini akan terus berlanjut setidaknya selama beberapa tahun,” kata Hansen. ”Selama setahun penuh, akan terjadi perubahan mendadak antara tahun 2024 dan 2025.”
Pendorong terbesar rekor panas adalah penumpukan gas rumah kaca dari pembakaran batubara, minyak, dan gas alam.
Hansen dan tim menyimpulkan, iklim Bumi lebih sensitif terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca daripada yang diperkirakan sebelumnya. Krisis ini diperparah oleh penurunan polusi aerosol yang menghalangi sinar matahari dari industri pelayaran, yang telah mengurangi sebagian pemanasan.
Menurut Hansen dan tim, melihat perkembangan saat ini, skenario perubahan iklim ambisius dari Panel Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa yang memberi planet ini peluang 50 persen untuk menjaga pemanasan di bawah 2 derajat celsius pada tahun 2100 menjadi skenario yang tidak masuk akal.
”Skenario itu sekarang tidak mungkin,” kata Hansen, yang dikenal karena menyampaikan kepada Kongres AS pada tahun 1988 bahwa pemanasan global sedang berlangsung. ”Target dua derajat sudah tidak berlaku lagi.”
Sebaliknya, ia dan rekan penulis berpendapat, jumlah gas rumah kaca yang telah dipompa ke atmosfer dengan membakar bahan bakar fosil menjamin peningkatan pemanasan global. Suhu akan tetap pada atau di atas 1,5 derajat celsius dalam beberapa tahun mendatang—merusak terumbu karang dan memicu badai yang lebih dahsyat—sebelum naik menjadi sekitar 2 derajat celsius pada tahun 2045.
Mereka memperkirakan, pencairan es kutub dan injeksi air tawar ke Atlantik Utara akan memicu penutupan Sirkulasi Terbalik Meridian Atlantik (AMOC) dalam 20-30 tahun ke depan. Arus tersebut membawa arus laut yang hangat ke berbagai belahan dunia dan membawa nutrisi yang diperlukan untuk menopang kehidupan laut.
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Adhitya Ramadhan