GIIAS 2026

”Laga” Otomotif Memanas

Ajang GIIAS tahun ini seperti anomali. Produsen mobil makin banyak. Sementara daya beli masyarakat sedang tersendat.

19 Jul 2026 15:35 WIB · Kendara

KOMPAS/Riza Fathoni (RZF)

Oleh Herlambang Jaluardi

Ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 adalah wajah pertarungan industri otomotif terkini. Pasar kendaraan di Indonesia riuh kedatangan merek-merek baru dan belum menunjukkan tanda-tanda menyurut. Ajang yang berlangsung pada 30 Juli hingga 9 Agustus di ICE BSD, Tangerang, Banten, ini diikuti 65 merek mobil pribadi, niaga, dan sepeda motor.

Sebanyak 65 merek itu terdiri dari 43 merek mobil penumpang, yaitu Aletra, Audi, BAIC, BAW, BMW, BYD, Changan, Chery, Citroen, Daihatsu, DFSK, Ford, GAC Indonesia, Geely, GWM, Honda, Hyundai, iCar, Jaecoo, Jeep, Jetour, KIA, Leapmotor, Lepas, Lexus, Maxus, Mazda, Mercedes-Benz, MG, Mini, Mitsubishi, Nissan, Polytron, Subaru, Suzuki, Solarky, Toyota, VinFast, Volkswagen, Volvo, Wuling, Xpeng, dan Zeekr.

Sementara mobil niaganya adalah DFSK, Farizon, Hino, Mitsubishi Fuso, SAG, dan UD Trucks. Merek motor yang turut serta adalah Alva, Honda, BMW Motorrad, Can-Am, Exotic, Harley-Davidson, Kupprum, NUV, Pacific e-bike, Polytron, Royal Enfield, Scomadi, dan Triumph. Dari seluruh jenama itu, 10 di antaranya pemain baru di Indonesia.

Suasana "press day" pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025 di ICE BSD, Rabu (23/7/2025). Sejumlah agen pemegang merk (APM) membuat beragam inovasi untuk menari minat pengunjung pameran tersebut. Pameran tahunan yang memasuki edisi ke-32 ini menampilkan lebih dari 50 merek mobil, 20 lebih merek motor, serta 120 lebih industri pendukung. GIIAS 2025 juga menghadirkan peluncuran perdana secara global dan Asia, termasuk kendaraan konsep atau prototipe.

Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Ketua Harian Gaikindo Anton Kumonty mengatakan, jumlah peserta pameran tahun ini adalah catatan rekor baru. ”Tahun ini menjadi penyelenggaraan dengan merek terbanyak dengan hadirnya 10 merek baru yang pertama kali ikut mulai dari kendaraan penumpang, komersial, sepeda motor, hingga pabrik karoseri,” ujar Anton di konferensi pers pada Senin (13/7/2026) di Jakarta.

Pernyataan itu dipertajam dengan pendapat dari Ketua Umum Gaikindo Putu Juli Ardika. Dia mengatakan, keikutsertaan beragam merek, terutama jenama baru, menunjukkan bahwa pasar otomotif Indonesia masih dianggap potensial. Penjualan mobil dalam negeri mencapai sekitar 850.000 unit setahun silam.

”Tahun ini diperkirakan ada perbaikan. Indikasinya adalah penjualan mobil selama satu semester awal 2026 lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” kata Putu Juli. Semester I-2026, jumlah mobil yang terjual di tingkat wholesales adalah 436.564 unit, atau naik 15,8 persen.

Angka penjualan yang naik itu disokong oleh merek-merek asal China. Beberapa tahun terakhir, mobil China membanjiri pasar Indonesia, dan penyerapannya semakin berterima. Penjualan Jaecoo J5 EV, misalnya, tercatat sebanyak 16.990 unit selama Januari hingga Juni 2026. Mobil listrik laris kedua yang juga berasal dari China adalah BYD Atto 1 sebanyak 10.116 unit. BYD juga memasukkan model M6 di daftar terlaris.

Jaecoo J5

Permata Bank Gaikindo Jakarta Auto Week *** Local Caption *** l

Jaecoo adalah bagian dari Chery Group, yang di Indonesia membawahi merek Chery, Omoda, Lepas, dan juga iCar. Sementara BYD adalah raksasa otomotif China yang menjungkalkan penjualan Tesla di ranah mobil listrik. BYD meluncur di Indonesia sejak 2024, menyusul Chery tak lama sebelumnya.

Dua sekutu ini juga menghadapi kehadiran jenama asal China lainnya semisal GWM, BAIC, Changan, Jetour, Xpeng, dan Zeekr. Ada juga merek China yang terbilang ”perintis” di Indonesia, yakni Wuling dan DFSK. Mereka menghadapi tantangan jenama pendatang baru di Indonesia seperti Leapmotor, Changan, BAW, juga GAC Indonesia.

Serumpun jenama asal China itu berhadapan dengan merek-merek mapan dari Jepang dan Jerman, yang meski terseok, tetapi enggan dilupakan. Honda dan Toyota tak hendak dilupakan. Di ajang GIIAS nanti, Toyota diduga kuat mendatangkan FJ Cruiser keluaran 2026; mobil utilitarian dan kompak.

Mobil tunggangan Max Verstappen dari tim Red Bull Racing saat memenangkan gelar juara dunia Formula 1 perdananya pada 2021 lalu ditampilknan di both Honda saat pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Banten, Senin (15/8/2022). Acara tahunan ini diikuti 25 merek mobil penumpang dan niaga. Pameran akan berlangsung 11-21 Agustus 2022. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK) 15-08-2022

Penggemar Honda bersiap terperangah dengan mobil listrik kei car Super-One. Mazda dan Mitsubishi tak mau ketinggalan. Mazda, misalnya, akan memamerkan tiga model baru, salah satunya hasil rakitan pabrik dalam negeri mereka. Sementara Mitsubishi bermain di ranah penggerak hibrida lewat SUV kompak XForce.

Jenama Hyundai, raksasa dari Korea Selatan, bakal menyingkap setidaknya tiga model baru. Kemungkinan ketiganya bertenaga elektrifikasi. Salah satu yang ramai diperbincangkan adalah mobil listrik Ioniq 3, yang bakal meramaikan persaingan di kelas mobil listrik subkompak yang saat ini dikuasai Atto 1.

Unjuk aneka mobil baru itu terasa seperti anomali di tengah kondisi ekonomi Tanah Air yang sedang tak baik-baik saja. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih lemah. Daya beli masyarakat belum pulih. Ditambah lagi, sumber daya energi, entah itu solar atau bensin, maupun listrik terasa fluktuatif. Listrik padam masih mengintai pemilik mobil listrik. Sementara tingginya harga BBM adalah problematika tersendiri bagi pengguna mobil bermesin bakar.

Warga antre untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Pertamina di kawasan Jalan Panjang, Jakarta, Senin (4/5/2026). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada April 2026 sebesar 0,13 persen. BBM menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi April.


KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
04-05-2026

Keadaan sukar itu bisa jadi memengaruhi keputusan orang membeli mobil. Jangankan membeli, memelihara mobil saja menjadi kemewahan tersendiri bagi sekelompok orang. Biaya servis mobil naik seiring naiknya suku cadang dan oli mengiringi nilai kurs yang melemah. Komponen mobil masih banyak bergantung pada barang impor.

Bila kesuraman ini bertahan lama, industri otomotif terancam terantuk tembok tebal dan tinggi. Optimisme kenaikan volume penjualan pada semester pertama dibanding tahun sebelumnya bisa jadi tak berbunyi apa-apa pada semester berikutnya. Kecuali, daya beli masyarakat menguat, atau banyak traksi dari perusahaan dan merek baru.

Di tengah lemahnya daya beli masyarakat, merek baru perlu bertahan dengan ”membuai” pasar mereka. Maka, seperti halnya ekshibisi otomotif lainnya, ajang GIIAS kali ini berhias aneka diskon, juga tawaran hadiah langsung menarik.

Namun, di luar itu, kualitas produk tetap yang harus utama. Masyarakat Indonesia tentu enggan dibanjiri stok mobil lebihan dari China. Produksi mobil dalam negeri China membeludak sedemikian rupa.

Mobil-mobil yang akan dikirim untuk ekspor menunggu untuk masuk ke kapal  di salah satu pelabuhan di Lianyungang, Provinsi Jiangsu, China. Meskipun ekspor China ke AS menurun hampir sepanjang tahun, pengiriman ke negara-negara lain, termasuk Asia Tenggara, Amerika Latin, Afrika, dan Uni Eropa, justru melonjak.

Laporan Reuters pada Desember 2025 menyebutkan, kendaraan bermesin bakar menyumbang 76 persen ekspor mobil China sejak 2020. Pada 2024, China menjadi pengekspor mobil terbesar di dunia berdasarkan volume. Chery Group adalah eksportir terbesar. Mereka bertumbuh dari mengekspor 730.000 unit menjadi 2,6 juta unit hanya dalam waktu empat tahun, selama 2020-2024 (Kompas, 3/12/2025).

Indonesia terimbas ekspor besar-besaran itu. Jika Anda mendatangi ekshibisi otomotif setelah masa pandemi, Anda bakal menjumpai merek-merek baru dari China, dan sebagian besar bertenaga listrik. Menyebut mobil bermesin bakar bertenaga besar kini tergolong mobil eksotik. Kalau ini perhatian Anda, di ajang GIIAS nanti masih ada keelokan mobil eksotik dari BMW, Mercedes-Benz, atau Audi.

Semua mencoba bertahan di kondisi ekonomi tak karuan ini. Produsen otomotif berinovasi sedemikian rupa. Dealer menawarkan godaan purnajual. Pengunjung yang sedang tak punya uang, setidaknya terhibur gimik-gimik itu.


Kerabat Kerja

Penulis:

Herlambang Jaluardi
 | 

Editor:

Sarie Febriane
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase