Kasus pelajar mengalami keracunan MBG kembali terjadi di Bandung Barat. Sebanyak 54 pelajar menjadi korban.
14 Okt 2025 17:26 WIB · Kesehatan
BANDUNG, KOMPAS — Sebanyak 54 pelajar SMP Negeri 1 Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, mengalami gejala keracunan pada Selasa (14/10/2025). Mereka diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis atau MBG.
Para pelajar SMP Negeri 1 Cisarua mengonsumsi paket MBG pada Selasa ini dengan menu, antara lain, satu porsi nasi, sepotong ayam, sayur, dan sepotong buah melon.
Setelah mengonsumsi makanan tersebut, para pelajar mengalami gejala keracunan hingga jatuh sakit. Mereka merasakan pusing dan mual.
Sumber keracunan diduga berasal dari lauk ayam. Ayam yang disuguhkan kepada siswa diduga basi karena tercium bau tidak sedap.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/14/2822585ac4a91e1068a91caa8b1b5eba-IMG_20251014_170231.jpg)
”Diduga sumber keracunan dari ayam yang telah berbau,” ujar guru SMP Negeri 1 Cisarua Bandung Barat M Fakhmi Nurdiansyah.
Ia menuturkan, 1.300 paket MBG dibagikan kepada siswa pada Selasa ini. Dari jumlah tersebut, lebih kurang 100 pelajar mengalami gejala keracunan.
Adapun lauk MBG yang diduga basi itu sempat terdeteksi oleh guru dari sekolah lain. Akan tetapi, paket MBG tersebut sudah telanjur dibagikan ke siswa SMP Negeri 1 Cisarua.
Para pelajar yang mengalami gejala keracunan dibawa ke Puskesmas Cisarua dan Klinik dr Elen di Cimahi untuk mendapatkan perawatan medis.
”Dari awal jumlahnya kurang dari 100 orang. Sebagian besar siswa sehat dan tidak menunjukkan gejala apa pun,” katanya.
Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat belum memberikan tanggapan terkait peristiwa ini. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Bandung Barat Lia Sukandar belum merespons saat dihubungi Kompas.
Total sudah tiga kali peristiwa keracunan MBG yang dialami para pelajar Bandung Barat dalam sebulan terakhir. Dua kasus sebelumnya terjadi pada 22 dan 24 September 2025 dengan jumlah 1.315 pelajar.
Kasus keracunan menu MBG di Jawa Barat, antara lain, dipicu masih sedikitnya satuan pemenuhan pelayanan gizi (SPPG) yang memiliki sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS). Baru 10 hingga 20 persen dari sekitar 2.500 SPPG di wilayah Jabar yang telah memiliki sertifikat itu.
Wakil Gubernur Jabar Erwan Setiawan mengatakan, Pemprov Jabar berencana mengumpulkan semua pengelola SPPG dalam waktu dekat. Tujuannya ialah melakukan evaluasi serta memperkuat pengawasan terhadap mutu gizi dan standar kebersihan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/08/3f95d05eb2b7b90b8addf310de2c84c5-IMG_20251008_102728.jpg)
”Menurut rencana kami mengumpulkan lebih dari 2.500 SPPG se-Jawa Barat, termasuk para ahli gizi dan tim yang mengontrol kualitas MBG. Saat ini kami sedang menyiapkan tempatnya di Bandung,” ujar Erwan
Erwan menjelaskan, langkah ini meniru pelaksanaan evaluasi serupa di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ia menegaskan, semua SPPG di Jawa Barat nantinya wajib memiliki SLHS agar standar keamanan pangan terjamin.
”Memang sebelumnya pengawasan di lapangan masih lemah. Ke depan, semua SPPG harus tersertifikasi. Jika ada yang belum memenuhi syarat, operasinya akan kami hentikan sementara untuk dievaluasi,” katanya.
Penulis:
Fabio Maria Lopes CostaEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Yuliana Karim