Tak ada musuh abadi dalam politik, terutama bagi pihak pemenang. Zuckerberg memberi sinyal akhirnya merapat ke sisi Trump.
28 Nov 2024 17:54 WIB · Internasional
FORT LAUDERDALE, KAMIS — Tak ada musuh abadi dalam politik, terutama bagi pihak pemenang. Lewat makan malam bersama, Pemimpin Eksekutif Meta Mark Zuckerberg memberi sinyal akhirnya merapat ke presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump, setelah bertahun-tahun saling bertentangan.
Makan malam digelar di resor Mar-a-Lago milik Trump, Rabu (26/11/2024) malam waktu setempat atau Kamis waktu Indonesia. Zuckerberg (40) datang untuk makan malam tepat dengan malam perayaan Thanksgiving bersama Trump. Kendati berlangsung di kediaman Trump, media AS, The New York Times, melaporkan, pertemuan itu diinisiasi oleh Zuckerberg.
Mereka dilaporkan menggelar pertemuan sebelum melanjutkan dengan makan malam di resor mewah milik Trump di Florida. Menurut orang yang menyaksikan pertemuan keduanya, Trump dan Zuckerberg saling mengobrol.
Zuckerberg mengucapkan atas kemenangan Trump dalam pemilihan presiden. Salah satu penasihat Trump mengatakan, Zuckerberg ingin mendukung pembaruan nasional Amerika.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/28/2da57324bfac05a17a06aef4e7b47fe4-AFP_36NC8YX.jpg)
Momen Thanksgiving dinilai sebagai simbolisme kuat momen perdamaian bagi warga AS. Secara tradisional, perayaan Thanksgiving merupakan momen untuk bersyukur atas panen melimpah, saling berbagi, dan berkumpul bersama orang-orang terdekat.
Ketegangan mereka berdua terlihat sejak 2021. Trump sempat dicekal dari Facebook dan Instagram, dua jaringan pelantar media sosial di bawah Meta. Pencekalan dilakukan setelah serangan pendukung Trump ke Gedung Capitol pada 6 Januari 2021.
Mark, jelas, dia memiliki kepentingannya sendiri, dan dia memiliki perusahaannya sendiri dan dia memiliki agendanya sendiri.
Meta melonggarkan pencekalan dengan batasan pada Januari 2023. Kemudian, bersamaan dengan berlangsungnya masa kampanye calon presiden AS, pada 12 Juli 2024, Meta mencabut total pencekalan terhadap Trump.
Menurut pernyataan resmi Meta, pencabutan itu bentuk tanggung jawab untuk mengizinkan ekspresi politik para calon presiden didengar secara setara.
Meski demikian, selama masa kampanye, Trump masih mengolok-olok Zuckerberg di depan umum. Pada Juli 2024, misalnya, ia mengunggah pesan di jejaring sosial miliknya sendiri, Truth Social, yang berisi ancaman akan memenjarakan para penipu pemilu.
Unggahan itu menyertakan plesetan nama yang ia gunakan untuk menyebut CEO Meta, yang menyindir Zuckerberg mata duitan. ”ZUCKERBUCKS, hati-hati!” tulisnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/02/17/ac095391-65a8-4239-95b6-9eeb5cfeee5d_jpg.jpg)
Tak hanya dengan Trump. Zuckerberg pun pernah saling tantang duel dengan miliarder teknologi lainnya, Elon Musk, yang merupakan pendukung kuat Trump. Duel itu tak berakhir dalam pertarungan di ring sesungguhnya.
Duel dua raksasa tokoh teknokrat itu ”hanya” mewujud dengan munculnya Threads, media sosial baru di bawah Meta, yang dimaksudkan untuk menandingi Twitter yang dibeli Musk.
Musk kemudian mengubah nama Twitter menjadi X. Adapun Threads yang diluncurkan sejak 5 Juli 2023 belum bisa menandingi X dari sisi jumlah pengguna dan pengaruhnya ke publik.
Pada Rabu malam, seluruh permusuhan itu luruh. ”Mark berterima kasih atas undangan bergabung dengan Presiden Trump untuk makan malam dan kesempatan bertemu dengan anggota timnya tentang pemerintahan yang akan datang,” kata juru bicara Meta dalam sebuah pernyataan.
Pernyataan itu menambahkan, saat ini adalah waktu yang penting bagi masa depan inovasi Amerika.
Zuckerberg diundang untuk makan malam dengan presiden terpilih dan anggota tim lainnya untuk membicarakan pemerintahan yang akan datang. ”Zuckerberg sangat jelas ingin menjadi pendukung, dan peserta, dalam perubahan yang kita lihat di seluruh Amerika,” kata Stephen Miller, wakil kepala staf kebijakan Trump yang baru dalam wawancara di televisi AS, Fox News.
”Dia menjelaskan ingin mendukung pembaruan nasional Amerika di bawah kepemimpinan Presiden Trump,” ujar Miller.
Tak jelas apakah Musk juga menghadiri makan malam tersebut, meskipun ia sering hadir di Mar-a-Lago sejak pemilihan.
Dalam masa jabatan pertama Trump (2017-2021), para raksasa teknologi AS mengambil jarak dengannya. Namun, pada kemenangan kedua ini, mereka begitu cepat mengucapkan selamat atas kemenangan capres dari Partai Republik itu. Bahkan, Musk sudah dengan terbuka menunjukkan dukungan kuat sejak beberapa bulan terakhir.
Menurut laporan The New York Times, upaya Zuckerberg mencairkan permusuhan sebenarnya sudah berlangsung berbulan-bulan lalu. Hal ini ditandai dengan sikap Zuckerberg yang sudah lebih ramah kepada Trump sejak 18 bulan terakhir.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/10/27/b9e5abfdbc641f3b52b28b019316d5cc-DSC04202.jpg)
Ia juga disebutkan telah berbicara setidaknya dua kali dengan Trump lewat telepon, bahkan sebelum Trump menang. Menurut dua orang yang mengetahui proses itu, Zuckerberg menelepon Trump secara pribadi dua kali selama musim panas tahun ini. Dalam salah satu panggilan telepon, Zuckerberg mendoakan Trump setelah selamat dari percobaan pembunuhan.
Dalam sebuah wawancara pada pertengahan tahun ini, Zuckerberg bahkan mengatakan, Trump terlihat hebat saat mengepalkan tinjunya ke arah kerumunan ketika ia ditembak kala rapat umum di Pennsylvania.
Pendekatan Zuckerberg bisa jadi upaya melindungi Meta. ”Mark, jelas, dia memiliki kepentingannya sendiri, dan dia memiliki perusahaannya sendiri, dan dia memiliki agendanya sendiri,” kata Miller.
Meta telah lama menjadi sasaran serangan kaum konservatif di Washington, terutama setelah mencekal Trump dari jejaring media sosial besutannya.
Beberapa anggota Kongres telah menyerukan agar upaya sensor terhadap suara konservatif diredam. Secara pribadi, Trump juga telah menyerukan agar Zuckerberg dipenjara sebagai balasan berkomplot melawan dirinya selama pemilihan umum 2020.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/02/11/ea227f51-9349-45f7-b5b0-057d80ce5346_jpg.jpg)
Sebelum pemilihan presiden 2024, Zuckerberg menghentikan amal dan kegiatan filantropi lainnya di Meta yang terkait dengan pemilu. Meta juga memodifikasi algoritma untuk mengurangi konten politik.
Padahal, sebelumnya, Zuckerberg menyumbang uang guna mendanai lembaga nirlaba yang bergerak untuk mendukung infrastruktur pemilu AS selama pandemi Covid-19.
Sumbangan tersebut disita oleh Trump yang kala itu masih menjabat sebagai presiden, tetapi sudah kalah dari Joe Biden. Trump menuduh sumbangan itu bagian dari rencana untuk memengaruhi hasil pemilu.
Selama kampanye 2024, Zuckerberg tidak memperlihatkan dukungan ke kandidat presiden mana pun. Seiring sikapnya yang lebih ramah kepada Trump, ia mengeluhkan sikap pejabat senior pemerintahan Biden menekan Facebook untuk menyensor beberapa konten Covid-19 selama pandemi.
Berbeda sikap dengan Zuckerberg, Musk telah jelas memperlihatkan dukungan kuat ke Trump. Musk menyumbangkan sekitar 200 juta dollar AS melalui komite aksi politiknya untuk kampanye Trump.
Setelah kemenangan Trump, Musk kerap berkunjung ke Mar-a-Lago. Trump mengganjar dukungan Musk dengan jabatan mentereng, yaitu pemimpin panel penasihat eksternal yang dikenal sebagai Departemen Efisiensi Pemerintah yang bertugas mengidentifikasi pemborosan anggaran negara.
Dengan makan malam bersama ini, belum jelas bagaimana sikap Trump terhadap Zuckerberg atau Meta ke depan. (AP/AFP)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Fransisca Romana Ninik W