Langkah RI Rayu Dunia Usaha AS untuk Tekel Tarif Trump

Pemerintah menegaskan komitmen membina kemitraan saling menguntungkan dengan AS yang berakar pada prinsip saling menghormati.

09 Jul 2025 15:18 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Dimas Waraditya Nugraha

JAKARTA, KOMPAS — Entitas industri tekstil, energi, dan pertanian asal Indonesia bersama Kedutaan Besar RI di Washington DC telah menggelar serangkaian pertemuan bisnis dengan para pengusaha Amerika Serikat pada awal pekan. Pertemuan ini dilakukan guna mempererat kemitraan strategis dan komprehensif di tengah dinamika negosiasi tarif resiprokal.

Berdasarkan keterangan resmi Kedutaan Besar Indonesia di Amerika Serikat (AS) yang diterima Kompas, Rabu (9/7/2025), pertemuan yang juga difasilitasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian tersebut dilakukan pada Senin (7/7/2025) waktu setempat.

Sejumlah perusahaan asal Indonesia dari sektor energi dan pertanian yang hadir ialah PT Pertamina, PT Busana Apparel Group (mewakili Asosiasi Pertekstilan Indonesia), FKS Group, Sorini Agro Asia Corporindo, dan Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia.

Mereka terlibat dalam pembahasan dengan mitra-mitra strategis AS dari berbagai sektor. Pertemuan bisnis ini menghasilkan penandatanganan berbagai nota kesepahaman (MoU) yang membuka peluang kerja sama baru.

Kesibukan aktifitas bongkar muat kontainer di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (9/7/2025). Pemerintah Amerika Serikah masih membuka ruang negosiasi dengan Pemerintah Indonesia setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif resiprokal sebesar 32 persen kepada Indonesia. Tarif resiprokal berlaku efektif mulai 1 Austus 2025.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, Indonesia berkomitmen untuk menjaga hubungan ekonomi dengan AS melalui kerja sama yang saling menguntungkan. Kemitraan dilakukan salah satunya lewat penyerapan produk-produk unggulan AS, khususnya di sektor pertanian dan energi.

”Hubungan ekonomi antara Indonesia dan AS selama ini selalu baik dan perlu terus dijaga. Salah satu langkah memperkuat itu adalah komitmen pelaku usaha Indonesia membeli produk unggulan AS senilai total 34 miliar dollar AS,” kata Airlangga.

Sementara itu, Wakil Duta Besar/Kepala Perwakilan Ad Interim Kedutaan Besar RI di AS Sade Bimantara optimistis kemitraan RI-AS itu dapat menciptakan ribuan lapangan kerja berkualitas; mendukung usaha mikro, kecil, dan menengah; serta meningkatkan pertukaran pengetahuan dan teknologi di kedua negara.

Ia mengatakan, Pemerintah Indonesia menegaskan komitmen membina kemitraan saling menguntungkan dengan AS yang berakar pada prinsip saling menghormati dan komitmen bersama untuk kemajuan.

”Hubungan ekonomi ini diharapkan dapat mendukung kemakmuran kedua negara serta berkontribusi pada stabilitas kawasan dan global,” ujarnya.

US President Donald Trump delivers remarks on reciprocal tariffs during an event in the Rose Garden entitled "Make America Wealthy Again" at the White House in Washington, DC, on April 2, 2025. Trump geared up to unveil sweeping new "Liberation Day" tariffs in a move that threatens to ignite a devastating global trade war. Key US trading partners including the European Union and Britain said they were preparing their responses to Trump's escalation, as nervous markets fell in Europe and America. (Photo by Brendan SMIALOWSKI / AFP)

Kesepakatan ini mendapatkan sambutan positif dari perusahaan-perusahaan yang berbasis di AS. Presiden Direktur ExxonMobil Indonesia Wade Floyd dalam keterangan resminya mengatakan, perusahaannya akan terus menopang kebutuhan energi Indonesia.

”Kami membawa pengalaman puluhan tahun, kemampuan pasokan global, dan komitmen jangka panjang untuk menjadi mitra energi tepercaya,” kata Floyd.

Quote

Pemerintah sebenarnya sudah punya benchmark yang baik, yaitu penawaran yang diberikan Vietnam.

Dari sektor industri pertanian, Director of Market Research and Analytics Cotton Council International Bryan Wiggins mengatakan, Indonesia sebagai pasar penting bagi produk industri kapas AS.

”Indonesia telah menjadi mitra yang baik bagi industri kapas AS dan biasanya termasuk dalam 10 besar pasar ekspor kami,” ujarnya.

Infografik Dinamika Negosiasi Tarif Dagang Indonesia-AS

Senior Director of International Government Relations Cargill Anne Murphy, sebuah perusahaan bahan makanan yang berbasis di Minnesota, AS, menyatakan harapannya agar nota kesepahaman yang terjalin akan membuka jalan kerja sama jangka panjang dan berkelanjutan.

”Kami berharap nota kesepahaman dan pembelian jagung tahap awal ini menjadi awal dari kemitraan jangka panjang yang terus berkembang,” katanya.

Sementara itu, Robert Cruise sebagai perwakilan dari perusahaan pemasok pakan ternak Zen-Noh Grain Corporation menilai Indonesia sebagai pelanggan penting dengan permintaan yang terus meningkat. ”Indonesia telah lama menjadi pelanggan penting, dengan permintaan yang terus tumbuh untuk produk pertanian Amerika berkualitas tinggi,” ujar Cruise.

Peneliti Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Dandy Rafitrandi, menuturkan, keluarnya surat dari Trump yang menyatakan RI tetap akan dikenakan tarif resiprokal sebesar 32 persen menunjukkan berbagai penawaran Indonesia untuk menyeimbangkan defisit neraca perdagangan AS tidak cukup menarik.

”Pemerintah sebenarnya sudah punya benchmark yang baik, yaitu penawaran yang diberikan Vietnam. Ini artinya, kalau Indonesia ingin mendapatkan pengurangan tarif yang sama, penawaran Indonesia tidak bisa kurang atau setidaknya sama dengan Vietnam,” ujarnya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (kiri) dan Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam konferensi pers perkembangan negosiasi tarif Trump secara daring, Jumat (25/4/2025) waktu Jakarta.

AS dan Vietnam telah menyepakati besaran tarif resiprokal sebesar 20 persen, jauh lebih kecil dari ancaman Trump pada 2 April 2025, di mana Vietnam akan dikenai tarif 46 persen. Pemangkasan tarif didapat seusai Vietnam menawarkan pembebasan total bea masuk untuk semua produk impor dari AS.

Namun, yang perlu dicatat, kesepakatan tersebut akan mengenakan tarif sebesar 40 persen pada setiap ekspor dari Vietnam yang diklasifikasikan sebagai transshipment atau barang yang berasal dari negara lain dan hanya melewati Vietnam.


Kerabat Kerja

Penulis:

Dimas Waraditya Nugraha
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto