Padamnya listrik di Langsa sangat mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk melumpuhkan perekonomian.
13 Des 2025 19:31 WIB · Lingkungan
KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH
LANGSA, KOMPAS — Akibat sistem kelistrikan kembali padam total sejak Selasa (9/12/2025) sekitar pukul 15.00 WIB hingga Sabtu (13/12/2025), aktivitas di Kota Langsa kembali lumpuh. Antrean BBM kembali mengular karena SPBU tidak bisa memberikan pelayanan secara optimal akibat tidak ada listrik. Kesulitan jaringan komunikasi pun kembali dialami masyarakat.
Suasana itu dirasakan Kompas sejak tiba di Langsa pada Kamis lalu. Listrik padam di sana sejak pagi hingga malam hari. Awalnya, kondisi itu disinyalir karena ada pemadaman listrik bergilir. Antrean BBM pun belum terlalu panjang.
Namun, seiring berjalan waktu, sejak Jumat hingga Sabtu sore, listrik belum juga menyala. Jadi, selama tiga hari terakhir, listrik padam total 24 jam sehari. Dampaknya pun pelan-pelan mulai terasa.
Antrean BBM baik di jalur sepeda motor maupun mobil terjadi ratusan meter. Antrean itu memakan hampir semua badan salah satu lajur jalan sehingga menyebabkan kemacetan panjang lebih kurang 500 meter.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/13/f782bb334ba2227a7780f4dab540ee9d-IMG_20251213_WA0194.jpg)
Salah satu yang terdampak adalah pengendara sepeda motor asal Langsa, Sarah (25). Dia sudah mengantre BBM di SPBU Harapan di pusat Kota Langsa dari sekitar pukul 06.00 WIB dan masih berjarak sekitar 50 meter dari tempat pengisian BBM hingga lebih kurang pukul 09.30 WIB.
Menurut Sarah, kesulitan BBM mulai terjadi sejak bencana ekologis melanda Langsa pada Rabu (26/11/2025). Saat itu, dia mengalami antrean BBM hingga sembilan jam. Situasi mulai membaik pada awal Desember saat listrik kembali menyala. Semua SPBU kembali beroperasi sehingga antrean BBM mulai terurai.
Namun, sejak listrik kembali padam total pada Selasa sore, SPBU yang beroperasi kembali terbatas. Setidaknya hanya ada tiga SPBU yang aktif saat ini, yakni SPBU Harapan dan dua SPBU di jalan lintas nasional Banda Aceh-Medan yang masih berada di wilayah administratif Langsa.
Karena SPBU Harapan yang paling dekat dibandingkan dua SPBU lain, akhirnya banyak warga berbondong-bondong antre di sana. Sarah menerangkan, dia memilih antre berjam-jam di SPBU karena harga BBM normal.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/13/a672271cf08fb51020ade0a848d055ad-IMG_20251213_WA0213.jpg)
Sebaliknya, kalau beli di pedagang eceran, harganya bisa naik tiga kali lipat daripada harga SPBU. ”Ketimbang beli BBM eceran yang harganya mahal, mending saya payah-payah sedikit antre di SPBU,” ujar Sarah, yang merupakan ibu rumah tangga tersebut.
Ia menuturkan, antrean pengisian BBM itu sangat mengganggu aktivitas. Sebab, satu-satunya kendaraan yang dimiliki keluarganya hanya sepeda motor. Setidaknya, sepeda motor sering pula digunakan suaminya bekerja sebagai buruh bangunan. ”Kalau BBM tidak diisi, kami tidak bisa gerak ke mana-mana. Sebaliknya, kalau harus antre panjang, waktu kami juga banyak terbuang,” katanya.
Antre BBM dalam waktu lama pun dialami supir mobil pikap asal Langsa, Abdul Hanif (28). Dia antre mengisi BBM di SPBU Harapan sejak sekitar pukul 07.30 dan masih berjarak sekitar 50 meter dari tempat pengisian BBM hingga lebih kurang pukul 09.30.
Hanif mengatakan, kondisi itu sangat mengganggu aktivitasnya sebagai bagian dari sukarelawan yang mengantar bantuan kepada warga terdampak bencana di Aceh Tamiang. Mereka tidak bisa bergerak cepat karena harus antre BBM berjam-jam lamanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/08/ec9ff6f1be13291c7e0bc38f074b2d3b-WhatsApp_Image_2025_12_08_at_5.08.34_PM.jpeg)
”Kesulitan BBM ini membuat mobilitas kami sangat terbatas. Kami hanya bisa bergerak kalau BBM mobil terisi penuh. Kalau tidak, kami akan kesulitan mendistribusikan bantuan ke lokasi-lokasi terdampak di pelosok Tamiang,” tutur Hanif.
Petugas SPBU Harapan, Budi Fazri, mengatakan, sejatinya stok BBM di Langsa sangat mencukupi. Hanya, tidak semua SPBU bisa beroperasi akibat listrik padam.
Sejatinya SPBU bisa tetap beroperasi dengan menyalakan genset. Namun, banyak SPBU tidak bisa memanfaatkan genset mereka karena rusak akibat terlalu lama digunakan selama awal-awal bencana.
Tak sedikit warga asal Tamiang ikut antre BBM di SPBU Harapan. ”Kalau di sini, kami hanya mengistirahatkan genset pukul 18.00-19.30 WIB. Karena kami nyaris selalu beroperasi, akhirnya banyak warga antre BBM di sini. Warga dari Tamiang pun banyak yang antre di tempat kami,” ungkap Budi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/06/2d59c3a8883c49d933f94f96969a3a6c-20251206TOK61.jpg)
Fahrougi Andriani Sumampouw, Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Sumbagut PT Pertamina Patra Niaga – Subholding Commercial & Trading, mengatakan, pihaknya memastikan bahwa penyaluran BBM di wilayah Langsa tetap berjalan dan tidak mengalami kendala ketersediaan. SPBU tetap beroperasi dengan memanfaatkan genset sebagai sumber listrik cadangan menyusul terjadinya gangguan pasokan listrik dari luar sistem operasional Pertamina.
Gangguan listrik tersebut berdampak langsung pada kecepatan layanan SPBU karena pengoperasian dengan genset memiliki keterbatasan daya dibandingkan pasokan listrik normal. Kondisi ini pada waktu tertentu memicu antrean kendaraan, tetapi tidak berkaitan dengan habisnya stok BBM di SPBU ataupun terminal penyuplai.
Pertamina Patra Niaga Sumbagut telah melakukan langkah antisipatif melalui koordinasi intensif dengan pengelola SPBU dan penguatan distribusi dari terminal terdekat. Tujuannya, untuk memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berlangsung dan antrean dapat terurai secara bertahap. ”Kami imbau agar masyarakat tidak melakukan pembelian berlebihan serta tetap mengikuti informasi dari kami,” ujar Fahrougi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/02/4c6f32b9-69e3-4033-afe8-026eb50826dd.jpg)
Secara umum, padamnya listrik di Langsa sangat mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk melumpuhkan perekonomian. Sarah mengatakan, selama listrik padam, banyak pekerjaan terdampak.
Contohnya dialami suami Sarah. Beberapa pekerjaan urung dilakukan sehingga penghasilan berkurang. ”Karena padam listrik, banyak pekerjaan yang harusnya dilakukan oleh suami tertunda hingga dibatalkan. Karena suami saya buruh harian, jadinya penghasilan keluarga kami turun drastis,” katanya.
Listrik padam juga membuat banyak toko atau kedai usaha tidak beroperasi penuh di Langsa. Kalau ada yang beroperasi, suasananya sepi. Salah satunya tampak di warung kopi. Banyak warung kopi yang biasanya ramai kini menjadi sepi. Itu karena konsumen tidak bisa nongkrong sekalian mengecas baterai peralatan elektronik, memanfaatkan internet Wi-Fi, hingga bekerja.
Di malam hari, dampak listrik listrik semakin terasa. Hampir semua sudut Kota Langsa gelap gulita. Jalanan pun lengang dari lalu-lalang kendaraan bermotor. Warga menyebutkan, suasana itu serupa seperti di awal-awal bencana terjadi.
Sejumlah penginapan juga terdampak. Banyak tamu urung menginap karena listrik padam. Mau menyalakan genset, pengelola penginapan terkendala proses antrean BBM yang sangat panjang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/28/b9dd9e6c-f400-4ee6-b5e6-83247297efa1.jpg)
Di Langsa Inn, pengelola menyarankan tamu tidak buru-buru memperpanjang waktu menginap. Sebab, mereka belum mampu memastikan bisa menyalakan genset dalam waktu dekat akibat belum mendapatkan tambahan stok BBM. ”Kami tidak enak dengan tamu kalau tidak ada genset. Nanti mereka tidak nyaman,” kata Andri, pekerja di Langsa Inn.
Sementara itu, warga Aceh Besar yang berkunjung ke Langsa, Hendri (36), mengatakan, listrik padam sangat menghambat pekerjaannya. Selain tidak bisa atau sulit mengecas peralatan elektronik, jaringan komunikasi pun sangat tidak stabil hingga nyaris tidak ada sama sekali. ”Ini membuat saya sangat kesulitan berkoordinasi dengan rekan-rekan kerja saya,” ujarnya.
Penulis:
Adrian FajriansyahEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti