Larang Israel Bunuh Khamenei, Trump Mau Hindari Perang Besar

Israel merengek meminta AS ikut menyerang Iran. Trump tidak mau dan bahkan melarang Israel membunuh Ayatollah Ali Khamenei.

16 Jun 2025 11:46 WIB · Internasional

Oleh Iwan Santosa

WASHINGTON DC, SENIN — Presiden Amerika Serikat Donald Trump berusaha keras mengendalikan arah perang Israel-Iran. Salah satunya menolak pembunuhan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Israel terus mendesak keterlibatan langsung Amerika Serikat.

Dilaporkan Reuters pada Senin (16/5/2025), Israel mengklaim mempunyai kesempatan membunuh Khamenei sejak awal serangan. Walakin, Trump menolak serangan itu.

”Kami menyampaikan kepada Israel bahwa Presiden Trump menolak itu. Iran belum menewaskan satu pun warga AS dan pembahasan pemimpin politik tidak boleh ada,” kata seorang pejabat AS yang menolak identitasnya diungkap.

Pejabat itu menyebut, penolakan Trump bagian dari upaya mencegah perang Israel-Iran membesar. Trump masih berharap solusi diplomatik dimungkinkan untuk persoalan Iran.

Wakil Presiden Quincy Institute for Responsible Statecraft (QIPR) Trita Parsi mengatakan, penolakan Trump masuk akal. Khamenei menjadi pencegah terkuat Iran membuat bom nuklir.

”Dia (Khamenei) pernah berfatwa melarang (pembuatan) senjata nuklir. Kalau Khamenei meninggal, berarti fatwanya batal,” kata dia.

Dengan menolak pembunuhan terhadap Khameni, Trump dianggap mencoba semua alternatif mencegah Iran membuat bom nuklir.

Di sisi lain, pengakuan pejabat AS itu menambah bukti bahwa AS-Israel terus mengoordinasikan serangan ke Iran. Sejumlah pejabat AS-Israel beberapa kali mengakui itu. Trump juga menyatakan sudah tahu Israel akan menyerang Iran sebelum serangan dilancarkan.

Sementara Trump pada Minggu siang di Washington DC mengatakan, AS bisa saja terlibat langsung dalam perang itu. Walakin, ia masih menahan diri dan tetap meyakini peluang solusi diplomatik masih ada.

”Saya harap akan ada kesepakatan. Saya pikir ini waktunya bersepakat dan kita akan melihat itu terwujud. Akan tetapi, kadang kala mereka harus berperang,” katanya.

Di sisi lain, ia menolak menjawab apakah telah meminta Israel menghentikan serangan ke Iran. Sejak awal serangan Israel, ia menyebut itu keputusan internal Tel Aviv.

Israeli air defence systems are activated to intercept Iranian missiles over the Israeli city of Tel Aviv amid a fresh barrage of Iranian rockets on June 16, 2025. The Israeli military said early on June 16 that it was striking surface-to-surface missile sites in Iran, its latest move in three days of escalating conflict between the rival states. "The IDF is currently striking surface-to-surface missile sites in central Iran," Israel Defense Forces (IDF) spokesman Nadav Shoshani wrote on X. "We are operating against this threat in our skies and in Iranian skies." (Photo by Jalaa MAREY / AFP)

AS mempertahankan sikap itu sejak awal. Tidak sampai 20 menit sejak rudal pertama Israel meledak di Iran, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan Israel bertindak sendiri.

Akan tetapi, beberapa jam kemudian, keluar laporan Israel terus mengoordinasikan serangan dengan AS. Sejumlah pejabat AS-Israel mengonfirmasi koordinasi itu.

Bahkan, AS menambah pasokan senjata ke Israel sebelum serangan dilancarkan. AS juga menangkis rudal dan pesawat nirawak Iran ke Israel.

Bagi Israel, semua itu tidak cukup. Israel mau AS ikut menyerang langsung Iran. Sejak Iran mulai membalas pada Jumat pagi, Israel semakin merengek agar AS ikut menyerang.

Salah satu desakan Israel adalah AS menyerang fasilitas nuklir Iran dengan bom penembus bunker tebal. Israel tak punya bom seperti itu. AS punya dan tidak mau memberikan ke negara lain. AS mempertahankan sikap tidak mau terlibat langsung dalam perang itu.

Anggap remeh

Serangan balasan Iran dilancarkan dalam hitungan jam sejak serangan perdana Israel. Sampai Senin, Israel masih terus dihujani rudal dan pesawat nirawak Iran.

”Mereka (Israel) menganggap remeh kemampuan Iran untuk menata ulang setelah Israel menyasar komandan utama militer Iran,” kata Trita Parsi kepada CNN.

Israel, kata Parsi, terlalu cepat menganggap pembunuhan para jenderal dan ilmuwan nuklir akan melemahkan Iran. ”Sekarang, kita melihat rudal-rudal Iran menembus berlapis-lapis pertahanan udara Israel,” katanya.

Israel punya lapisan pertahanan udara. Secara elektronik, Israel punya pengacak sinyal skala besar. Dalam dua tahun terakhir, bolak-balik terjadi gangguan sinyal navigasi di Israel. Kapal-kapal dan pesawat komersial sering berputar-putar tak menentu karena gangguan sinyal.

Pengacak dikerahkan untuk mengganggu rudal dan pesawat nirawak lawan-lawan Israel. Walakin, berbagai rudal dan pesawat nirawak Iran serta mitranya terus meningkat kemampuannya. Peningkatan termasuk kebal dari pengacakan sinyal Israel dan sekutunya.

infografik Sistem Pertahanan Kubah Besi (Iron Dome) Israel

Pertahanan lain yang diterapkan Israel berbasis roket dan rudal. Israel punya penangkis jarak ratusan meter hingga 2.000 kilometer.

Penangkal berjangkauan terjauh, Arrow-3, bisa melacak dan menjatuhkan proyektil penyerang dalam jarak hingga 2.000 kilometer. Penangkal terpendek, Iron Dome, bisa menangkal proyektil penyerang dalam jarak 500 meter sampai 13 kilometer.

Israel masih dibantu AS dan Jordania mencegat perangkat serangan Iran. Di langit Jordania, sebagian rudal dan pesawat nirawak Iran dicegat.

Meski demikian, tetap saja banyak rudal Iran membawa kengerian ke berbagai kota Israel. Iran menyasar fasilitas militer dan pertahanan Israel. Aneka fasilitas itu dibangun di tengah permukiman dan pusat bisnis.

Militer Israel, Tzahal, dan Kementerian Pertahanan Israel berkantor pusat di kawasan HaKriya, Tel Aviv. Kawasan itu berada di jantung Tel Aviv dan berdiri di tengah aneka menara perkantoran.

Serangan Iran pada Senin dini hari antara lain melumpuhkan sistem kelistrikan di Israel tengah. Korban tewas dan cedera di Israel terus bertambah akibat serangan Iran.

Tzahal telah melarang warga menyebarkan foto dan video dampak serangan Iran. Meski demikian, tetap ada foto dan video itu beredar di media sosial.

Sebagian warganet menanggapi dengan menyatakan: inilah yang dirasakan Lebanon, Palestina, Suriah, dan Yaman setiap hari akibat serangan Israel.

Penduduk Tel Aviv, Haifa, Ashod, dan sejumlah kota di Israel harus menghabiskan malam di tempat perlindungan. Tzahal melarang warga keluar tempat perlindungan karena rudal dan pesawat nirawak Iran terus berdatangan.

Firefighters work to extinguish a burning car after a missile launched from Iran struck Tel Aviv, Israel, Monday, June 16, 2025. (AP Photo/Baz Ratner)

Sementara di Iran, Israel menyasar hampir semua kota dan pelabuhan. Pelabuhan terbesar Iran, Bandar Abbas, telah beberapa kali disasar rudal Israel.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Tzahal menyatakan, Iran lebih dulu menyasar permukiman sipil. Padahal, tiga gelombang awal serangan Israel menyasar permukiman sipil. Bahkan, pada serangan perdana, 20 anak tewas di satu lokasi pengeboman Israel.

Israel juga lebih dulu menyerang infrastruktur ekonomi Iran. Balasannya, Iran meledakkan kilang dan depo minyak dan gas di sejumlah kota Israel.

Kini, Iran-Israel sama-sama mengeluarkan ultimatum kepada warga di negara sasaran. Mereka meminta warga menjauhi fasilitas-fasilitas yang rentan disasar.

Di Iran, fasilitas nuklir, penyimpanan dan produksi senjata, serta kantor-kantor lembaga pertahanan jadi sasaran. Di Israel, sasarannya aneka pangkalan udara, kantor lembaga pertahanan dan keamanan. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Nur Hidayati, Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji