BerandaInternasionalLaut Merah, Ajang Perang ...

Laut Merah, Ajang Perang Mata-mata Iran-Israel

Laut Merah menjadi salah satu urat nadi perdagangan dunia. Namun seiring eskalasi konflik Iran dan Israel belakangan, Laut Merah menjadi ajang pengiriman kapal yang bertujuan sebagai mata-mata kegiatan lawan.

11 Agt 2021 09:00 WIB · Internasional

Oleh Musthafa Abd. Rahman

 Dalam foto yang diambil 3 Agustus 2021 ini, kapal tanker berbendera Jepang milik Israel, MT Mercer Street, dilepas di pelabuhan Emirat Teluk Fujairah di Uni Emirat Arab. Pada 29 Juli, dua awak kapal tanker MT Mercer Street, yang dikelola perusahaan pengusaha terkemuka Israel, tewas dalam serangan pesawat tak berawak di lepas pantai Oman.

Serangan terhadap kapal tanker MV Mercel Street pada 29 Juli lalu yang diduga kuat dilakukan  Iran atau loyalisnya menggunakan pesawat tanpa awak kini berbuntut semakin memanasnya situasi di Laut Merah.

Israel seperti dilansir situs Iran, Nour News, Senin (9/8/2021), telah mengirim kapal selam dolphin dengan pengawalan dua kapal perang Israel ke Laut Merah untuk memantau gerakan kapal-kapal Iran di area laut itu. Menurut Nour News, kapal selam Israel itu telah melintas Terusan Suez pada Rabu pekan lalu menuju Laut Merah.

Sebaliknya, Iran mengirim kapal kargo The Bahshad yang diduga juga merangkap sebagai kapal mata-mata ke Laut Merah pada Juli lalu. The Bahshad merupakan ganti dari kapal Saviz yang telah ditarik ke Iran setelah mendapatkan serangan Israel di Laut Merah pada 6 April lalu.

Iran semakin meningkatkan pemantauannya atas kapal-kapal Israel yang melintasi Laut Merah menuju Teluk Persia setelah tercapainya Kesepakatan Abraham (Abraham Accord) antara Israel dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain pada Agustus dan September 2020.

Iran selalu mengecam Abraham Accord yang disebutnya hanya akan semakin menghadirkan Israel di kawasan Teluk. Iran sering menegaskan, kehadiran Israel di kawasan Teluk akan mengancam keamanan dan stabilitas di kawasan itu.

 Foto dalam file yang diambil pada 15 April 2021 ini, Direktur CIA William Burns bersaksi selama sidang Komite Intelijen DPR tentang ancaman di seluruh dunia di Capitol Hill di Washington. Kepala Badan Intelijen Pusat AS tiba ke Israel untuk pertemuan dengan pejabat tinggi sebelum melakukan perjalanan ke Ramallah untuk bertemu dengan Otoritas Palestina.

Situasi tegang di Laut Merah itu bersamaan dengan digelarnya pertemuan Direktur Badan Pusat Intelijen AS (CIA) William Burns  dan Direktur Mossad, David Barnea, di Tel Aviv,  Selasa kemarin, membahas isu Iran dan Timur Tengah lainnya. Menurut berita yang dilansir The Jerusalem Post per Selasa kemarin,  Burns meminta Mossad membantu menurunkan ketegangan Iran-Israel saat ini.

Laut Merah, khususnya Bab al-Mandeb,  dikenal sebagai jalur laut strategis. Laut itu menjadi lintasan semua kapal yang menuju Laut Tengah dan lautan Hindia, serta Teluk Persia. Hampir 40 persen suplai minyak ke Eropa dan Amerika Serikat (AS)  dari kawasan Teluk yang diangkut kapal tanker melalui Laut Merah dan Bab al Mandeb.

Oleh karena itu, negara-negara Barat, khususnya AS, menempatkan kapal perang secara permanen di kawasan Laut Merah untuk mengawasi dan sekaligus mengamankan jalur strategis Laut Merah dan Bab al Mandeb yang menjadi lintasan  kapal-kapal yang lalu lalang antara Eropa dan Asia.

Sejak insiden serangan terhadap MV Mercel Street pada 29 Juli, Israel segera melakukan evaluasi tentang kelemahan sistem keamanannya di area lautan. Israel terlibat perang senyap dengan Iran di laut Tengah, Laut Merah, dan Teluk Persia sejak 2019.

 Foto kombinasi ini dibuat pada 13 Juli 2021 yang menunjukkan sejumlah kapal di Laut Merah. 

Pada 26 Februari 2021, kapal milik Israel berbendera The Bahamas, MV Helios Ray, juga mendapatkan serangan di Teluk Oman. Insiden ini diduga kuat dilakukan oleh Iran atau loyalisnya.

Israel pun melihat  area pertarungan sesungguhnya dengan Iran ada di Laut Merah. Israel meyakini  Iran bisa mendeteksi kapal-kapal Israel yang menuju Teluk Persia melalui jaringan mata-matanya di laut Merah.

Sebelunya, pada 6 April, Israel menyerang kapal kargo Iran, Saviz, di Laut Merah. Israel menduga kapal ini merangkap sebagai kapal mata-mata di laut itu.

Iran menempatkan kapal Saviz secara semipermanen di Laut Merah. Selain diduga bertugas memata-matai kapal-kapal Israel, Savis diduga juga membantu kelompok al-Houthi di Yaman yang merupakan loyalis Iran.

Setelah serangan itu, Iran kemudian segera menarik Saviz dari Laut Merah. Sebagai gantinya, Iran, mengirimkan The Bahshad di Laut Merah.

Musthafa Abd Rahman, dari Kairo, Mesir


Kerabat Kerja

Penulis:

Musthafa Abd. Rahman
 | 

Editor:

laksanaas