Jerman sudah mengantisipasi pertandingan babak 32 besar meski masih harus menghadapi Ekuador pada laga terakhir penyisihan Grup E Piala Dunia 2026.
25 Jun 2026 10:35 WIB · Olahraga
Kompas/Prasetyo Eko Prihananto
NEW JERSEY, KOMPAS — Jerman akan menghadapi Ekuador pada laga terakhir penyisihan Grup E Piala Dunia 2026, yang sudah tidak berpengaruh apa-apa lagi bagi Jerman, apa pun hasilnya. Namun, Pelatih Jerman Julian Nagelsmann merasa seperti dihukum gara-gara timnya menjadi juara grup.
Jerman masih harus menunggu siapa lawan yang akan dihadapi pada babak 32 besar pada laga yang akan berlangsung di Boston, Senin (29/6/2026), tersebut. Mereka baru akan mendapat kepastian siapa tim yang akan dihadapi, kurang dari 48 jam sebelum kick off.
Oleh karena itulah Nagelsmann merasa mereka seperti mendapatkan ”hukuman” hanya karena telah memastikan lebih dulu sebagai juara grup. Hal itu disampaikan Nagelsmann saat konferensi pers jelang laga lawan Ekuador di Stadion MetLife, New Jersey, Rabu (24/6/2026).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/25/ee0f9a210acf07d7b6344017df3bc11a-Germany_v_Cote_D_Ivoire__Group_E_FIFA_World_Cup_2026.jpeg)
Ia terang-terangan melontarkan kritik terhadap format baru Piala Dunia 2026 ini. Meski berhasil membawa pasukannya lolos ke babak 32 besar sebagai juara Grup E, Nagelsmann merasa status tersebut justru mendatangkan kerugian bagi persiapan timnya.
Sejauh ini, perjalanan Jerman terbilang mulus. Mereka memastikan diri sebagai juara grup sebelum laga terakhir melawan Ekuador setelah membantai Curacao, 7-1, dan mengalahkan Pantai Gading, 2-1. Hal itu sekaligus memastikan Jerman berhasil lolos ke babak grup untuk pertama kalinya sejak mereka menjadi juara dunia pada 2014.
Akibat rumitnya regulasi format turnamen yang baru, ”Die Mannschaft” tidak bisa segera mengetahui calon lawan mereka di babak gugur.
”Saya pikir kami seperti sedang dihukum karena berstatus sebagai juara grup,” kata Nagelsmann.
Sebagai juara grup, Jerman harus menunggu seluruh rangkaian pertandingan babak pertama selesai pada Sabtu malam untuk mengetahui siapa satu dari delapan tim peringkat ketiga terbaik yang akan menantang mereka di Foxborough, Boston.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/21/f49a605be3bfdcbe5655bcf5fd432e48-428087a5f0ef49bdae42107ae019aa89_0_f709d1f29ff741de9b96a6935147dfcf.jpg)
”Jika Anda melihat seluruh algoritma yang ada dan bagaimana semuanya saling berkaitan, sistem ini memang sangat rumit. Semakin banyak tim yang berpartisipasi, maka akan semakin kompleks jadinya,” ujar Nagelsmann.
Menurut Nagelsmann, ia tidak bisa segera memutuskan akan memakai strategi seperti apa karena belum mengetahui lawan yang akan dihadapi. Meskipun demikian, ia sudah menganalisis calon-calon lawan yang akan dihadapi.
”Memang tidak ideal karena kami baru tahu calon lawan pada Sabtu malam. Namun, kami sudah bersiap dan memetakan tim mana saja yang paling berpotensi kami hadapi,” kata pelatih berusia 38 tahun tersebut.
Nagelsmann menegaskan, tim pelatih telah mengantisipasi situasi ini agar sesi latihan terakhir mereka pada hari Minggu atau sehari sebelum laga bisa digunakan untuk mematangkan persiapan menghadapi lawan yang telah diketahui.
”Dari sisi waktu ada sedikit tekanan, tetapi kami semua masih cukup muda. Jika memang harus, kami siap begadang semalaman untuk bekerja,” ujar Nagelsmann.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/25/f831221c32ef9c7d08ccfc2f7e9e4af8-IMG_20260624_194907832.jpg)
Laga melawan Ekuador yang akan berlangsung Kamis (25/6/2026) itu bisa dibilang sebagai pemanasan bagi Jerman sebelum menghadapi lawan di babak 32 besar.
Untuk itu, Nagelsmann kemungkinan akan melakukan sejumlah rotasi pemain dan tidak akan mengambil risiko pemainnya mengalami cedera pada laga yang tak menentukan.
Terlebih lagi, mereka sudah kehilangan palang pintu utama, Nico Schlotterbeck, yang mengalami cedera parah sehingga harus absen hingga turnamen berakhir. Salah satu pemain yang hampir dipastikan mendapat tempat sebagai pemain mula adalah Deniz Undav.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/21/42a0c1ad6f240dc61d6ac2493303b40f-Germany_v_Cote_D_Ivoire__Group_E_FIFA_World_Cup_2026_1.jpg)
Undav yang mendampingi Nagelsmann dalam konferensi pers mengatakan, ia siap untuk membayar kepercayaan pelatih jika diturunkan sejak menit pertama.
”Saya akan melakukan apa yang harus saya lakukan. Saya kira saya bermain bagus pada dua laga terakhir,” kata Undav.
Undav bertekad memberikan yang terbaik untuk membawa Jerman terus melaju. ”Kami ingin melaju sejauh-jauhnya yang kami bisa,” ujarnya.
Sementara itu, Ekuador menatap laga melawan Jerman dengan misi berat harus memenangi laga jika masih ingin berpeluang melaju ke babak gugur. Ekuador adalah salah satu tim yang diprediksi akan menjadi kuda hitam, tetapi justru terpuruk.
Tim asuhan Sebastian Beccacece ini kalah 0-1 dari Pantai Gading sebelum secara mengejutkan ditahan imbang 0-0 oleh Curacao. Kendati demikian, Beccacece tetap optimistis mereka bisa memetik hasil positif menghadapi Jerman.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/07/35494482eeb27f4fbeffac13e53bcdb9-WCup_Group_E_Preview_Soccer_138605313.jpg)
”Kami tetap tenang. Ini adalah tantangan sekaligus peluang. Jerman tim yang berat, tetapi kami yakin bisa melaju ke babak berikutnya,” kata Beccacece.
Menurut Beccacece, mereka layak mendapatkan hasil yang lebih baik melihat performa permainan mereka. ”Kami tampil bagus, tetapi memang penyelesaian akhir kami kurang baik,” ujarnya.
Striker Jordy Caicedo menambahkan, semua pemain bersama staf pelatih terus mematangkan persiapan, terutama dalam soal penyelesaian peluang. ”Kami pemain bersama pelatih bekerja keras untuk memperbaiki penyelesaian akhir,” katanya.
Penulis:
Prasetyo Eko Prihananto, dari New Jersey, Amerika SerikatEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar