Lini belakang tim Indonesia U-20 harus lebih tangkas antisipasi bola udara Uzbekistan. Lalu, pemain menyerang ”Garuda Muda” perlu benahi akurasi operan dan tembakan.
15 Feb 2025 20:21 WIB · Olahraga
SHENZHEN, SABTU — Tim Indonesia U-20 wajib mengalahkan Uzbekistan pada laga kedua Grup C Piala Asia U-20 2025, Minggu (16/2/2025) pukul 19.30 WIB, di Stadion Pusat Latihan Sepak Bola Pemuda Shenzhen, China. Namun, merujuk rekor pertemuan dan performa di laga pertama, ”Garuda Muda” menjalani misi mustahil demi meraih hasil positif.
Indonesia memulai petualangan di China dengan kekalahan 0-3 dari Iran, Kamis (13/2/2025). Jens Raven dan kawan-kawan kalah segalanya dari Iran yang mengoleksi empat trofi Piala Asia U-20 pada dekade 1970-an.
Sementara itu, Uzbekistan mengemas kemenangan penting 1-0 atas Yaman. Meskipun tampil lebih dominan, Uzbekistan gagal membongkar pertahanan rapat Yaman.
Tak ayal, tiga poin kontra Uzbekistan bakal membuka kans Indonesia ke fase gugur sekaligus tidak tersingkir dini di Piala Asia U-20 2025. Meraih imbang saja bisa membuat Indonesia angkat koper dari persaingan jika Iran mampu mengalahkan Yaman di pertandingan lainnya.
Selain hasil timpang di laga perdana, Indonesia juga belum pernah mengalahkan Uzbekistan di ajang Piala Asia U-20. Pelatih Indonesia U-20 Indra Sjafri pernah merasakan kedigdayaan negara pecahan Uni Soviet itu pada Piala Asia U-20 2014.
Datang dengan skuad berpotensi generasi emas Indonesia yang dihuni Evan Dimas, Indra dan timnya harus mengakui keunggulan Uzbekistan, 1-3. Indonesia hanya mampu mencetak sebuah gol hiburan lewat sepakan gelandang Paulo Sitanggang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/13/2b8720f0-f52c-4317-aaf3-e29c550d80b5_jpg.jpg)
Kemudian, pada Piala Asia U-20 2023, Indonesia yang diasuh Shin Tae-yong menahan Uzbekistan tanpa gol di fase grup. Garuda Muda menjadi satu-satunya tim yang mampu tidak kalah dari Uzbekistan yang menjadi juara.
Indra menyatakan, waktu pemulihan dan persiapan selama dua hari dimaksimalkan untuk meraih hasil positif melawan Uzbekistan. Selain pemulihan fisik pemain, Indra juga berusaha membenahi aspek mental timnya setelah tumbang dari Iran.
”Pemulihan selama 20 jam membantu pemain telah pulih secara fisik dan mental. Kami juga sudah menjalani latihan untuk persiapan menghadapi Uzbekistan,” ujar Indra.
”Alhamdulillah pemain dalam keadaan siap. Insya Allah, besok (Minggu) kami bisa mencapai hasil positif,” tambahnya.
Satu hal yang perlu diperhatikan oleh skuad Garuda Muda adalah kemampuan antisipasi bola-bola udara yang berawal dari umpan silang permainan terbuka atau bola mati.
Peluang Indonesia untuk menang akan terbuka jika pemain-pemain belakang bisa lebih banyak memenangi duel udara serta meredam kesempatan pemain Uzbekistan melepaskan umpan silang ke dalam kotak penalti.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/13/da3e1ed4-3ead-4f01-8321-652f54a3b968_jpg.jpg)
Pasalnya, pada laga melawan Iran, Indonesia kemasukan tiga gol yang diawali umpan silang. Secara total, Iran menghasilkan tujuh tembakan melalui sundulan dari 10 tembakan yang mereka hasilkan di kotak penalti Indonesia.
Adapun saat menghadapi Yaman, sebanyak 50 persen tembakan Uzbekistan di dalam kotak 16 meter Yaman juga berawal dari sundulan. Satu-satunya gol Uzbekistan di laga pertama disumbangkan penyerang Muhammadali Urinbaev melalui sundulan terarah.
Urinbaev menciptakan dua sundulan tepat sasaran dari delapan tembakan sundulan yang dihasilkan Uzbekistan di area penalti Yaman. Padahal, Urinbaev bukan penyerang dengan tinggi menjulang.
Ia hanya berpostur 1,7 meter, tetapi dibekali penempatan posisi dan kekuatan otot betis luar biasa yang membantunya bisa melompat dengan keseimbangan baik.
Ikram Algiffari, kiper Indonesia, bertekad untuk tampil lebih baik di laga kedua. Indonesia jelas butuh penampilan heroik Ikram. Pada laga pertama, Ikram hanya menghasilkan satu penyelamatan.
”Laga melawan Uzbekistan sangat penting untuk ambisi kami lolos ke fase gugur. Kami sudah melakukan evaluasi untuk membenahi kekurangan demi tampil lebih baik dan mengejar kemenangan melawan Uzbekistan,” kata Ikram yang berstatus pemain Semen Padang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/13/ae29a986-7cf5-4042-b3e5-cfa25ad0bf20_jpg.jpg)
Selain itu, permainan menyerang Indonesia juga wajib jauh lebih baik. Salah satu hal yang harus diperbaiki skuad Garuda Muda adalah akurasi tembakan jarak jauh.
Serupa melawan Iran, Indonesia juga berpeluang akan kesulitan membongkar pertahanan Uzbekistan yang tampil lebih menyerang. Sebagai gambaran, Yaman menghasilkan 11 tembakan luar kotak penalti dari 15 tembakan yang mereka hasilkan di zona pertahanan Uzbekistan.
Indonesia juga melepaskan tujuh tembakan luar kotak penalti. Hanya empat tembakan dihasilkan anak asuhan Indra dari dalam area akhir 16 meter pertahanan Iran. Kuantitas tembakan itu menunjukkan buruknya kreasi peluang Indonesia.
Selain itu, gelandang-gelandang Indonesia, seperti Toni Firmansyah dan Welber Jardim, juga wajib bermain lebih baik dalam mendistribusikan operan progresif. Kontra Iran, pemain Indonesia hanya mencatatkan delapan sentuhan di dalam kotak penalti lawan. Tak heran, Indonesia gagal menghasilkan peluang besar di laga pertama.
Akurasi operan Indonesia di sepertiga akhir pertahanan Iran juga hanya mencapai 57 persen. Persentase itu amat timpang dengan 70 persen tingkat akurasi operan Iran di sepertiga final pertahanan Indonesia. Uzbekistan juga mengoleksi persentase tinggi untuk akurasi operan di sepertiga akhir zona bertahan Yaman, tepatnya 65 persen.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Prasetyo Eko Prihananto