Layangkan Protes, Pegawai di Kemendiktisaintek Bergejolak

Pegawai ASN Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi  memperjuangkan nasib agar tidak ada pemecatan atau pemindahan sewenang-wenang.

20 Jan 2025 14:56 WIB · Humaniora

Oleh Ester Lince Napitupulu

JAKARTA, KOMPAS — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sebagai salah satu kementerian baru di era Kabinet Merah Putih tengah bergejolak. Ada protes dan kekhawatiran tentang nasib kepegawaian aparatur sipil negara di kementerian ini karena ada dugaan pemecatan yang sewenang-wenang.

Pada Senin (20/1/2025) di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), pegawai ASN Keluarga Besar Paguyuban Pegawai Ditjen Dikti (dulu di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi) menggelar aksi damai Senin Hitam dengan ajakan ”Lawan atau Menunggu Giliran!”. Hal ini dipicu adanya informasi tentang pemecatan tidak adil yang dialami oleh Neni Herlina, Prahum Ahli Muda & Pj Rumah Tangga Kemendiktisiantek.

Para pegawai ASN Kemendiktisaintek menggelar aksi damai dengan berkumpul bersama dan memasang papan karangan bunga berisi aspirasi dan protes.  Mereka juga menyanyikan lagu nasional dan membagikan pin ”LAWAN!”, termasuk memakai  topeng wajah Neni Herlina, pegawai ASN yang dipecat pimpinan Kemendiktisaintek. Aksi ini sebagai bentuk solidaritas kepada sesama rekan ASN yang diperlakukan tidak adil oleh pimpinan.

Neni mengatakan, dirinya bersyukur berada di institusi pemerintah, khususnya di intitusi pendidikan, sejak tahun 2001 menjadi CPNS. ”Harapan saya adalah saya akan menjadi seorang PNS yang mempunyai tugas mulia, melayani masyarakat Indonesia di bidang pendidikan hingga akhir masa tugas saya. Maka, sejatinya saya sebagai pengelola pendidikan tentu harus memberikan contoh atau teladan sebagai orang-orang yang terdidik dan berkarakter,” ujar Neni.

Menurut dia, semua berjalan dengan baik selama 24 tahun ia bekerja. Namun, pada Jumat (17/1/2025) sore, pemimpin tertinggi Kemendiktisaintek masuk ke ruangan. ”Di hadapan semua orang, beliau mengusir saya keluar dan memerintahkan untuk pindah ke Kemendikdasmen. Saya (lalu) keluar dan shalat,” cerita Neni.

Ilustrasi

Neni menuturkan, dirinya tidak memahami apa alasan pengusiran dirinya. Dia ingat arahan pimpinan saat itu, tim yang dipimpinnya harus memberi pelayanan yang baik kepada pimpinan baru.

”Tentu, kami langsung siap melayani pimpinan. Terutama penanggung jawab rumah tangga, saya, dengan urusan-urusan rumah tangga kantor saja, bukan  urusan bidang substantif pendidikan tinggi,” ujarnya.

Neni mengisahkan, sayangnya, penyebab pengusiran dirinya itu berawal dari sebuah meja di ruang tertinggi lantai 18 yang mungkin perlu diganti. Lalu, semua masalah urusan rumah tangga di lapangan bermuara kepada Neni. Sampai kemudian ia harus keluar dari institusi.

”Maka, dari hati yang terdalam, saya menyampaikan permohonan maaf kepada para pimpinan definitif jika dalam saya melayani Ibu/Bapak semua masih banyak kekurangan. Saya menitipkan teman-teman pegawai Diktiristek, jangan sampai ada lagi yang diperlakukan tidak adil seperti saya. Sungguh ini sangat di luar perikemanusiaan dan melanggar hak asasi manusia dan undang-undang yang ada,” katanya.

Quote

Rotasi, promosi, dan mutasi ASN pada masa transisi kementerian baru ini merupakan hal yang lumrah sebagai upaya penyegaran organisasi dan ”tour of duty”.

Pengusiran Neni dari kementerian baru memicu pegawai Kemendiktisaintek membentuk Paguyuban Pegawai Ditjen Dikti. Hal ini dalam rangka menghadapi berbagai tantangan kepemimpinan di lingkungan Ditjen Dikti (Kemendiktisaintek) dan untuk memperjuangkan kemaslahatan semua pegawai.

Paguyuban Pegawai Ditjen Dikti dibentuk sebagai wadah berorganisasi bagi semua pegawai Ditjen Dikti, sebagaimana dijamin dalam Pasal 28E Ayat (3) UUD 1945 yang menyatakan bahwa ”Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”; sebagai forum silaturahmi, komunikasi, fasilitasi, dan advokasi anggota paguyuban; serta sebagai forum untuk memperjuangkan hak semua anggota paguyuban sebagai pegawai Ditjen Dikti.

Transisi kementerian

Para pegawai ASN  Kemendiktisaintek yang menyampaikan aspirasi damai kemudian ditemui Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Khairul Munadi.  Ia menjelaskan, Kemendiktisaintek terbuka dalam menyikapi berbagai isu dan dinamika dalam proses transisi kementerian.

Lebih lanjut, Khairul menyampaikan, pimpinan Kemendiktisaintek akan melakukan tindak lanjut dan mencari solusi terbaik atas berbagai dinamika yang terjadi pada proses transisi ini. Karena itu, rotasi, promosi, dan mutasi ASN pada masa transisi kementerian baru ini merupakan hal yang lumrah sebagai upaya penyegaran organisasi dan tour of duty.

 

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Satryo Soemantri Brodjonegoro (ke-5 dari kiri) memaparkan arah dan kebiajkan pendidikan tinggi, sains, dan telnologi, di Jakarta, Jumat (3/1/2024).

Ke depan, ujar Khairul, Kemendiktisaintek akan melakukan tindak lanjut atas berbagai aspirasi dari pegawai. ”Rotasi, promosi, maupun mutasi pada masa transisi kementerian merupakan dinamika yang bisa saja dialami oleh setiap institusi. Kemendiktisaintek sangat terbuka akan berbagai masukan dan aspirasi, terutama dari publik dan internal,” katanya.

Kini, tambahnya, Kemendiktisaintek juga sedang memproses berbagai program yang telah diamanatkan oleh Presiden Prabowo. Hal ini butuh dukungan dan kerja bersama dengan seluruh jajaran dan pemangku kepentingan agar Astacita dapat dilaksanakan dengan baik.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ester Lince Napitupulu
 | 

Editor:

Ichwan Susanto