Duel Artileri Israel-Lebanon Meletus Lagi

Lebanon bersiap pada kobaran perang baru dengan Israel. Baku tembak artileri terus berlanjut dari wilayah kedua negara.

22 Mar 2025 17:51 WIB · Internasional

Oleh Iwan Santosa

BEIRUT, SABTU — Peluru-peluru artileri medan dan tank Israel meledakkan berbagai lokasi di Lebanon selatan pada Sabtu (21/3/2025). Angkatan bersenjata Lebanon diperintahkan siaga pada kemungkinan perang baru dengan Israel.

Media Israel, The Times of Israel, melaporkan militer Israel atau Tzahal menembaki Lebanon selatan. Tembakan antara lain diarahkan ke Nabatieh. Kota itu berjarak tidak sampai 20 kilometer dari perbatasan Israel-Lebanon.

Tank-tank Merkava Israel juga menembaki Khiam. Sementara prajurit Tzahal dilaporkan menembakkan senapan ke Hula, Markabar, dan Kfar Kala.

Sementara kantor berita Lebanon, NNA, melaporkan pesawat Tzahal terbang di atas Lebanon selatan. Menurut Israel, pesawat itu terbang di atas wilayah asal penembakan roket.

Juru bicara Tzahal, Avichay Adraee, menyebut jet-jet Israel juga menyerang sejumlah lokasi di Lebanon selatan. Serangan pada Sabtu sore WIB itu disetujui pemerintah Israel. Sasarannya disebut sebagai lokasi-lokasi peluncuran roket.

Ada 14 lokasi dibom pesawat-pesawat Israel di Lebanon. Padahal, srael menyebut lima roket diarahkan ke Metula dari Lebanon. Dari lima roket itu, dua jatuh sebelum menyeberang perbatasan Israel-Lebanon. Sementara tiga lain dicegat di atas Metula.

Pasukan Penjaga Perdamaian Lebanon, UNIFIL, juga memperingatkan soal potensi peningkatan ketegangan. ”Kami mendesak semua pihak menghindari mengacaukan kemajuan selama ini, khususnya bila kehidupan warga sipil dan kestabilan yang rapuh ini terancam. Semua eskalasi dalam situasi rawan ini bisa membawa dampak serius pada kawasan,” demikian pernyataan UNIFIL.

Menurut UNIFIL, situasi tetap amat rapuh dan rawan. ”Kami mendorong semua pihak mematuhi komitmen. Pasukan UNIFIL tetap di posisinya,” lanjut pernyataan itu.

Kontingen Garuda TNI Members of the United Nations peacekeeping force in Lebanon (UNIFIL) take part in a ceremony marking the force's 47th anniversary, at its base in the country's southernmost town of Naqura by the border with Israel on March 19, 2025. (Photo by Mahmoud ZAYYAT / AFP)

Inilah pertama kali dalam tiga bulan terakhir ada penembakan roket dari Lebanon ke Israel. Penembakan itu terjadi di tengah gencatan senjata Israel dengan faksi-faksi bersenjata di Lebanon. Pada 27 November 2024, Israel-Hizbullah menyepakati gencatan senjata.

Perkembangan itu membuat Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam cemas. Ia khawatir, Lebanon terseret perang baru dengan Israel. ”Semua langkah keamanan dan militer harus diambil untuk menunjukkan bahwa Lebanon memutuskan soal perang dan damai,” demikian pernyataan tertulis mantan hakim Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) itu.

”Saya memperingatkan untuk menggelar operasi militer terbaru di perbatasan selatan karena risiko Lebanon kembali terseret dalam perang yang menyengsarakan Lebanon dan rakyat Lebanon,” kata Salam.

Perang baru akan menyeret bangsa Lebanon dalam kesulitan. Selama bertahun-tahun, Lebanon tertatih oleh konflik bersenjata dan krisis ekonomi tanpa henti.

An Israeli army Merkava main battle tank deploys at a position in northern Israel along the border with southern Lebanon on March 18, 2025. (Photo by Jalaa MAREY / AFP)

Hingga Sabtu siang waktu Beirut, Hizbullah belum secara resmi berkomentar soal ketegangan terbaru itu. Israel juga tidak menyebut siapa yang menembakkan roket ke Metula.

Seorang pengurus Hizbullah yang menolak identitasnya diungkap menyebut, Hizbullah tidak bertanggung jawab pada penembakan itu. Pejabat itu menyebut, Israel cuma mencari alasan untuk terus menyerang Lebanon.

Israel menuding, Hizbullah masih memiliki infrastruktur militer di Lebanon selatan. Sebaliknya, Lebanon dan Hizbullah menyebut Israel terus menduduki dan menyerang Lebanon. Israel terus mempertahankan pasukan di perbukitan perbatasan Lebanon-Israel.

Hal-hal yang dipersoalkan itu bolak-balik dibahas dalam gencatan senjata bertahun-tahun. Dalam kesepakatan gencatan senjata terbaru, Hizbullah diminta melucuti diri di Lebanon selatan dan menyerahkan kendali ke angkatan bersenjata Lebanon.

Sementara Israel diminta angkat kaki dari Lebanon dan berhenti menyerang Lebanon. Penarikan harus selesai pada 18 Februari 2025.

Israel ternyata masih terus menempatkan tentara di perbatasan dan sering masuk wilayah Lebanon. Israel juga secara rutin menyerang Lebanon dan Suriah.

Smoke billows from the site of Israeli artillery shelling that targeted the area of the southern Lebanese village of Yohmor on March 22, 2025. (Photo by Rabih DAHER / AFP)

Dalam serangan terbaru Israel, dilaporkan dua orang tewas dan delapan orang cedera di Touline, Lebanon. Sementara di Metula tak ada korban. Hanya sirene meraung dan warga bergegas masuk tempat perlindungan.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyebut Pemerintah Lebanon bertanggung jawab atas penembakan roket ke Metula. ”Kami tidak akan membiarkan roket ditembakkan dari Lebanon ke komunitas Galilea. Kami menjanjikan keamanan ke masyarakat di Galilea. Itulah yang akan terjadi,” katanya.

Mantan Menhan Israel Avigdor Lieberman menyalahkan PM Israel Benjamin Netanyahu atas ketegangan terbaru. Ia menyebut Netanyahu gagal menyediakan keamanan bagi warga. Netanyahu disebutnya sebagai ancaman bagi keamanan Israel. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Kris Mada