WASHINGTON DC, MINGGU — Amerika Serikat mengerahkan lebih dari 125 pesawat untuk menyerang Iran. Berpeluang dibatalkan sampai menjelang bom dijatuhkan, serangan itu tetap dilancarkan dengan 75 rudal, roket, dan bom.
Dilaporkan Associated Press pada Minggu (22/6/2025) sore waktu Washington DC atau Senin dini hari WIB, AS menerapkan berbagai pengecoh. Hal itu termasuk pengumuman Presiden AS Donald Trump akan memutuskan serangan dalam dua pekan lagi. Waktu Gedung Putih mengumumkan itu pada Kamis pekan lalu, AS sebenarnya sudah bulat akan menyerang Iran.
Buktinya, pada Minggu dini hari waktu Teheran, AS melancarkan serangan dari kapal selam dan pesawat pengebom. Ketua Kantor Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine memaparkan perincian serangan itu. AS menamai serangan itu ”Godam Tengah Malam” .
Caine menyebut, AS mengerahkan lebih dari 125 pesawat dalam operasi itu. Mayoritas untuk mengecoh karena diterbangkan ke berbagai arah. Selain pengebom B-2 Spirit, AS mengerahkan pesawat tanker, jet tempur, dan pesawat intai.
”Pada Jumat malam sampai Sabtu pagi, paket besar serangan B-2 diluncurkan dari AS. Sebagai rencana mempertahankan kejutan taktis, sebagian paket menuju ke barat dan ke Pasifik sebagai pengecoh. Upaya pengecohan diketahui oleh sangat sedikit perencana dan pemimpin di Washington dan Tampa,” katanya.
AS menerbangkan sejumlah pesawat pengebom B-2 dan pesawat tanker dari pangkalan di Missouri sebagai regu pengecoh. Regu itu terbang melintasi Pasifik dan secara berkala menampakkan diri di radar sipil.
Sementara regu penyerang terdiri dari tujuh pesawat pengebom B-2 spirit. Regu itu terbang melintasi Samudra Atlantik, Laut Tengah, lalu masuk ke Iran. ”Bergerak diam-diam dengan komunikasi minimal,” lanjut Caine.
Pada Sabtu sore waktu Washington DC, pesawat pengebom dan kapal selam sudah berada di posisi. Pesawat B-2 terbang amat tinggi di langit Iran dan Irak. Sementara kapal selam diam di bawah permukaan Laut Arab.
Menjelang B-2 masuk langit Iran, AS menerbangkan jet tempur F-22 dan F-35 ke Iran. Jet itu untuk mengecoh sekaligus menyapu artileri pertahanan udara Iran.
Jet tempur bergerak di depan rombongan B-2 menuju Natanz dan Fordo. Jet-jet itu menembakkan hampir 30 rudal dan roket di sekitar Natanz dan Fordo.
Sementara dari laut, 30 rudal Tomahawk ditembakkan ke Iran. Pada pukul 18.40 waktu Washington DC, B-2 mulai melepaskan bom GBU-57 ke Fordo dan Natanz. Total 14 bom dijatuhkan ke kedua fasilitas nuklir itu. Menurut Caine, total 75 rudal, roket, dan bom dipakai dalam serangan itu.
Serangan ke Fordo dan Natanz merupakan penggunaan pertama GBU-57. AS disebut hanya membuat 24 bom yang dirancang hanya bisa dijatuhkan dari pesawat B-2 itu.
Citra satelit selepas serangan menunjukkan, Fordo rusak. Walakin, militer Israel dan AS tidak yakin Fordo hancur oleh serangan AS. Seorang pejabat AS yang menolak identitasnya diungkap menyebut, 12 bom GBU-57 tidak akan bisa menghancurkan fasilitas nuklir Fordo.
Fasilitas itu dibangun jauh di bawah permukaan tanah. Lokasi pembangunan berada di kawasan perbukitan batu granit yang keras.
Selepas serangan, Wakil Presiden AS JD Vance menyebut program nuklir Iran telah tertunda. Ia tidak memakai istilah berhenti atau dihancurkan. Padahal, Presiden AS Donald Trump menyebut serangan itu sukses besar.
Terus memantau
Trump dilaporkan terus memantau perkembangan serangan itu. Pada Sabtu siang waktu Washington DC, Trump dilaporkan menggelar rapat darurat dengan petinggi pertahanan AS. ”Presiden mampu membatalkan serangan ini sampai menit terakhir,” kata Vance.
Di saat yang kurang lebih sama, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menggelar rapat sejenis di Israel. AS memang terus mengoordinasikan rencana serangan ke Iran sejak lama.
Bukan cuma Israel, AS juga memberi tahu serangan itu ke Inggris. Dalam pernyataan selepas serangan, Inggris mengakui itu. London juga menekankan, meski diberitahu, Inggris tidak terlibat dalam serangan tersebut.
Mengacu ke keterangan Caine, AS menerbangkan pesawat penyerang di waktu perunding Iran dan Eropa mulai bertemu di Geneva. Sebelum ke Geneva, Menteri Luar Negeri Inggris David Lammy ke Washington DC dan menemui Menlu AS Marco Rubio.
Dalam pernyataan selepas bertemu Rubio, Lammy menyebut pertemuan di Geneva memanfaatkan peluang diplomasi yang diberikan Trump. Ia merujuk pernyataan Trump pada 19 Juni 2025 siang waktu Washington DC.
Kala itu, Gedung Putih menyatakan, Trump akan memutuskan serangan ke Iran dalam waktu paling lama dua pekan. Tak sampai sehari, pesawat AS terbang menuju lokasi serangan di Iran.
Citra satelit di sekitar Natanz dan Fordo sejak Kamis lalu menunjukkan pergerakan sejumlah truk besar. Pada 20-21 Juni 2025, banyak truk hilir mudik di kedua fasilitas itu. Selepas serangan AS, Iran mengaku telah memindahkan sebagian besar peralatan nuklirnya ke lokasi yang dirahasiakan.
Pejabat pertahanan AS dan Israel yang menolak identitasnya diungkap juga menduga, Iran telah memindahkan berbagai peralatan sebelum serangan AS. Mereka tidak menjelaskan, mengapa Iran memutuskan pemindahan itu.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyebut, AS terus mengirim berbagai pesan melalui berbagai saluran ke Iran. Pesan dikirimkan sejak beberapa hari lalu. Ia menolak menjelaskan apakah AS telah memberi tahu Iran soal keputusan serangan sebelum bom dijatuhkan.
Sejak Jumat lalu, AS terus mengevakuasi para pegawai dan keluarga pegawai kedutaan besar dan konsulat di sekitar Iran. Dari Irak, 500 orang diungsikan. Sementara dari Lebanon, evakuasi dilakukan pada Minggu siang waktu setempat.
Serangan AS ke Iran disambut gembira warga Israel. Mereka berharap serangan itu bisa menghentikan pembalasan Iran ke Israel. Sejak 13 Juni 2025, Israel dihujani rudal dan pesawat nirawak yang mengantar pembalasan Iran. (AP/AFP/REUTERS)
WASHINGTON DC, MINGGU — Amerika Serikat mengerahkan lebih dari 125 pesawat untuk menyerang Iran. Berpeluang dibatalkan sampai menjelang bom dijatuhkan, serangan itu tetap dilancarkan dengan 75 rudal, roket, dan bom.
Dilaporkan Associated Press pada Minggu (22/6/2025) sore waktu Washington DC atau Senin dini hari WIB, AS menerapkan berbagai pengecoh. Hal itu termasuk pengumuman Presiden AS Donald Trump akan memutuskan serangan dalam dua pekan lagi. Waktu Gedung Putih mengumumkan itu pada Kamis pekan lalu, AS sebenarnya sudah bulat akan menyerang Iran.
Buktinya, pada Minggu dini hari waktu Teheran, AS melancarkan serangan dari kapal selam dan pesawat pengebom. Ketua Kantor Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine memaparkan perincian serangan itu. AS menamai serangan itu ”Godam Tengah Malam” .
Serial Artikel
Detik-detik Serangan AS ke Iran
Serangan AS ke Iran telah dipersiapkan beberapa pekan lalu. Saat perunding Iran-Eropa bernegosiasi, pesawat pengebom AS bergerak menuju Iran
Caine menyebut, AS mengerahkan lebih dari 125 pesawat dalam operasi itu. Mayoritas untuk mengecoh karena diterbangkan ke berbagai arah. Selain pengebom B-2 Spirit, AS mengerahkan pesawat tanker, jet tempur, dan pesawat intai.
”Pada Jumat malam sampai Sabtu pagi, paket besar serangan B-2 diluncurkan dari AS. Sebagai rencana mempertahankan kejutan taktis, sebagian paket menuju ke barat dan ke Pasifik sebagai pengecoh. Upaya pengecohan diketahui oleh sangat sedikit perencana dan pemimpin di Washington dan Tampa,” katanya.
AS menerbangkan sejumlah pesawat pengebom B-2 dan pesawat tanker dari pangkalan di Missouri sebagai regu pengecoh. Regu itu terbang melintasi Pasifik dan secara berkala menampakkan diri di radar sipil.
Sementara regu penyerang terdiri dari tujuh pesawat pengebom B-2 spirit. Regu itu terbang melintasi Samudra Atlantik, Laut Tengah, lalu masuk ke Iran. ”Bergerak diam-diam dengan komunikasi minimal,” lanjut Caine.
Pada Sabtu sore waktu Washington DC, pesawat pengebom dan kapal selam sudah berada di posisi. Pesawat B-2 terbang amat tinggi di langit Iran dan Irak. Sementara kapal selam diam di bawah permukaan Laut Arab.
Menjelang B-2 masuk langit Iran, AS menerbangkan jet tempur F-22 dan F-35 ke Iran. Jet itu untuk mengecoh sekaligus menyapu artileri pertahanan udara Iran.
Jet tempur bergerak di depan rombongan B-2 menuju Natanz dan Fordo. Jet-jet itu menembakkan hampir 30 rudal dan roket di sekitar Natanz dan Fordo.
Sementara dari laut, 30 rudal Tomahawk ditembakkan ke Iran. Pada pukul 18.40 waktu Washington DC, B-2 mulai melepaskan bom GBU-57 ke Fordo dan Natanz. Total 14 bom dijatuhkan ke kedua fasilitas nuklir itu. Menurut Caine, total 75 rudal, roket, dan bom dipakai dalam serangan itu.
Serial Artikel
Ragu pada GBU-57, Trump Tunda Serang Iran
Bom andalan AS diragukan bisa menembus gudang nuklir Iran. Israel kecewa AS tidak kunjung menyerang Iran.
Serangan ke Fordo dan Natanz merupakan penggunaan pertama GBU-57. AS disebut hanya membuat 24 bom yang dirancang hanya bisa dijatuhkan dari pesawat B-2 itu.
Citra satelit selepas serangan menunjukkan, Fordo rusak. Walakin, militer Israel dan AS tidak yakin Fordo hancur oleh serangan AS. Seorang pejabat AS yang menolak identitasnya diungkap menyebut, 12 bom GBU-57 tidak akan bisa menghancurkan fasilitas nuklir Fordo.
Fasilitas itu dibangun jauh di bawah permukaan tanah. Lokasi pembangunan berada di kawasan perbukitan batu granit yang keras.
Selepas serangan, Wakil Presiden AS JD Vance menyebut program nuklir Iran telah tertunda. Ia tidak memakai istilah berhenti atau dihancurkan. Padahal, Presiden AS Donald Trump menyebut serangan itu sukses besar.
Terus memantau
Trump dilaporkan terus memantau perkembangan serangan itu. Pada Sabtu siang waktu Washington DC, Trump dilaporkan menggelar rapat darurat dengan petinggi pertahanan AS. ”Presiden mampu membatalkan serangan ini sampai menit terakhir,” kata Vance.
Di saat yang kurang lebih sama, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menggelar rapat sejenis di Israel. AS memang terus mengoordinasikan rencana serangan ke Iran sejak lama.
Bukan cuma Israel, AS juga memberi tahu serangan itu ke Inggris. Dalam pernyataan selepas serangan, Inggris mengakui itu. London juga menekankan, meski diberitahu, Inggris tidak terlibat dalam serangan tersebut.
Serial Artikel
Trump Tunda Serangan, AS Tambah Kapal Perang dan Jet Tempur Dekat Iran
Meski Trump menunda rencana serangan, AS terus menambah kekuatan di sekitar Iran. Jet tempur dan kapal perang terus bertambah.
Mengacu ke keterangan Caine, AS menerbangkan pesawat penyerang di waktu perunding Iran dan Eropa mulai bertemu di Geneva. Sebelum ke Geneva, Menteri Luar Negeri Inggris David Lammy ke Washington DC dan menemui Menlu AS Marco Rubio.
Dalam pernyataan selepas bertemu Rubio, Lammy menyebut pertemuan di Geneva memanfaatkan peluang diplomasi yang diberikan Trump. Ia merujuk pernyataan Trump pada 19 Juni 2025 siang waktu Washington DC.
Kala itu, Gedung Putih menyatakan, Trump akan memutuskan serangan ke Iran dalam waktu paling lama dua pekan. Tak sampai sehari, pesawat AS terbang menuju lokasi serangan di Iran.
Citra satelit di sekitar Natanz dan Fordo sejak Kamis lalu menunjukkan pergerakan sejumlah truk besar. Pada 20-21 Juni 2025, banyak truk hilir mudik di kedua fasilitas itu. Selepas serangan AS, Iran mengaku telah memindahkan sebagian besar peralatan nuklirnya ke lokasi yang dirahasiakan.
Pejabat pertahanan AS dan Israel yang menolak identitasnya diungkap juga menduga, Iran telah memindahkan berbagai peralatan sebelum serangan AS. Mereka tidak menjelaskan, mengapa Iran memutuskan pemindahan itu.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyebut, AS terus mengirim berbagai pesan melalui berbagai saluran ke Iran. Pesan dikirimkan sejak beberapa hari lalu. Ia menolak menjelaskan apakah AS telah memberi tahu Iran soal keputusan serangan sebelum bom dijatuhkan.
Sejak Jumat lalu, AS terus mengevakuasi para pegawai dan keluarga pegawai kedutaan besar dan konsulat di sekitar Iran. Dari Irak, 500 orang diungsikan. Sementara dari Lebanon, evakuasi dilakukan pada Minggu siang waktu setempat.
Serangan AS ke Iran disambut gembira warga Israel. Mereka berharap serangan itu bisa menghentikan pembalasan Iran ke Israel. Sejak 13 Juni 2025, Israel dihujani rudal dan pesawat nirawak yang mengantar pembalasan Iran. (AP/AFP/REUTERS)