Tahun 2024 menandai salah satu tahun paling mematikan bagi jurnalis di seluruh dunia. Sedikitnya 122 jurnalis terbunuh, salah satunya di Indonesia.
05 Mar 2025 09:11 WIB · Humaniora
JAKARTA, KOMPAS – Ancaman keselamatan bagi jurnalis di seluruh dunia belum mereda. Lebih dari 120 jurnalis dan pekerja media terbunuh sepanjang 2024. Salah satu kasusnya terjadi di Indonesia.
Laporan tahunan Federasi Jurnalis Internasional (IFJ) menyatakan, sedikitnya 122 jurnalis terbunuh pada tahun lalu. Sebanyak 14 orang di antaranya merupakan jurnalis perempuan. Laporan ini juga menyerukan pentingnya menjamin keselamatan jurnalis dan segera mengakhiri impunitas atas kasus pembunuhan jurnalis di seluruh dunia.
”Tahun 2024 menandai salah satu tahun paling mematikan bagi jurnalis. Palestina menjadi negara paling berbahaya selama dua tahun berturut-turut. Meskipun kami telah berulang kali menyerukan dan memperingatkan, Israel terus melakukan pembantaian terhadap jurnalis di Palestina, Lebanon, dan Suriah. Kejahatan Israel terhadap jurnalis tidak boleh dibiarkan begitu saja,” kata Presiden IFJ Dominique Pradalie dilansir dari laman resmi IFJ, Rabu (5/3/2025).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/02/60b4712c17105a34da7481c87eb0d05c-000_36MQ6BP.jpg)
Lebih dari 60 persen kasus kematian jurnalis itu terjadi di kawasan Timur Tengah. Sebagian besar disebabkan oleh perang di Gaza. Di lokasi lain, 22 jurnalis terbunuh di Asia Pasifik, 10 jurnalis di Afrika, 9 jurnalis di Amerika, dan 4 jurnalis di Eropa.
IFJ juga mengulas lima kasus kematian jurnalis di beberapa belahan dunia. Salah satunya adalah jurnalis asal Meksiko, Alejandro Martinez Noguez, yang ditembak oleh orang tak dikenal pada 4 Agustus 2024. Kejadian itu terjadi saat ia dalam perjalanan pulang setelah meliput kecelakaan lalu lintas di dekat kota Celaya.
Pembunuhan itu diduga terkait dengan kegiatan perdagangan narkoba yang sering diliput oleh Martinez. Dua tahun sebelumnya, Martinez selamat dari upaya pembunuhan ketika seorang tak dikenal muncul di rumahnya dengan membawa senjata api.
Kasus pembunuhan lainnya menimpa jurnalis Palestina, Eman El-Shanti. Penyiar Radio Al-Aqsa itu tewas dalam serangan udara Israel di Gaza. Serangan itu juga menewaskan suami dan tiga anaknya.
Kebebasan pers, landasan demokrasi, berada di bawah ancaman serius dan menuntut tindakan global.
El-Shanti banyak mendokumentasikan realitas kehidupan di Gaza. Kematiannya memperpanjang jejak kelam kematian jurnalis di Gaza. Sejak Oktober 2023, sedikitnya 152 jurnalis terbunuh di kawasan itu.
”Kami mendesak negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memastikan penerapan konvensi internasional khusus yang akan meningkatkan perlindungan terhadap jurnalis dan meningkatkan tekanan pada negara-negara untuk meminta pertanggungjawaban para pelaku dan dalang di balik pembunuhan jurnalis atas kejahatan mereka,” ujar Dominique Pradalie.
Selain kasus kematian, IFJ juga mencatat sebanyak 516 jurnalis dipenjara pada 2024. Jumlah itu meningkat sekitar 30 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya dengan 393 jurnalis. Data ini menyoroti memburuknya kondisi kebebasan pers secara global.
”Hak fundamental untuk memberi informasi semakin dirusak oleh pemerintah,” kata Sekretaris Jenderal IFJ Anthony Bellanger.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/12/14/ce29cf1a-b12d-4fdf-b84f-33dac44db198.jpg)
Menurut Bellanger, penangkapan jurnalis sering kali dalam jangka waktu pendek untuk tujuan administratif. Namun, peningkatan signifikan jurnalis yang ditangkap menunjukkan kerja-kerja jurnalistik belum dilindungi.
”Melindungi jurnalis dan memerangi impunitas kini lebih penting dari sebelumnya. Kebebasan pers, landasan demokrasi, berada di bawah ancaman serius dan menuntut tindakan global,” ucapnya.
Salah satu kasus kematian jurnalis yang dilaporkan IFJ terjadi di Indonesia. Pada pertengahan 2024, jurnalis Tribrata TV, Sempurna Pasaribu (47), tewas dalam kebakaran rumah di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Kebakaran itu juga merenggut nyawa tiga anggota keluarganya, yaitu Elfrida Ginting (istri), Sudi Pasaribu (anak), dan Loin (cucu).
Kebakaran terjadi setelah Sempurna memberitakan perjudian di Kabupaten Karo. Perjudian itu diduga melibatkan oknum TNI. Polisi telah menetapkan tiga tersangka dalam kasus ini.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/02/0ac8e0ca-e5d2-4e86-ba58-e4595f7f44ed_jpeg.jpeg)
Indeks Keselamatan Jurnalis di Indonesia pada 2024 yang diluncurkan Yayasan TIFA, sebagai bagian dari Konsorsium Jurnalisme Aman, mencapai 60,5 poin atau masuk dalam kategori ”Agak Terlindungi”. Indeks tersebut naik 0,7 poin dibandingkan dengan 2023.
Indeks tersebut menggunakan metode survei terhadap 760 jurnalis serta analisis data sekunder dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Indeks ini bertujuan untuk memberikan gambaran komprehensif tentang kondisi keselamatan jurnalis di Indonesia.
Kenaikan indeks tersebut tidak menjamin membaiknya perlindungan pers di Indonesia. Kekerasan terhadap jurnalis dan media, baik secara fisik maupun digital, masih marak terjadi.
Sekretaris Jenderal AJI Bayu Wardhana mengatakan, meskipun indeks keselamatan jurnalis meningkat, kualitas kekerasan terhadap jurnalis juga meningkat. Ia menyinggung kasus kematian jurnalis Tribrata TV, Sempurna Pasaribu.
”Jadi, meskipun indeks naik, kita tidak bisa hanya melihat angka tanpa memperhatikan kualitas kasus kekerasan yang terjadi,” ujarnya.
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Ichwan Susanto