Bantuan ke Daerah Terisolasi di Sumut Minim, Obat Batuk Anak Terpaksa Diminum Orang Dewasa

Di daerah yang belum ada akses darat, yakni Tapanuli Tengah, Sibolga, dan sebagian Tapanuli Selatan dan Tapanuli Utara, bantuan masih minim.

02 Des 2025 19:20 WIB · Lingkungan

KOMPAS/NIKSON SINAGA

Oleh Nikson Sinaga

TARUTUNG, KOMPAS — Jumlah pengungsi akibat banjir bandang dan longsor di Sumatera Utara mencapai 73.199 jiwa. Pasokan bantuan ke desa-desa terisolasi masih sangat minim. Pembukaan akses jalan mendesak dilakukan agar bantuan ke daerah bencana bisa lebih maksimal.

Pantauan Kompas, sejumlah pos pengungsian mulai mendapat bantuan di daerah-daerah yang bisa dijangkau kendaraan. Namun, di daerah yang belum ada akses darat, yakni Tapanuli Tengah, Sibolga, dan sebagian Tapanuli Selatan dan Tapanuli Utara, bantuan masih minim.

Sejumlah pos pengungsian di Kecamatan Adiankoting, Tapanuli Utara, berdasasarkan pantauan Kompas, kekurangan air bersih, obat-obatan, dan pakaian. ”Pasokan air bersih kami terbatas. Kami hanya punya air bersih untuk keperluan memasak dan minum,” kata Nelson Simanullang, Ketua Pos Pengungsian Desa Dolok Nauli, Adiankoting, Selasa (2/12/2025).

Pada Selasa siang, para pengungsi di desa itu makan nasi dan telur rebus di dapur umum. Di dapur umum pos pengungsian itu, mereka memasak untuk 264 jiwa. Mereka sudah mendapat bantuan berupa beras, lauk-pauk, pakaian, makanan bayi, dan obat-obatan dari pemerintah dan sejumlah organisasi.

Pengungsi beristirahat di sebuah gereja yang menjadi pos pengungsian di Desa Dolok Nauli, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumut, Selasa (2/12/2025). Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, sebanyak 33.231 warga Sumut di sejumlah kabupaten/kota mengungsi akibat bencana banjir bandang dan longsor.

Air bersih untuk memasak dan air minum dipasok dengan truk tangki. Namun, air bersih tidak cukup untuk keperluan mandi, cuci, dan kakus. Pasokan obat-obatan untuk lanjut usia juga masih sangat minim.

Di pos pengungsian itu, beberapa orang lanjut usia yang mengalami batuk dan demam akhirnya terpaksa mengonsumsi obat untuk anak. ”Banyak orangtua yang batuk-batuk mungkin karena tidur di tenda. Mereka akhirnya mengonsumsi obat batuk untuk anak-anak,” kata Nelson.

Mawarni Sipahutar (45), salah seorang pengungsi, mengatakan, rumahnya roboh tertimbun lumpur dari banjir bandang dan longsor. ”Tidak ada harta benda yang bisa kami selamatkan, kecuali pakaian yang kami pakai. Sawah dan ladang kami juga rusak total,” kata Mawarni.

Mawarni dan keluarganya sudah sepekan tinggal di pos pengungsian. Dia mencoba mencari pakaian di rumahnya yang telah tertimbun lumpur. Namun, dia tidak bisa mendapat apa pun dari rumahnya yang sudah tertimbun lumpur setinggi 3 meter.

Kondisi di desa-desa yang terisolasi juga kekurangan bahan pangan. Di Desa Lambung II, Adiankoting, warga kekurangan makanan. Permukiman di desa itu tidak terkena banjir bandang dan longsor, tetapi sawah dan ladang mereka rusak parah dihantam longsor.

Pengungsi makan di tempat pengungsian di Desa Dolok Nauli, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumut, Selasa (2/12/2025). Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, sebanyak 33.231 warga Sumut di sejumlah kabupaten/kota mengungsi akibat bencana banjir bandang dan longsor.

Kondisi di desa-desa di Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga juga cukup parah. Hingga Selasa sore, kawasan itu belum bisa diakses melalui jalur darat.

Jalan utama melalui Jalan Tarutung-Sibolga masih terputus. Jalan itu hanya bisa dilalui hingga Kilometer 38, masih tersisa 24 kilometer lagi yang tertimbun longsor di beberapa lokasi agar bisa sampai ke Kota Sibolga yang berada di Kilometer 62.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana Abdul Muhari mengatakan, pemerintah telah mengirim logistik bantuan tahap pertama untuk Kota Sibolga, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, dan Humbang Hasundutan. Namun, penyaluran menuju Mandailing Natal, Kota Gunungsitoli, dan Nias Selatan masih terkendala akses darat.

Di Sumut, sejauh ini, tercatat 283 jiwa meninggal setelah tim pencarian dan pertolongan (SAR) menemukan korban yang sebelumnya dinyatakan hilang. Para korban tersebar di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Pakpak Bharat, Kota Padangsidimpuan, Deli Serdang, dan Nias. Sementara itu, jumlah korban hilang tercatat sebanyak 173 jiwa.

Upaya pembukaan akses darat di sejumlah kabupaten yang masih terputus terus dilakukan pemerintah. Salah satu jalur yang mulai terbuka adalah Tarutung–Padangsidimpuan. Namun, jalur dari Padangsidimpuan menuju Tapanuli Tengah masih terputus.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nikson Sinaga
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto