Pesenam artistik Abiyu bertekad menebus penampilan kurang maksimal di babak kualifikasi saat final nanti. Abiyu masih beradaptasi dengan peran barunya di tim senam.
10 Des 2025 19:20 WIB · Olahraga
KOMPAS/KELVIN HIANUSA
BANGKOK, KOMPAS — Pesenam artistik putra Indonesia, Abiyu Rafi, belum tampil maksimal di babak kualifikasi SEA Games Thailand 2025. Namun, dia masih mampu lolos ke final di dua nomor andalannya, yaitu lantai dan palang tunggal. Jika ingin naik podium tertinggi, Abiyu harus segera melepaskan beban tak terlihat di pundaknya.
Di Stadion Gymnasium 5 Universitas Thammasat Rangsit, Bangkok, Thailand, Rabu (10/12/2025), Abiyu tampil di SEA Games untuk ketiga kalinya. Bukannya semakin santai karena sudah mengenal ajang tersebut, dia justru tampak amat tegang. ”Harus lebih santai saja sih, menurutku. Terlalu tegang, jadi kaku (gerakannya),” ujarnya.
Pesenam 23 tahun itu selalu menghilang dari sekitar matras saat menanti giliran tampil. Dia memisahkan dari kerumunan atlet lain, termasuk dari sang pelatih. Saat pesenam lain meresapi atmosfer stadion, Abiyu lebih memilih mendengarkan lagu dengan penyuara telinga. Matanya menyorot sangat tajam ke arah alat lomba.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/10/9916e8b5d2547a35fd9236490cc4ee67-2025_1210_10401900.jpg)
Ketegangan itu terlihat jelas di kualifikasi alat lantai. Abiyu langsung membuat kesalahan dalam rutin gerakan akrobatik pertama. Energinya terlalu berlebihan saat melakukan salto sehingga mendarat kurang sempurna dan melewati garis batas. Setelah kesalahan itu, dia mulai mengeksekusi rutin gerakan dengan cukup rapi.
Abiyu mendapatkan nilai 12,967 di kualifikasi. Meskipun terkena pengurangan nilai, dia hanya berada di bawah wakil tuan rumah Surintornta Tikumporn (13,567) dan pesenam Filipina, Justine Ace De Leon (13,333). ”Satu kesalahan kecil seperti itu bisa rugi nilai banyak, tetapi masih lolos final,” kata pelatih senam artistik putra Indonesia, Ferrous One Willyodac.
Alat andalan utama Abiyu di Thailand adalah palang tunggal. Dia merupakan peraih perak SEA Games Kamboja 2023 di alat tersebut. Namun, ambisi besar di dadanya untuk tampil sempurna justru menjadi bumerang. Abiyu semakin tegang dan membuat kesalahan cukup fatal saat beraksi di atas palang.
Genggamannya sempat terpeleset. Dia hampir terjatuh, tetapi akhirnya bisa tetap menggantung di atas palang. Alhasil, Abiyu hanya mendapatkan nilai 10,933 dan menempati peringkat ke-8. ”Karena terlalu tegang, pegangannya terlalu kencang, jadi licin, semestinya bisa lebih rileks,” kata Abiyu.
Kesalahan di palang tunggal itu menghasilkan sobekan kecil di area jempol tangan Abiyu. Dia sempat menunjukkan darah di luka tersebut. Sang atlet pun terpaksa ditarik dari alat terakhir, yaitu palang sejajar. Tim pelatih enggan mengambil risiko karena palang sejajar bukan prioritas Abiyu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/10/7e83310cb85dd638d16363df6ca003ab-DSCF8494.jpg)
Beruntung, itu baru babak kualifikasi. Abiyu berkesempatan membalasnya di babak final. Dia akan menjalani final lantai pada Kamis besok, diikuti palang tunggal pada sehari setelah itu. ”Kalau buat saya kesalahan (di kualifikasi) justru tabungan. Kalau rapi besok nilainya bisa meningkat,” kata Ferrous.
Jika menampilkan yang terbaik di final palang tunggal, Abiyu berpotensi membawa pulang emas. Di Kejuaraan Dunia Senam Artistik Jakarta 2025 yang jauh lebih ketat dari sisi penjurian, dia sempat mendapatkan 12,500. Adapun nilai tertinggi di kualifikasi tadi dicatatkan oleh pesenam Vietnam, Dinh Phuong Thanh, 12,800.
Di lantai, Abiyu sebenarnya juga tidak tertinggal terlalu jauh dari dua pesaing lain. Tikumporn dan De Leon sangat berpotensi tersusul seandainya melakukan sedikit kesalahan di final. Kuncinya kini ada di tangan Abiyu. ”Masih bisa, masih bisa. Semoga ya lebih rileks. Enggak usah terlalu mikirin medali,” tuturnya.
Atlet asal Riau itu bertekad memperbaiki penampilannya. Dia sudah punya ritual khusus setiap tampil kurang baik. ”Pagi-pagi bangun. Kalau sudah rileks, langsung lihat video. Ngulang aja. Biasa kalau sudah gitu, sudah tenang. Saya bisa satu setengah jam sampai dua jam ngelihatin video penampilan sebelumnya,” kata Abiyu.
Wajar jika Abiyu merasa lebih gugup dari biasanya. Selain rasa penasaran berburu emas pertama, dia juga menjalani tugas baru di tim senam ”Merah Putih” saat ini. Dia merupakan andalan utama untuk meraih medali. Beban tersebut tidak dirasakan di dua edisi SEA Games sebelumnya, di Kamboja ataupun Vietnam.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/10/59b0be47a24c25e20f3df36423830bd5-DSCF8598.jpg)
Sebelumnya, Indonesia memiliki pesenam putri Rifda Irfanaluthfi yang sudah langganan berprestasi di level Asia Tenggara. Setelah Rifda pensiun pada pertengahan tahun ini, belum ada yang bisa mengisi kekosongannya di sektor putri. Abiyu, sebagai pesenam terbaik di sektor putra, pun mewarisi tugas berat tersebut.
Dua rekan Abiyu, Yudha Satria Tri Wira dan Muhammad Aprizal, juga berhasil menembus final di alat andalan masing-masing. Yudha akan tampil di final palang sejajar, Jumat. Aprizal akan turun di final gelang-gelang (Kamis) dan meja lompat (Jumat). ”Kami yakin tidak akan pulang dengan tangan kosong,” kata Ferrous.
Pembaca yang budiman, Harian Kompas membuka rubrik Surat untuk Atlet, yang berisi pendapat, penyemangat, atau komentar terkait penampilan atlet Indonesia di SEA Games Thailand 2025. Kirimkan komentar singkat Anda, minimal dua kalimat dan maksimal enam kalimat, dengan mengisi kolom di bawah ini. Komentar yang terpilih akan kami muat di Harian Kompas saat pelaksanaan SEA Games 2025.
Penulis:
Kelvin Hianusa dari Bangkok, ThailandEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari