Meski telah berbicara, belum jelas kapan kedua pemimpin negara adidaya itu akan bertemu.
09 Feb 2025 20:11 WIB · Internasional
MOSKWA, MINGGU — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan telah berbincang melalui telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Mereka membahas penyelesaian Perang Ukraina-Rusia yang telah berjalan selama tiga tahun terakhir.
Percakapan itu menjadi komunikasi langsung antara presiden AS dan Putin sejak awal 2022. Putin terakhir kali berbicara selama satu jam dengan Presiden AS Joe Biden pada Februari 2022, tak lama sebelum dia mengirim ribuan tentara ke Ukraina.
Dalam wawancara di pesawat Air Force One, Jumat (8/2/2025), waktu setempat, Trump tidak bisa memberi tahu New York Post tentang berapa kali dia dan Putin telah berbicara. Namun, ia kembali mengklaim selalu memiliki hubungan baik dengan Putin.
”Putin ingin melihat orang-orang berhenti sekarat. Semua orang yang meninggal itu. Orang-orang muda, muda, dan cantik. Mereka seperti anak-anakmu, jumlahnya dua juta—dan tanpa alasan,” kata Trump.
Baik Kremlin maupun Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar Reuters di luar jam kerja.
Trump telah berkali-kali berjanji untuk mengakhiri perang di Ukraina. Dia sempat menggembar-gemborkan mampu menyelesaikan perang dalam 24 jam, tetapi kemudian berubah menjadi enam bulan. Sejauh ini, dia juga belum menjelaskan secara terbuka cara yang akan dilakukan.
”Saya harap ini cepat. Setiap hari orang-orang meninggal. Perang di Ukraina ini sangat buruk. Saya ingin mengakhiri semua ini,” ujar Trump.
Pekan lalu, Trump merujuk perang tersebut sebagai pertumpahan darah. Selain itu, ia menyatakan timnya telah melakukan beberapa pembicaraan yang ”’sangat bagus”.
Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan, banyak komunikasi yang muncul melalui saluran berbeda. ”Saya pribadi mungkin tidak mengetahui sesuatu, tidak menyadari sesuatu. Oleh karena itu, dalam kasus ini, saya tidak dapat mengonfirmasi atau membantahnya,” katanya kepada kantor berita TASS menanggapi laporan New York Post.
Kremlin telah berulang kali mengimbau agar berhati-hati atas spekulasi tentang kontak dengan tim Trump mengenai kemungkinan kesepakatan damai.
Jurnalis Washington Post, Bob Woodward, dalam buku War (2024), melaporkan, Trump melakukan percakapan langsung sebanyak tujuh kali dengan Putin setelah meninggalkan Gedung Putih pada 2021. Ketika ditanya apakah tulisan Woodward benar, Trump mengatakan, ”Jika saya benar, itu adalah hal yang cerdas.” Namun, Kremlin membantah laporan Woodward.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/06/15/Arms-Control_89742918_1592199797.jpg)
Pertemuan antara Trump dan Putin belum jelas kapan akan terjadi. Namun, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dipandang oleh Rusia sebagai tempat ideal untuk pertemuan puncak.
”Persiapan untuk pertemuan tersebut berada pada tahap lanjutan dan dapat berlangsung pada bulan Februari atau Maret,” tutur Leonid Slutsky, Kepala Komite Urusan Internasional Parlemen Rusia, dikutip oleh kantor berita negara RIA, Kamis (6/2/2025).
Pada 14 Juni 2024, Putin menyatakan persyaratan pembukaan agar perang segera berakhir. Ukraina harus menghentikan ambisi untuk bergabung dengan Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Ukraina juga harus menarik pasukan mereka dari empat wilayah Ukraina yang diklaim dan sebagian besar telah dikuasai Rusia.
Putin terbuka untuk membahas kesepakatan damai Ukraina dengan Trump. Namun, dia menolak tuntutan agar Rusia menarik pasukan, membayar kompensasi pada Ukraina, menghadapi pengadilan internasional, dan membuat konsesi teritorial.
Seiring waktu, Putin terus menambah tantangan dalam negosiasi damai. Dia mengklaim Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy tidak lagi sah sebagai presiden. Setelah tiga tahun perang, pasukan Rusia pun terus membuat kemajuan di wilayah Ukraina.
Tidak mengherankan apabila Putin masih bersikukuh dengan tuntutannya. Dia hanya mengatakan, ”Jika ada keinginan untuk berunding dan menemukan solusi kompromi, biarkan siapa pun yang melakukan perundingan ini.”
”Keterlibatan tidak sama dengan negosiasi. Strategi Rusia adalah ’apa yang menjadi milikku adalah milikku. Dan apa yang menjadi milik Anda adalah untuk dinegosiasikan’,” kata Sir Laurie Bristow, Duta Besar Inggris untuk Rusia tahun 2016-2020.
Trump dan Putin terakhir kali bertemu di Helsinki, Finlandia, pada 2018. Mantan Presiden Finlandia Sauli Niinisto saat menjadi tuan rumah acara melihat karakter mereka sangat berbeda. ”Ada rasa saling menghormati. Namun, mereka tidak terlalu mirip. Putin adalah pemikir sistematis, sementara Trump bertindak seperti pengusaha yang membuat keputusan cepat,” ujarnya.
Saat ini Trump telah mengancam Rusia dengan tarif, sanksi, dan pemotongan harga minyak yang lebih tinggi. Richard Connolly, pakar militer dan ekonomi Rusia di Royal United Services Institute, London, menilai, ancaman itu tidak dapat mengakhiri perang lantaran negara Barat telah memberi sanksi berat kepada Rusia.
Menurut Connolly, Trump dapat menekan Rusia dengan mendukung industri minyak AS lewat subsidi dan mencabut tarif perdagangan 10 persen untuk China sebagai imbalan atas pembatasan hubungan ekonomi Beijing dengan Moskwa. ”Itu dapat membuat Rusia benar-benar terisolasi,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/28/63606bc2-2ff6-49f5-982c-9b144ab0acc0.jpg)
Trump menyiratkan, perbincangan damai antara AS-Rusia tidak menyertakan Ukraina. Menurut dia, Zelenskyy seharusnya membuat kesepakatan dengan Putin untuk menghindari perang. Hal ini bertentangan posisi Presiden Biden yang mendorong keterlibatan Kyiv.
”Kita tidak bisa membiarkan seseorang memutuskan sesuatu untuk kita. Rusia menginginkan penghancuran kebebasan dan kemerdekaan Ukraina,” kata Zelenskyy yang berpendapat kesepakatan damai macam itu akan mengirim sinyal berbahaya ke negara dengan pemimpin otoriter.
Pada Jumat (7/2/2025), Trump mengatakan, dia mungkin akan bertemu Zelenskyy pada pekan depan untuk membahas penyelesaian perang. Zelenskyy diperkirakan akan hadir dalam Konferensi Keamanan Munich yang juga dihadiri oleh Wakil Presiden JD Vance serta Utusan Khusus untuk Ukraina dan Rusia Keith Kellogg. Trump tidak hadir.
Di sisi lain, Putin juga tidak mendapat tekanan dalam politik dalam negeri untuk mengakhiri perang. Meskipun begitu, Rusia turut menderita banyak korban. Ekonominya juga terseret lantaran sanksi ekonomi negara-negara Barat.
Sementara itu, Kyiv bergulat dengan kekurangan pasukan dan senjata. Dengan banyaknya kebijakan ”America First”, Trump bisa saja segera menghentikan pasokan bantuan militer ke Ukraina.
Trump telah mengatakan, dia ingin mencapai kesepakatan senilai 500 juta dollar AS dengan Zelenskyy untuk mengakses mineral dan logam tanah jarang di Ukraina. Ini akan menjadi imbalan jaminan keamanan dalam setiap penyelesaian damai yang potensial. Zelenkyy bersedia bernegosiasi. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Bonifasius Josie Susilo H