Dengan sosoknya yang ”low profile”, Liang Wenfeng meniupkan napas baru pengembangan akal imitasi di China: tak lagi bertumpu pada tradisi imitasi, tapi pada spirit inovasi.
29 Jan 2025 09:25 WIB · Internasional
BEIJING, RABU — Dalam beberapa hari terakhir ini, dunia teknologi kecerdasan buatan atau akal imitasi (artificial intelligence/AI) dikejutkan oleh kehadiran AI China, DeepSeek. Pada Selasa (28/1/2025), aplikasi DeepSeek telah menggeser dominasi ChatGPT sebagai aplikasi asisten AI gratis yang paling banyak diunduh di AS di pasar aplikasi Apple, AppStore.
Kehadirannya membuat harga saham-saham teknologi AS rontok. Saham perusahaan semikonduktor terbesar dunia, Nvidia, rontok 17 persen dalam sehari bursa. Secara total, indeks saham semikonduktor AS turun 9,2 persen dalam sehari, kerontokan terparah sejak Maret 2020.
Harga saham perusahaan teknologi besar AS lainnya, Microsoft, turun 2,1 persen; Alphabet, induk perusahaan Google, turun 4,2 persen; pembuat server AI, Dell Technologies, turun 8,7 persen; perusahaan operator pusat data anjlok, Digital Realty, turun 8,7 persen; dan perusahaan listrik, salah satunya adalah Vista, juga turun 28,3 persen.
Siapa sosok di balik guncangan di jagat teknologi AI tersebut? Dia adalah Liang Wenfeng (39), pendiri DeepSeek. Sebelum 20 Januari 2025, sosoknya tak banyak dikenal. Dia sangat low profile, hampir tidak pernah memberikan kesempatan wawancara pada media. Dua kali ia bersedia diwawancara oleh media China, Waves, pada tahun 2023 dan 2024.
Di luar itu, Liang lebih sering menghindari tampil di depan publik. Ia juga tidak memberi jawaban saat wartawan kantor berita Reuters di Beijing meminta untuk mewawancarainya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/29/1686dab2a1784c84a6b5c1a7701e426f-1000000146.jpg)
Meski dengan sosoknya yang low profile itu, Liang kini menjadi sorotan dunia dan menjadi wajah industri teknologi akal imitasi China. Ia juga menjadi tumpuan harapan Negeri Tirai Bambu untuk mengatasi pembatasan ekspor teknologi yang gencar diberlakukan Amerika Serikat terhadap negara itu.
Pada 20 Januari 2025, Liang dan delapan tokoh lainnya diminta menyampaikan presentasinya dalam simposium tertutup yang digelar oleh Perdana Menteri China Li Qiang. Dalam simposium itu, seperti terlihat dari foto-foto dan video televisi China, CCTV, Liang muncul dengan penampilan ala anak muda milenial. Penampilannya tampak kontras dengan hadirin lain, kebanyakan adalah para akademisi berambut uban, pejabat pemerintah, dan para konglomerat China.
Undangan pada Liang di forum tersebut memperlihatkan pengakuan para pembuat kebijakan di Beijing atas peran dan potensi DeepSeek dalam upaya mengubah tata dunia AI demi kepentingan China.
DeepSeek mulai meluncurkan produk-produk AI pada Desember 2024. Didirikan pada 2023 di Hangzhou, China, perusahaan ini merupakan perusahaan rintisan kecil yang sebelumnya nyaris tak dikenal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/28/e2f4e37fdfb8dee95091b070b8e6392c-1a56202e606e4defb440cba7daa87554_0_07155fc7b3bf4b0ba504bd06e8ab4236.jpg)
Seperti pesaingnya dari Barat, yakni Chat-GPT dari OpenAI, Llama milik Meta, Gemini dari Google, ataupun Claude dari Anthropic, DeepSeek menggunakan model bahasa besar (LLM). Model ini mahir dalam bahasa Inggris dan China.
Kemampuannya sama dengan AI dari AS, dari merancang resep masakan, membuat tulisan ilmiah, hingga membuat kode untuk membangun aplikasi.
Dalam laporan terbuka, DeepSeek menampilkan hasil pengujian V-3 yang melebihi Llama, ChatGPT, dan Claude. Keunggulan akurasi ini di bidang komputasi matematika, kompetisi kode pemrograman, dan mendeteksi serta memperbaiki gangguan (bug) dalam kode pemrograman.
Tahun lalu, CEO Baidu, Robin Li, juga diundang untuk berbicara pada forum simposium yang sama dan juga digelar oleh PM Li Qiang. Pada 2023, Robin Li meluncurkan rival ChatGPT pertama dari China.
Dalam wawancara pada tahun tersebut, Robin Li mengatakan, China tidak akan bisa menyamai dan meniru sukses OpenAI yang didukung Microsoft. Oleh karena itu, ia mengusulkan, perusahaan-perusahaan China seharusnya fokus saja pada tujuan-tujuan komersial dengan menggunakan model-model AI yang sudah ada.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/29/93ceb8faa609d87015c87e1714934927-1000000145.jpg)
DeepSeek, di bawah kepemimpinan Liang, sengaja menghindari membuat app sendiri. Ia mengumpulkan talenta-talenta riset dan sumber daya untuk menciptakan model yang bisa menyamai atau bahkan bisa melebihi OpenAI.
Ke depan, Liang bersama DeepSeek akan terus fokus pada model-model canggih yang akan digunakan oleh perusahaan-perusahaan lain dalam membangun basis pelanggan dan produk-produk AI.
Pendekatan Liang berbeda dari kebanyakan industri teknologi China yang biasa mengambil inovasi-inovasi dari luar, lalu mengembangkannya dengan skala yang jauh lebih cepat dibandingkan dengan di negara-negara tempat asal inovasi itu dibuat. ”AI China tidak bisa hanya jadi pengikut selamanya,” ujar Liang dalam wawancara dengan Waves, Juli 2024.
AI China tidak bisa hanya jadi pengikut selamanya.
”Kita sering mengatakan, ada jurang perbedaan dalam rentang satu atau dua tahun antara AI China dan Amerika Serikat. Namun, perbedaan yang sebenarnya adalah perbedaan antara orisinalitas dan imitasi,” ujar Liang.
Dalam wawancara tersebut, ia mengungkapkan keyakinannya bahwa industri teknologi China saat ini berada di persimpangan jalan. China hanya kekurangan dalam hal kepercayaan diri.
Liang menyebut negaranya tak kekurangan dalam sumber daya untuk membuat terobosan-terobosan mendasar dalam riset dan pengembangan teknologi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/29/025a65a855102961abd768f44b202478-1000000148.jpg)
”Dalam 30 tahun terakhir, (industri teknologi China) hanya menekankan untuk terus mencari uang dan mengabaikan inovasi. Inovasi bukan hanya digerakkan oleh bisnis. (Inovasi) Itu juga butuh rasa ingin tahu dan keinginan untuk menciptakan (sesuatu),” papar Liang dalam wawancara itu.
Tidak seperti para pesaingnya di AS, OpenAI, yang telah mengembangkan model milik sendiri secara eksklusif, DeepSeek bersifat sumber terbuka (open source). Artinya, DeepSeek terbuka bagi siapa pun untuk mengakses kode pemrogramannya, melihat cara kerjanya, memodifikasi, dan turut mengembangkannya sendiri.
Dalam 30 tahun terakhir, (industri teknologi China) hanya menekankan untuk terus mencari uang dan mengabaikan inovasi.
Sifat open source ini dipandang sebagai nilai tambah DeepSeek yang membuka potensi pengembangan lebih luas dan lebih murah. Namun, skema ini kemungkinan akan membuat perusahaan pengembangnya tak mampu menangguk keuntungan besar.
Dari pemaparannya dalam wawancara tersebut, terlihat bahwa Liang menerapkan budaya open-source yang, menurut sejumlah orang dalam di kalangan teknologi AS, menjadi salah satu kelebihan Silicon Valley di AS dibandingkan dengan para pesaingnya di China. ”Sekalipun OpenAI bersifat sumber tertutup, mereka tidak bisa menghentikan pihak-pihak lain untuk mengejarnya,” kata Liang.
”Sumber terbuka (open-source) itu lebih seperti praktik budaya dibandingkan dengan praktik bisnis… perusahaan yang melakukannya bakal memiliki kekuatan lunak (soft power),” lanjutnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/29/edba318be544c496ff1cfbf7537b6031-1000000143.jpg)
Seperti dikutip The Economist (23/1/2025), Liang mengatakan, DeepSeek akan membuat hasil-hasil riset dan pelatihannya bersifat terbuka guna mencegah monopolisasi teknologi AS di kalangan segelintir orang atau perusahaan saja.
Liang tumbuh dan berkembang di Provinsi Guangdong, China selatan, saat China pada tahun 1980-an dan 1990-an mengadopsi kapitalisme pasar. Saat ia tumbuh, kenang Liang, kebanyakan orang seusianya lebih berminat mulai bisnis ketimbang belajar. Liang berbeda, ia cenderung pada aktivitas akademik.
Ia melanjutkan belajar dengan kuliah pada kampus elite, Universitas Zhejiang, dalam usia 17 tahun. Ia memilih jurusan Elektro dan Teknik Komunikasi. Ia melanjutkan ke jenjang master dan lulus pada jurusan Teknik Informatika dan Komunikasi tahun 2010.
Pada 2015, Liang menjadi salah satu pendiri perusahaan investasi dana lindung (hedge fund) kuantitatif di China, High-Flyer Quant. High-Flyer Quant fokus pada perdagangan yang digerakkan oleh AI. Berbeda dari menggunakan analisis orang, perusahaan itu mengggunakan algoritma matematika untuk perdagangan.
Pada akhir 2021, total portofolio perusahaan tersebut di atas 100 miliar yuan atau 13,79 miliar dollar AS. Melalui akun WeChat-nya pada April 2023, High-Flyer Quant menyatakan akan mengembangkan diri lebih dari industri investasi dan memfokuskan sumber daya ”untuk mengeksplorasi esensi AGI (artificial general intelligence). Sebelum kemudian, lahirlah DeepSeek.
OpenAI mendefinisikan AGI sebagai sistem mandiri yang melampaui kemampuan manusia dalam melaksanakan tugas-tugas yang memiliki nilai paling ekonomis.
Para staf dan karyawan DeepSeek umumnya adalah lulusan dan para mahasiswa PhD dari berbagai universitas ternama di China. Liang percaya, lewat kerja sama dengan universitas-universitas top China itu, DeepSeek bisa mengatasi tantangan-tantangan terbesar dalam dunia AI.
”Yang menjadi daya tarik bagi talenta-talenta terbaik itu jelas mencari solusi atas problem-problem terberat dunia,” ujar Liang pada Juli 2024. ”Target kami adalah mengejar AGI”. (Reuters)
Penulis:
Muhammad Samsul Hadi, Irene SarwindaningrumEditor:
Billy KhaerudinPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .