Apa yang Anda pelajari dari artikel ini?
- Mengapa menonton film di bioskop saat Lebaran dianggap lebih dari sekadar hiburan?
- Mengapa film horor mendominasi layar bioskop saat musim liburan Lebaran?
- Bagaimana strategi film Indonesia menyaingi dominasi Hollywood lewat kekuatan cerita lokal?
- Seberapa penting peran popcorn dalam bisnis bioskop saat musim liburan Lebaran?
Mengapa nonton film di bioskop saat Lebaran dianggap lebih dari sekadar hiburan?
Lebaran tak hanya identik dengan ketupat dan ”salam tempel”, tetapi juga antrean panjang di lobi bioskop. Menonton film telah menjadi bagian dari tradisi Lebaran sebagian warga, setidaknya hampir dua dekade terakhir.
Analisis Kompas, periode H-14 hingga H+14 Idul Fitri selama 2007 hingga 2024, telah menyumbang lebih dari 62 juta penonton film Indonesia. Ini menjadikan musim liburan Lebaran mengalami lonjakan penonton tertinggi sepanjang tahun.
Bagi banyak keluarga, bioskop menjadi pelarian dari hiruk-pikuk rumah yang ramai dan obyek wisata yang sesak. Seperti yang dilakukan Wisnu Satrio (30). Menonton film bersama keluarga besar menjadi rutinitasnya tiap Lebaran. ”Liburan Lebaran itu panjang. Setelah makan dan ngobrol, bingung mau ngapain lagi. Akhirnya, ya, ke bioskop,” ujarnya.
Produser film Anggia Kharisma menangkap peluang ini dengan merilis film animasi Jumbo pada liburan Lebaran ini. Ia menyebut film animasi keluarga tersebut memang dirancang sebagai ”jembatan kebersamaan” antara anak dan orangtua.
Cerita yang menyentuh, nilai keluarga, dan visual yang ramah semua umur, menjadikan film sebagai medium refleksi ringan di tengah perayaan.
”Family-oriented viewing experience semakin dicari, terutama di momen seperti Lebaran,” katanya.
Mengapa film horor mendominasi layar bioskop saat libur Lebaran?
Di tengah suasana silaturahmi dan makan ketupat, bioskop-bioskop di banyak kota pada masa liburan Lebaran ini justru dipenuhi film-film bergenre horor.
Dari 12 film lokal yang tayang menjelang Idul Fitri, sembilan di antaranya adalah horor, antara lain Qodrat 2, Pabrik Gula, dan Setan Botak di Jembatan Ancol. Ini memperkuat tren beberapa tahun terakhir bahwa film horor makin mendominasi layar lebar, terutama saat musim liburan keluarga seperti Lebaran.
Fenomena ini bukan kebetulan semata. Hasil analisis Tim Jurnalisme Data Kompas menunjukkan, sebanyak 17,25 persen penonton film Indonesia selama 18 tahun terakhir, sengaja menonton film saat liburan Lebaran. Angka ini bahkan lebih tinggi dibandingkan jumlah penonton pada liburan akhir tahun.
Menariknya, sejak 2017, genre horor menggantikan dominasi drama pada periode Lebaran, dengan puncaknya pada 2022 saat KKN di Desa Penari meraih rekor lebih dari 10 juta penonton. Horor kini bukan hanya tontonan alternatif, melainkan primadona musim liburan.
Salah satu alasan kuatnya daya tarik horor di Indonesia adalah akar budaya yang masih lekat dengan hal mistik. Horor sudah menjadi pop culture, seperti dikatakan sutradara film horor Qodrat 2, Charles Gozali.
Meskipun negara berpenduduk muslim lain juga akrab dengan visual pocong, hanya di Indonesia pocong menjadi hantu yang ikonik. ”Horor di Indonesia sudah menjadi pop culture. Di Amerika mungkin superhero, tapi di sini horor,” ujarnya.
Daya tarik lainnya datang dari aspek psikologis. Menurut pengamat perfilman Ekky Imanjaya, film horor memberi ruang bagi penonton untuk melepaskan stres dan emosi (eskapisme).
Maka, tidak mengherankan jika horor terus menjadi andalan produser film untuk musim liburan Lebaran. Selain selaras dengan selera pasar, film horor menawarkan fleksibilitas cerita yang bisa dibungkus dengan nilai lokal, drama, bahkan pesan religius.
Bagaimana strategi film Indonesia menyaingi dominasi Hollywood lewat kekuatan cerita lokal?
Di tengah derasnya arus film Hollywood dengan CGI (computer generated imagery/pencitraan hasil komputer) canggih, film Indonesia justru menunjukkan taringnya lewat strategi yang lebih ”membumi”. Salah satunya, pemilihan waktu rilis yang strategis, yakni pada musim liburan Lebaran.
Tahun 2025 ini, lima film nasional, mulai dari horor Qodrat 2, animasi Jumbo, hingga drama keluarga Norma: antara Mertua dan Menantu dan Komang, akan bertarung merebut hati penonton.
Lonjakan jumlah penonton yang mencapai lebih dari 60 juta selama liburan Lebaran 18 tahun terakhir ini, menjadikan periode ini sebagai ”musim panen” perfilman nasional.
Produser Jumbo, Anggia Kharisma, menyebut bahwa momen Lebaran memberi ruang yang tepat untuk film dengan why yang kuat untuk menarik hati penonton. Film semacam ini tak sekadar menghibur, tapi punya kedekatan emosional dengan penonton.
Jumbo dijanjikannya akan mengangkat nilai persahabatan dan keluarga dalam kemasan visual modern dengan rasa lokal. ”Film ini jadi ruang imajinasi dan refleksi,” katanya.
Strategi ini berbeda dari pendekatan Hollywood yang kerap mengandalkan aksi besar atau efek visual. Di sinilah film Indonesia menemukan keunggulannya. Tak hanya mengandalkan momen, kekuatan film nasional adalah pada ceritanya yang dekat dengan kehidupan penonton. Menurut Anggia, ini modal besar Indonesia: kisah-kisah yang dekat dengan realitas sehari-hari.
Kisah cinta, keluarga, hingga spiritualitas hadir dalam bahasa yang akrab bagi masyarakat lokal, yang menjadikan film Indonesia lebih ”terasa”.
Langkah-langkah ini membuahkan hasil. Sejak 2017, jumlah penonton film nasional melonjak signifikan. Dari hanya 10-an juta di awal 2000-an, kini mencapai 50 juta lebih pada 2024.
Seberapa penting popcorn dalam bisnis bioskop saat libur Lebaran?
Aroma gurih popcorn selalu menyertai pengalaman menonton di bioskop. Di balik camilan ringan itu, tersembunyi kekuatan besar dalam ekosistem industri film. Laporan keuangan beberapa perusahaan bioskop menunjukkan bahwa pendapatan dari makanan dan minuman (food and beverages/F & B) bisa mencapai setengah dari pendapatan tiket.
Di Cinema 21, misalnya, kontribusi F&B mencapai 53,94 persen dari total pendapatan tiket. Bahkan margin keuntungan dari popcorn jauh melampaui penjualan tiket: 73 persen berbanding 50 persen.
Dalam kondisi ini, semakin banyak penonton, semakin besar potensi cuan dari camilan. Apalagi di musim liburan Lebaran yang jumlah penontonnya biasanya melonjak. Popcorn tidak hanya jadi pengisi waktu sebelum film dimulai, tapi juga strategi bisnis penting.
Studi dari Stanford dan UC Santa Cruz AS berpendapat bahwa harga tinggi popcorn adalah bentuk ”subsidi silang” untuk menjaga harga tiket tetap terjangkau. Sebab, hasil dari camilan langsung masuk ke kantong bioskop, tak perlu dibagi dengan distributor film seperti tiket.
Ini membantu bioskop tetap hidup bahkan saat menayangkan film yang tidak melulu sesuai selera pasar.
Dalam survei daring Kompas pada Maret 2025, dua dari tiga penonton mengaku rutin membeli popcorn saat menonton di bioskop. Selera pun bervariasi: laki-laki cenderung memilih rasa manis, sementara perempuan lebih suka campuran manis dan asin.
Apa yang Anda pelajari dari artikel ini?
- Mengapa menonton film di bioskop saat Lebaran dianggap lebih dari sekadar hiburan?
- Mengapa film horor mendominasi layar bioskop saat musim liburan Lebaran?
- Bagaimana strategi film Indonesia menyaingi dominasi Hollywood lewat kekuatan cerita lokal?
- Seberapa penting peran popcorn dalam bisnis bioskop saat musim liburan Lebaran?
Mengapa nonton film di bioskop saat Lebaran dianggap lebih dari sekadar hiburan?
Lebaran tak hanya identik dengan ketupat dan ”salam tempel”, tetapi juga antrean panjang di lobi bioskop. Menonton film telah menjadi bagian dari tradisi Lebaran sebagian warga, setidaknya hampir dua dekade terakhir.
Analisis Kompas, periode H-14 hingga H+14 Idul Fitri selama 2007 hingga 2024, telah menyumbang lebih dari 62 juta penonton film Indonesia. Ini menjadikan musim liburan Lebaran mengalami lonjakan penonton tertinggi sepanjang tahun.
Bagi banyak keluarga, bioskop menjadi pelarian dari hiruk-pikuk rumah yang ramai dan obyek wisata yang sesak. Seperti yang dilakukan Wisnu Satrio (30). Menonton film bersama keluarga besar menjadi rutinitasnya tiap Lebaran. ”Liburan Lebaran itu panjang. Setelah makan dan ngobrol, bingung mau ngapain lagi. Akhirnya, ya, ke bioskop,” ujarnya.
Produser film Anggia Kharisma menangkap peluang ini dengan merilis film animasi Jumbo pada liburan Lebaran ini. Ia menyebut film animasi keluarga tersebut memang dirancang sebagai ”jembatan kebersamaan” antara anak dan orangtua.
Cerita yang menyentuh, nilai keluarga, dan visual yang ramah semua umur, menjadikan film sebagai medium refleksi ringan di tengah perayaan.
”Family-oriented viewing experience semakin dicari, terutama di momen seperti Lebaran,” katanya.
Mengapa film horor mendominasi layar bioskop saat libur Lebaran?
Di tengah suasana silaturahmi dan makan ketupat, bioskop-bioskop di banyak kota pada masa liburan Lebaran ini justru dipenuhi film-film bergenre horor.
Dari 12 film lokal yang tayang menjelang Idul Fitri, sembilan di antaranya adalah horor, antara lain Qodrat 2, Pabrik Gula, dan Setan Botak di Jembatan Ancol. Ini memperkuat tren beberapa tahun terakhir bahwa film horor makin mendominasi layar lebar, terutama saat musim liburan keluarga seperti Lebaran.
Fenomena ini bukan kebetulan semata. Hasil analisis Tim Jurnalisme Data Kompas menunjukkan, sebanyak 17,25 persen penonton film Indonesia selama 18 tahun terakhir, sengaja menonton film saat liburan Lebaran. Angka ini bahkan lebih tinggi dibandingkan jumlah penonton pada liburan akhir tahun.
Menariknya, sejak 2017, genre horor menggantikan dominasi drama pada periode Lebaran, dengan puncaknya pada 2022 saat KKN di Desa Penari meraih rekor lebih dari 10 juta penonton. Horor kini bukan hanya tontonan alternatif, melainkan primadona musim liburan.
Salah satu alasan kuatnya daya tarik horor di Indonesia adalah akar budaya yang masih lekat dengan hal mistik. Horor sudah menjadi pop culture, seperti dikatakan sutradara film horor Qodrat 2, Charles Gozali.
Meskipun negara berpenduduk muslim lain juga akrab dengan visual pocong, hanya di Indonesia pocong menjadi hantu yang ikonik. ”Horor di Indonesia sudah menjadi pop culture. Di Amerika mungkin superhero, tapi di sini horor,” ujarnya.
Daya tarik lainnya datang dari aspek psikologis. Menurut pengamat perfilman Ekky Imanjaya, film horor memberi ruang bagi penonton untuk melepaskan stres dan emosi (eskapisme).
Maka, tidak mengherankan jika horor terus menjadi andalan produser film untuk musim liburan Lebaran. Selain selaras dengan selera pasar, film horor menawarkan fleksibilitas cerita yang bisa dibungkus dengan nilai lokal, drama, bahkan pesan religius.
Bagaimana strategi film Indonesia menyaingi dominasi Hollywood lewat kekuatan cerita lokal?
Di tengah derasnya arus film Hollywood dengan CGI (computer generated imagery/pencitraan hasil komputer) canggih, film Indonesia justru menunjukkan taringnya lewat strategi yang lebih ”membumi”. Salah satunya, pemilihan waktu rilis yang strategis, yakni pada musim liburan Lebaran.
Tahun 2025 ini, lima film nasional, mulai dari horor Qodrat 2, animasi Jumbo, hingga drama keluarga Norma: antara Mertua dan Menantu dan Komang, akan bertarung merebut hati penonton.
Lonjakan jumlah penonton yang mencapai lebih dari 60 juta selama liburan Lebaran 18 tahun terakhir ini, menjadikan periode ini sebagai ”musim panen” perfilman nasional.
Produser Jumbo, Anggia Kharisma, menyebut bahwa momen Lebaran memberi ruang yang tepat untuk film dengan why yang kuat untuk menarik hati penonton. Film semacam ini tak sekadar menghibur, tapi punya kedekatan emosional dengan penonton.
Jumbo dijanjikannya akan mengangkat nilai persahabatan dan keluarga dalam kemasan visual modern dengan rasa lokal. ”Film ini jadi ruang imajinasi dan refleksi,” katanya.
Strategi ini berbeda dari pendekatan Hollywood yang kerap mengandalkan aksi besar atau efek visual. Di sinilah film Indonesia menemukan keunggulannya. Tak hanya mengandalkan momen, kekuatan film nasional adalah pada ceritanya yang dekat dengan kehidupan penonton. Menurut Anggia, ini modal besar Indonesia: kisah-kisah yang dekat dengan realitas sehari-hari.
Kisah cinta, keluarga, hingga spiritualitas hadir dalam bahasa yang akrab bagi masyarakat lokal, yang menjadikan film Indonesia lebih ”terasa”.
Langkah-langkah ini membuahkan hasil. Sejak 2017, jumlah penonton film nasional melonjak signifikan. Dari hanya 10-an juta di awal 2000-an, kini mencapai 50 juta lebih pada 2024.
Seberapa penting popcorn dalam bisnis bioskop saat libur Lebaran?
Aroma gurih popcorn selalu menyertai pengalaman menonton di bioskop. Di balik camilan ringan itu, tersembunyi kekuatan besar dalam ekosistem industri film. Laporan keuangan beberapa perusahaan bioskop menunjukkan bahwa pendapatan dari makanan dan minuman (food and beverages/F & B) bisa mencapai setengah dari pendapatan tiket.
Di Cinema 21, misalnya, kontribusi F&B mencapai 53,94 persen dari total pendapatan tiket. Bahkan margin keuntungan dari popcorn jauh melampaui penjualan tiket: 73 persen berbanding 50 persen.
Dalam kondisi ini, semakin banyak penonton, semakin besar potensi cuan dari camilan. Apalagi di musim liburan Lebaran yang jumlah penontonnya biasanya melonjak. Popcorn tidak hanya jadi pengisi waktu sebelum film dimulai, tapi juga strategi bisnis penting.
Studi dari Stanford dan UC Santa Cruz AS berpendapat bahwa harga tinggi popcorn adalah bentuk ”subsidi silang” untuk menjaga harga tiket tetap terjangkau. Sebab, hasil dari camilan langsung masuk ke kantong bioskop, tak perlu dibagi dengan distributor film seperti tiket.
Ini membantu bioskop tetap hidup bahkan saat menayangkan film yang tidak melulu sesuai selera pasar.
Dalam survei daring Kompas pada Maret 2025, dua dari tiga penonton mengaku rutin membeli popcorn saat menonton di bioskop. Selera pun bervariasi: laki-laki cenderung memilih rasa manis, sementara perempuan lebih suka campuran manis dan asin.