Selama libur Lebaran 2025, operasi moneter rupiah dan valas ditiadakan. Berkaca dari pengalaman sebelumnya, depresiasi rupiah terjadi saat BI absen dari pasar.
31 Mar 2025 07:47 WIB · Ekonomi
Belakangan pergerakan nilai tukar rupiah tengah menjadi sorotan publik. Rupiah yang sempat tembus Rp 16.600 per dollar AS dikait-kaitkan dengan situasi krisis moneter pada 1998.
Meski dilihat dari berbagai aspek situasinya berbeda, depresiasi rupiah yang diperkirakan masih akan berlangsung dalam jangka waktu pendek tetap patut diwaspadai. Sebab, nilai tukar yang tidak stabil, apalagi cenderung melemah, akan memengaruhi persepsi pasar serta berdampak pada sektor riil.
Namun, situasinya kini tidak mudah. Di tengah upaya stabilisasi nilai tukar rupiah, seluruh kegiatan operasi moneter oleh Bank Indonesia (BI) libur. Ini berlaku seiring dengan hari libur nasional dan cuti bersama terkait hari raya Idul Fitri 2025.
Dalam keterangan resminya, BI menyatakan, seluruh kegiatan operasional, termasuk operasi moneter rupiah dan valuta asing (valas) per 28 Maret-7 April 2025, ditiadakan. BI baru akan kembali beroperasi mulai Selasa (8/4/2025).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/30/f2ec9854b2fa9d4afc49e627673efc81-Screenshot_2025_03_30_150622.png)
Berkaca dari pengalaman 2024, nilai tukar rupiah selama musim libur Lebaran tertekan. Ekspektasi terhadap waktu pemangkasan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), yang mundur dan memanasnya konflik geopolitik telah mendorong modal asing keluar dari pasar keuangan domestik. Akibat faktor eksternal itu, rupiah melemah.
Pada saat yang sama, BI ”sedang libur”. Saat itu, kegiatan operasional BI, termasuk operasi moneter pasar, libur selama 8-15 April 2024. BI baru kembali beroperasi pada 16 April 2024.
Pada perdagangan terakhir per 5 April 2024 atau sehari sebelum BI libur, rupiah di level Rp 15.873 per dollar AS atau lebih rendah 2,81 persen dibandingkan dengan akhir 2023. Pada saat BI kembali ke pasar pada 16 April 2024, rupiah sudah terperosok hingga Rp 16.176 per dollar AS atau melemah 4,77 persen dibandingkan dengan akhir 2023.
Tekanan terhadap nilai tukar rupiah pada 2024 terutama berasal dari faktor eksternal. Kali ini, tekanan justru dimulai dari dalam negeri.
Dengan kata lain, rupiah telah terdepresiasi sebesar 1,9 persen selama sepekan BI absen dari pasar keuangan. Tekanan nilai tukar pun terus berlanjut hingga BI terpaksa mengerek suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 6,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur BI pada April 2024.
Posisi rupiah pada 2024 tersebut nyaris sama dengan tahun ini. Sehari sebelum BI masuk masa libur, yakni per 27 Maret 2025, nilai tukar rupiah ditutup pada level Rp 16.566 per dollar AS atau melemah 2,5 persen dibandingkan dengan perdagangan pada akhir 2024.
Bedanya, tekanan terhadap nilai tukar rupiah pada 2024 terutama berasal dari faktor eksternal. Kali ini, tekanan justru dimulai dari dalam negeri. Rupiah bahkan sempat ke level Rp 16.622 per dollar AS pada perdagangan 25 Maret 2025 atau melemah 2,87 persen secara tahun kalender berjalan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/23/797f1d3919f3c161fffda772017198aa-FAK_5245.jpg)
Catatan jelang musim Lebaran 2025 itu mendekati level terendah rupiah dalam lima tahun terakhir, tepatnya sejak 2 April 2020 di level Rp 16.741 per dollar AS. Bahkan, ini juga mendekati level terendah rupiah saat krisis moneter 1998, yakni Rp 16.900 per dollar AS pada 17 Juni 1998 dan Rp 17.000 per dollar AS dalam perdagangan pada 22 Januari 1998.
Di sisi lain, depresiasi rupiah kali ini terjadi seminggu setelah pasar saham terpuruk. Pada 18 Maret 2025, Bursa Efek Indonesia terpaksa menghentikan perdagangan (trading halt) sesi pertama lantaran Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi hingga 6 persen dan ditutup di level 6.011,84 atau terendah sejak 2021.
Bukan kali pertama kondisi pelemahan nilai tukar berlangsung menjelang dan selama periode libur nasional. Oleh sebab itu, BI mengklaim telah mempersiapkan beberapa antisipasi dan mitigasi risiko ketika absen dari pasar.
”Sebagaimana biasa setiap menghadapi libur panjang, BI tentunya sudah menyiapkan berbagai langkah antisipasi dan mitigasi terkait kondisi moneter, termasuk nilai tukar rupiah,” kata Direktur Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Fitra Jusdiman saat dihubungi Kompas, Kamis (27/3/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/19/f216b2ac-24aa-4611-ad41-d186553f189d_jpg.jpg)
Fitra menjelaskan, selama libur panjang di Indonesia, pasar keuangan global tetap beroperasi dan bergerak normal. Situasi ini akan berdampak pada pergerakan nilai tukar rupiah saat pasar domestik kembali buka pada Selasa 8 April 2025.
Berdasarkan data historisnya, ia melanjutkan, pergerakan nilai tukar rupiah saat pasar kembali dibuka pada dasarnya relatif sejalan dengan pergerakan pasar global. Artinya, apabila kurs dollar AS secara global melemah, biasanya rupiah akan menguat. Demikian pula sebaliknya.
Upaya stabilisasi tersebut juga didukung oleh posisi cadangan devisa Indonesia yang kuat dan sangat memadai.
Dalam lima tahun terakhir, nilai tukar rupiah tercatat dua kali menguat pada 2020 dan 2023 saat pasar buka kembali setelah libur panjang Lebaran. Sebaliknya, rupiah dalam periode yang sama tercatat tiga kali melemah, yakni pada 2021, 2022, dan 2024.
”BI selalu berkomitmen untuk mengawal dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, terutama pada kondisi terjadi peningkatan volatilitas yang berlebihan. Ini dilakukan secara bold, timely, dan measured. Upaya stabilisasi tersebut juga didukung oleh posisi cadangan devisa Indonesia yang kuat dan sangat memadai,” ujar Fitra.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/06/2b49d5e2-6182-4b86-a2aa-52f797873611_png.png)
Adapun kondisi rupiah yang bergejolak hingga menyentuh level Rp 16.600-an per dollar AS belakangan disebabkan faktor eksternal dan domestik. Tekanan eksternal yang dimaksud dibentuk oleh sentimen pasar keungan merespons kebijakan Presiden AS Donald Trump serta ketatnya kebijakan The Fed.
Sementara dari sisi domestik, masih menurut Fitra, kebutuhan valas meningkat seiring dengan pembayaran dividen menjelang Lebaran. Oleh sebab itu, BI senantiasa akan memantau pergerakan rupiah sembari memastikannya tetap stabil, dengan tetap berada di pasar sembari menempuh triple intervention.
Di lain pihak, upaya intervensi BI untuk menstabilkan nilai tukar rupiah menimbulkan beban biaya yang besar. Nilai tukar rupiah pada akhir tahun semestinya dapat kembali di kisaran Rp 16.000 per dollar AS apabila diikuti dengan reformasi struktural.
Ekonom dan pakar kebijakan publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, berpendapat, biaya intervensi yang dikeluarkan oleh BI untuk stabilitasi nilai tukar rupiah termasuk mahal. Namun, upaya tersebut terbilang sia-sia karena pada akhirnya rupiah tetap melemah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/01/30/9f63d4df-8caf-4387-be82-3974a58613b3_jpg.jpg)
Pada 27 Maret 2025, rupiah dibuka di level Rp 16.590 per dollar AS atau lebih kuat 0,1 persen dari penutupan sebelumnya, setelah BI menghabiskan 1,6 miliar dollar AS untuk mengintervensi pasar spot dalam tiga hari terakhir. Rupiah pun kembali melemah ke level Rp 16.640 per dollar AS pada sesi siang.
”Data ini mengonfirmasi pola boros BI. Setiap 1 miliar dollar AS yang dihabiskan untuk intervensi langsung hanya mampu menguatkan rupiah maksimal 0,5 persen dan efeknya lenyap dalam 1-2 hari,” kata Achmad saat dihubungi dari Jakarta, Minggu (30/3/2025).
Setiap 1 miliar dollar AS yang dihabiskan untuk intervensi langsung hanya mampu menguatkan rupiah maksimal 0,5 persen dan efeknya lenyap dalam 1-2 hari.
Sejak Januari 2025, BI telah menghabiskan 4,5 miliar dollar AS atau 3 persen dari total cadangan devisa. Ini tampak dari penurunan akumulasi cadangan devisa per Februari 2025 yang turun menjadi 154,5 miliar dollar AS dari 156,1 miliar dollar AS pada Januari 2025. Ditambah pula biaya intervensi 1,6 miliar dollar AS-3 miliar dollar AS pada Maret 2025.
Senior Economist PT Samuel Sekuritas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi untuk konteks pelemahan rupiah pada 2024 memberikan penjelasan. Berdasarkan simulasi, intervensi 500 juta dollar AS dapat membawa rupiah menguat dari Rp 16.200 ke level Rp 16.000 per dollar AS. Intervensi Rp 1 miliar dollar AS mengembalikan rupiah ke level Rp 15.900 per dollar AS (Kompas.id, 17/4/2025).
Dengan total SRBI yang diterbitkan selama Januari-Maret 2025 senilai Rp 150 triliun, BI harus membayar bunga sekitar Rp 10,9 triliun per tahun.
Di sisi lain, instrumen pendalaman pasar, seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), justru semakin membebani BI serta memaksa imbal hasil SBN tetap kompetitif. Kedua instrumen itu dianggap sebagai alternatif menahan aliran modal keluar dari Surat Berharga Negara (SBN).
Sebagai gambaran, suku bunga SRBI pada triwulan I-2025 sebesar 7,25 persen atau 1,5 persen lebih tinggi daripada SBN sebesar 5,75 persen. Dengan total SRBI yang diterbitkan selama Januari-Maret 2025 senilai Rp 150 triliun, BI harus membayar bunga sekitar Rp 10,9 triliun per tahun.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/05/26/f5a6d4b4-e7f3-4d81-813b-dae5e85a4fb0.jpg)
Dengan selisih bunga tersebut, Kementerian Keuangan pun meningkatkan target bunga SBN pada Maret 2025, dari 5,75 persen menjadi 6,25 persen. Ini akan menambah beban pembayaran utang pemerintah sebesar Rp 15 triliun per tahun.
Secara keseluruhan, total biaya stabilisasi rupiah oleh BI pada triwulan I-2025 mencapai sekitar Rp 40,6 triliun, terdiri dari Rp 10,9 triliun untuk pembayaran bunga SRBI dan Rp 29,8 triliun untuk intervensi langsung di pasar. Namun, nilai tukar rupiah masih cenderung berada dalam tekanan.
”Prospek ke depan, rupiah akan melemah sehingga sehabis liburan biaya intervensi akan semakin lebih besar,” ujar Achmad.
Alih-alih terus menggelontorkan dana dengan beban yang besar, Achmad menyarankan BI mewajibkan korporasi yang memiliki utang di atas 5 juta dollar AS untuk melakukan lindung nilai hingga 70 persen. Pada 2025, hanya 30 persen korporasi Indonesia yang melakukan lindung nilai.
Kemudian, kebijakan aturan repatriasi atas pendapatan ekspor dalam kurun tertentu juga akan menambah pasokan dollar AS di pasar domestik secara alami. Dengan demikian, langlah ini mengurangi kebutuhan intervensi fisik.
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra