Berlatih di daerah dan berangkat dengan biaya sendiri ke Kejuaraan Dunia Remaja dan Yunior 2025, Luluk Diana sukses meraih medali emas. Impiannya lolos ke LA 2028.
08 Mei 2025 16:25 WIB · Olahraga
Senyum merekah di wajah Luluk Diana Tri Wijayana setelah berhasil mengangkat barbel seberat 81 kilogram di Kejuaraan Dunia Remaja dan Yunior 2025 di Lima, Peru, Jumat (2/5/2025). Angkatan snatch (mengangkat beban tanpa jeda dari lantai hingga di atas kepala) itu lebih berat dari percobaan pertamanya seberat 78 kilogram. Itu sekaligus jadi angkatan terbaik Luluk setelah kesempatan terakhir gagal mengangkat 84 kg.
Tidak ada yang berhasil menyamai jumlah angkatan 81 kg Luluk. Dengan angkatan itu pula Luluk berhasil memastikan medali emas snatch kelas 49 kilogram yunior putri. Pada ajang Kejuaraan Dunia, masing-masing tersedia tiga medali untuk tiga jenis angkatan, yakni snatch, clean and jerk, dan total angkatan.
”Alhamdulillah dengan hasil di Peru walaupun di hati itu ada rasa bersalah, kecewa besar karena di clean and jerk tidak berhasil. Seharusnya bisa memberikan yang terbaik, tetapi mungkin Allah belum ngasih, ngasih-nya satu medali,” ucap Luluk, yang sudah pulang dari Peru, saat dihubungi, Kamis (8/5/2025).
Pada jenis angkatan clean and jerk, Luluk memang gagal mengangkat barbel 100 kilogram pada tiga kesempatan sehingga gagal menjaga peluang tambahan medali. Alhasil, tertutup pula kesempatan lifter asal Pacitan, Jawa Timur, ini meraih medali pada total angkatan yang harus terdiri dari angkatan snatch dan clean and jerk.
Padahal, kata Luluk, angkatan 100 kg adalah ”makanan” sehari-harinya saat latihan. Bahkan, sebenarnya dalam latihan, Luluk sudah bisa mencapai angkatan clean and jerk seberat 105 kg.
Namun, di Peru, pengalaman mengangkat beban 100 kg itu seperti buyar begitu saja. Tiga kesempatan mengangkat, tiga kali pula Luluk merasa bingung. ”Jujur, aku merasa grogi, karena ini pertama kalinya aku tampil di Kejuaraan Dunia lagi setelah sekian lama. Kalau di nasional atau Asia Tenggara, aku terbiasa angkatannya di atas yang lain. Ini, kan, berbeda,” ujar Luluk.
”Di Kejuaraan Dunia, persaingan lebih ketat. Angkatannya mirip-mirip. Jadi, evaluasinya memang lebih ke diri sendiri,” tuturnya.
Luluk terakhir kali tampil di Kejuaraan Dunia pada 2022. Tiga tahun lalu, dia berhasil keluar sebagai juara dunia setelah merebut emas 49 kg putri Kejuaraan Dunia Remaja 2022 di Leon, Guanajuato, Meksiko. Waktu itu, dia mencatat snatch 75 kg, clean and jerk 95 kg, dan total angkatan 170 kg.
Namun, setelah itu, Luluk absen pada ajang-ajang level dunia, termasuk pada kategori yunior. Dia baru kembali bersaing di kancah internasional saat meraih perunggu SEA Games Kamboja 2023 dan emas Piala Qatar Kejuaraan Arab 2024.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/07/448e35b61f1375cbbb48ab4b175c8ec3-IMG_1701.jpeg)
Maka, wajar Luluk ”kaget” dengan persaingan di level dunia. Padahal, targetnya adalah bisa menyelesaikan semua jenis angkatan pada enam kesempatan. Lifter berusia 19 tahun ini ingin melampaui rekor latihan sendiri, yang berpeluang untuk raihan medali.
Walakin, medali emas Luluk menjadi ”penyelamat” wajah Indonesia di level yunior. Indonesia mengirim lima atlet yunior untuk berlaga di Peru. Empat atlet lainnya tidak berhasil meraih medali, bahkan sebagian besar menempati peringkat di luar 10 besar dalam tiga jenis angkatan.
Selain Luluk, hanya Sarah yang mampu menembus lima besar peringkat. Sarah menempati posisi kelima pada angkatan snatch 90 kilogram saat turun di kelas 59 kilogram putri.
Prestasi di Peru juga seolah membayar perjuangan Luluk yang berangkat secara mandiri. Luluk bukan atlet pemusatan latihan nasional. Dia dibina sejak kecil di daerah, Jawa Timur, oleh pelatihnya, Samsuri.
Untuk berangkat ke Peru, Luluk turut mengeluarkan uang pribadi. Katanya, dia menggunakan bonus hasil meraih medali emas dalam debutnya di PON Aceh-Sumut 2024. Selain itu, dia mendapatkan bantuan dari KONI Pacitan dan KONI Jawa Timur.
Lantaran keterbatasan dana, Luluk pun harus mengatur perjalanan seefektif mungkin. Dia berangkat dari Pacitan ke Jakarta menggunakan bus pada Sabtu (26/4/2025) sore, lalu tiba pada Minggu pagi.
Setelah itu, Luluk yang hanya didampingi Samsuri menempuh perjalanan lebih dari 30 jam menuju Lima, Peru, pada Senin pagi. Dalam perjalanan itu, Luluk sempat transit di Doha, Qatar, dan Madrid, Spanyol. Layanan publik di Spanyol sempat terhenti karena listrik padam pada Senin petang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/06/14/54041d6a-4d12-4391-8017-a07c202da28d.jpeg)
Beruntung, Luluk dan Samsuri tidak terdampak. Mereka sampai di Lima pada Selasa petang. Praktis, Luluk hanya punya waktu istirahat sehari sebelum Rabu mulai menjalani sesi latihan dan Kamis sudah berlaga.
Adapun para atlet pelatnas sudah berangkat sejak Sabtu agar bisa punya waktu istirahat lebih lama. Namun, bagi Luluk, ini berarti harus menambah pengeluaran lagi untuk penginapan.
”Mimpiku tampil di Olimpiade, semoga bisa di Los Angeles 2028. Makanya, ingin banyak ikut tanding internasional. Apalagi untuk ikut Olimpiade, biasanya ada turnamen kualifikasi buat dapat tiket,” tutur Luluk yang mengidolakan Sri Wahyuni Agustiani, peraih medali perak Olimpiade Rio de Janeiro 2016.
Luluk sebenarnya bukan tidak pernah dipanggil ke pelatnas. Apalagi, prestasinya di level nasional memang menarik perhatian. Namanya mulai menjadi sorotan saat meraih tiga emas dari angkatan snatch, clean and jerk, dan total angkatan kelas 45 kg pada Pekan Olahraga Provinsi Jawa Timur VI 2019.
Selanjutnya, Luluk menempati peringkat keenam kelas 49 kg pada Piala Dunia Angkat Besi Remaja 2020. Dua tahun kemudian, dia menjadi juara dunia remaja. Luluk pun beberapa kali diminta masuk ke pelatnas. Namun, Luluk juga sempat mengutarakan pertimbangannya jika masuk ke pelatnas.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/10/25/d9c840c1-4545-4fb1-a84c-78858424d48d.jpg)
Kepada Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia Djoko Pramono, Luluk mengaku sempat mengatakan bersedia ke pelatnas asalkan bisa bersama pelatihnya, Samsuri. Alasannya sederhana, karena Samsuri telah melatih dan membimbingnya sejak kecil sehingga tahu bagaimana menanganinya dalam latihan.
Di samping itu, Luluk tidak perlu lagi beradaptasi atau susah payah menumbuhkan kepercayaan ke pelatih baru yang belum tentu cocok dengannya. ”Bukan saya melihat pelatnas itu tidak baik atau seperti apa, hanya menurut saya mungkin tidak semua orang cocok dengan sistem seperti itu. Dengan ada pelatih yang kita percaya, ketika misal ada sesuatu hal terjadi seperti cedera, ada yang mengusahakan untuk mencari jalan keluar,” ujarnya.
”Yang utama, saya juga tidak mau jadi kacang yang lupa kulitnya,” lanjut Luluk soal mengapa tetap menjaga komitmennya untuk berlatih bersama Samsuri.
Sementara itu, Samsuri mengatakan, Peru sebenarnya merupakan kesempatan terakhir yang wajib diambil Luluk untuk bisa unjuk gigi di level senior. Luluk, kelahiran 9 Agustus 2005, saat ini berada di pengujung usia 19 tahun sehingga tidak lagi bisa bersaing di level yunior pada ajang tahun depan. Federasi Angkat Besi Internasional (IWF) memberikan batas usia untuk level yunior untuk atlet berusia 15-20 tahun.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/10/25/a54868f9-ec4d-4ff1-a2ef-dc1758ffad02.jpg)
Sebenarnya, setelah juara dunia level remaja, Luluk sudah bisa diikutkan ke Kejuaraan Dunia Yunior. Namun, Luluk absen dalam dua edisi sebelumnya karena ada beberapa kendala untuk bisa berangkat. Meski demikian, Samsuri bersyukur Luluk bisa mempertahankan prestasinya di level dunia pada tahun terakhirnya di level yunior.
Menurut Samsuri, perkembangan atlet tidak hanya sekadar aspek teknis berupa jumlah angkatan yang meningkat. Aspek mental atau psikis juga jadi pertimbangan. Terlebih lifter muda seperti Luluk.
”Kalau kami masih bisa meminta, bolehlah dibina di tingkat klub, di level daerah, tetapi diawasi oleh pusat. Jadi semacam pelatnas desentralisasi dan kami bisa ditarget. Misalnya enam bulan ke depan tidak ada progres, ya coret saja, tidak apa-apa gitu,” ucap Samsuri.
”Itu kalau mau dibina secara nasional. Kalau tidak, kami kasih saja kesempatan seleksi jika mau ikut single event atau multi event. Kami ikut seperti apa dan mekanisme di nasional,” tutur pelatih klub Bina Satria di Pacitan ini.
Dari Pacitan ke Peru, Luluk kembali menebar pesonanya sebagai lifter muda yang jadi harapan baru atlet angkat besi putri Indonesia. Di nasional ataupun daerah, yang dibutuhkan Luluk hanya dukungan dan kesempatan. Semua demi mimpinya menembus Olimpiade LA 2028.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar