Timnas yang kuat selalu dibentuk dari kompetisi yang sehat. Liga Kompas U-14 turut andil membantu PSSI membentuk calon-calon pemain timnas Indonesia masa depan.
15 Des 2024 15:23 WIB · Olahraga
Tidak ada negara raksasa sepak bola dunia yang memunggungi pembinaan usia dini. Bagi mereka, peta jalan membangun timnas sepak bola yang tangguh selalu dimulai dari pembinaan pemain di level akar rumput. Liga Kompas U-14 Powered by BRI memulai musim ke-14 menggulirkan liga yang nantinya menghasilkan calon-calon pemain timnas Indonesia di masa depan.
”Untuk pemain di sini, yang ingin menjadi pemain timnas coba angkat tangan!” seru Ketua Umum PSSI Erick Thohir di hadapan puluhan pesepak bola muda dari 16 sekolah sepak bola (SSB) saat membuka Liga Kompas U-14 di Stadion Kera Sakti, Tangerang Selatan, Banten, Minggu (15/12/2024).
Perkataan Erick disambut dengan acungan jari dari seluruh pesepak bola remaja tersebut. Mimpi dari setiap pesepak bola Tanah Air adalah membela Indonesia. Melalui Liga Kompas, para pesepak bola belia itu mulai meniti mimpi.
Sudah tidak terhitung berapa banyak alumnus Liga Kompas yang menjadi pesepak bola profesional dan membela timnas Indonesia seperti Egy Maulana Vikri, Sutan Zico, Mochammad Supriadi, dan Dony Tri Pamungkas. Dari berkompetisi di Liga Kompas, bakat-bakat pesepak bola itu kemudian terpantau oleh PSSI.
Erick mengatakan, kompetisi sepak bola dari berbagai macam kelompok usia berperan besar pada pembentukan timnas yang kuat. Ia pun mengapresiasi hadirnya liga-liga usia dini yang sejalan dengan program kerja PSSI.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/15/6b69e414-8255-467e-9861-b2f52a056297_jpg.jpg)
”Kesinambungan ini penting karena kita tidak mungkin hanya membangun timnas senior saja. Tetapi, bagaimana di bawahnya U-17, U-20, dan akar rumput ini terus dikembangkan,” ucap Erick.
Dari segi infrastruktur lapangan, Liga Kompas menyediakan lapangan bertanding yang sesuai dengan standar nasional. Dengan bertanding di lapangan yang layak, para pemain bisa nyaman bertanding tanpa khawatir menderita cedera karena lapangan yang buruk.
Segala macam fasilitas itu yang membuat Liga Kompas sangat dinanti-nanti oleh SSB. Pelatih One Way Soccer School Wahyu TB mengatakan, timnya beruntung bisa berkompetisi di Liga Kompas musim ini.
Dari fasilitas yang memadai, para pemain juga dipastikan mendapat tambahan menit bermain yang banyak karena setiap tim akan bertemu masing-masing satu kali selama musim kompetisi.
”Liga Kompas dari tahun ke tahun selalu ketat dan kompetitif. Tidak ada yang namanya enggak kompetitif. Kompas pun betul-betul konsisten. Makanya, kami untung sekali bisa ikut di sini,” ujar Wahyu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/15/ed1771c0-58f7-42bc-8924-d41e7d687100_jpg.jpg)
Daya tarik lain dari Liga Kompas adalah adanya psikolog setiap hari pertandingan yang bertugas memantau kondisi mental para pemain. Sebagaimana olahraga lainnya, sepak bola juga memiliki dimensi yang sangat luas. Selain aspek teknik, para pemain muda juga perlu dibimbing dari sisi psikologis.
Kehadiran psikolog turut membantu Liga Kompas mencapai misinya, yaitu mendidik manusia melalui sepak bola. Dalam tujuan ini, para pemain dituntun untuk meningkatkan soft skill, seperti menghargai lawan, sportivitas, mental pantang menyerah, dan bersikap santun.
Atas alasan itulah, aturan-aturan khas LKG, seperti kewajiban memainkan semua pemain, pertimbangan kelolosan berdasarkan poin fair play, dan pengurangan poin jika terdapat elemen tim yang membuat kekacauan, tetap dipertahankan.
Erick sepakat bahwa menang dan kalah bukanlah tujuan akhir pada pertandingan sepak bola usia dini. Baginya, semangat fair play jauh lebih penting daripada meraih kemenangan tetapi dengan cara yang tidak terpuji. Untuk itulah, Erick berkali-kali menekankan para pemain belia di Liga Kompas agar menjunjung tinggi sportivitas dengan selalu menghargai lawan.
”Nah, ini yang saya harap dari bawah itu, kita harus bina mentalitas bahwa persaingan itu ada. Tapi, mencederai sesama pemain itu adalah sebuah perbuatan yang tidak terhormat karena semua pemain ingin berkarier,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/15/aa2fa36f-2a8c-4089-af7b-50d258fb17d6_jpg.jpg)
Dalam upacara pembukaan Liga Kompas, Erick tidak lupa mengajak para pesepak bola belia itu untuk bersama-sama menyanyikan lagu ”Indonesia Raya” dengan kencang dan lantang.
Ketika disinggung mengenai instruksi tersebut, Erick dengan tenang menjawab, ”Tadi semuanya bilang ingin jadi pemain timnas. Kalau memang ingin jadi pemain timnas, harus punya jiwa kebangsaan,” katanya sambil tersenyum.
Penulis:
i gusti agung bagus angga putraEditor:
Prasetyo Eko Prihananto