Lima Hari Diterjang Bencana, Warga Sumut  Berjalan Enam Jam Mencari Makanan

Puluhan warga dari sejumlah desa terisolasi di Tapanuli Utara dan Tapanuli Selatan berjalan kaki selama enam jam mencari makanan. Mereka kehabisan stok pangan.

29 Nov 2025 20:29 WIB · Lingkungan

KOMPAS/NIKSON SINAGA

Oleh Nikson Sinaga

TARUTUNG, KOMPAS — Stok bahan pokok masyarakat di daerah terdampak bencana banjir bandang dan longsor di sejumlah desa di kawasan Tapanuli, Sumatera Utara, mulai habis. Sudah lima hari akses jalan ke kawasan itu putus total tertimbun material longsor di sepanjang puluhan kilometer. Warga mulai keluar dari desa terisolasi mencari bahan makanan.

Puluhan warga dari sejumlah desa terisolasi di perbatasan Tapanuli Utara dan Tapanuli Selatan mulai keluar berjalan kaki dari desa mereka, Sabtu (29/11/2025). Mereka berjalan kaki 20-30 kilometer ke desa-desa terdekat di Kecamatan Adiankoting, Tapanuli Utara.

Ropince Hutapea (55), warga Desa Pagaran Lambung II, misalnya, dalam beberapa hari ini mengaku hanya memakan ubi dicampur garam. Mereka memasak menggunakan kayu bakar karena stok elpiji di desa itu juga sudah habis. Dia mengklaim belum ada bantuan yang dipasok ke desanya.

Akibatnya, Ropince bersama puluhan warga dari beberapa desa di kawasan itu memutuskan berjalan kaki keluar dari desa mereka. Mereka berjalan sekitar tiga jam hingga sampai ke desa terdekat, Pagaran Pisang.

Petugas berupaya membuka Jalan Tarutung-Sibolga yang masih tertimbun longsor dan terputus di beberapa tempat di sepanjang Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, hingga Kota Sibolga, Sabtu (29/11/2025)

Dalam perjalanan panjang itu, Ropince menenteng sandal jepit sambil menjunjung kardus berisi mi instan dan menjinjing jeriken berisi minyak tanah. ”Hanya ini yang bisa kami dapat karena pasokan desa lain juga mulai habis. Kami mau beli beras, tapi di desa itu juga tidak ada beras untuk dijual,” kata Ropince.

Ropince berangkat dari desanya pada Sabtu sekitar pukul 09.00 WIB. Dia tiba di Desa Pagaran Pisang pukul 12.00 WIB. Mereka mencari bahan pokok dari satu warung ke warung lain, tetapi pasokannya sangat terbatas. Desa-desa tetangganya juga dilanda bencana, tetapi sudah bisa diakses kendaraan dalam dua hari ini.

Ropince awalnya ingin membeli stok makanan untuk suami dan lima anaknya. Sejak banjir bandang dan longsor melanda desa mereka pada Selasa (25/11/2025) malam, mereka hanya makan seadanya, ubi tanpa lauk-pauk.

Dalam perjalanan, Ropince dan warga lain berjalan melewati jalan yang tertimbun lumpur dan batang pohon yang menumpuk hingga setinggi tiga meter. Beberapa warga terjebak di lumpur yang dalam.

Mereka saling menolong agar bisa melewati akses jalan yang sulit. Di beberapa titik, lumpur menumpuk di sepanjang ratusan meter.

Petugas mengevakuasi korban meninggal dalam bencana longsor dan banjir bandang di Desa Sibalanga, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumut, Sabtu (29/11/2025). Petugas sudah berhasil mengevakuasi 13 korban meninggal dari desa itu. Tujuh warga masih hilang di desa itu.

Lien Tampubolon (60), warga Desa Pagaran Lambung II, juga sudah kehabisan makanan. Dia juga terpaksa keluar dari desanya untuk mencari makanan dan bahan pokok lainnya.

”Beras kami sudah habis total. Beras di warung juga tidak ada lagi. Kami memotong ubi kecil-kecil, mencampur dengan garam, lalu digoreng agar cukup untuk semua anggota keluarga,” kata Lien.

Setiap hari mereka memanen ubi yang tersisa di ladang. Namun, stok ubi di desa itu juga sudah menipis. Mereka juga tidak punya minyak goreng lagi.

Akibatnya, mereka keluar dari desa untuk mencari beras dan minyak goreng. Namun, Lien tetap saja tidak mendapatkan beras di desa terdekat setelah berjalan lebih dari tiga jam.

Dia hanya bisa membeli 20 bungkus mi instan untuk stok pangan keluarganya. Dia juga membeli minyak tanah. Namun, pembelian minyak tanah juga dibatasi. Satu keluarga hanya diberikan satu per tiga liter agar bisa berbagi dengan warga lain.

”Tapi, kami sangat bersyukur karena tidak ada pemilik warung yang menaikkan harga satu rupiah pun meskipun berebut membeli bahan pokok,” kata Lien.

Lien menuturkan, mereka terpaksa membeli minyak tanah agar ada pelita di rumahnya. Mereka membuat pelita dari botol kaca dan sumbu kain. Warga juga memasak menggunakan kayu bakar. Listrik di desa itu mati total.

Sejak bencana longsor dan banjir bandang melanda, ekonomi desa-desa di kawasan Tapanuli juga lumpuh total. Lien menambahkan, warga di daerah itu merupakan petani karet. Tanaman karet mereka sebagian rusak dihantam banjir bandang dan longsor.

Desa-desa di Tapanuli Utara hanya sebagian kecil dari banyak desa yang sudah terisolasi selama lima hari sejak bencana banjir bandang dan longsor melanda Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga. Akses ke kawasan itu putus total karena Jalan Tarutung-Sibolga tertimbun longsor.

Warga desa korban bencana berjalan kaki pergi pulang enam jam untuk membeli bahan pokok mi instan dan minyak tanah, di Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumut, Sabtu (29/11/2025). Sudah lima hari desa mereka terisolasi akibat jalan putus pasca banjir bandang dan longsor. Mereka kehabisan beras dan pangan lainnya.

Pantauan Kompas, akses Jalan Tarutung-Sibolga masih terputus mulai dari Kilometer 38. Dalam lima hari ini, petugas gabungan telah mengerahkan sejumlah alat berat dan berhasil membuka sekitar 30 titik longsor mulai dari Km 14 hingga Km 38.

Longsor di Km 38 menjadi salah satu yang terparah. Badan jalan sepanjang sekitar 300 meter tertimbun lumpur dan batang kayu hingga setinggi empat meter. Petugas baru bisa membersihkan material di sepanjang 50 meter.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengatakan, pemerintah memprioritaskan tiga hal, yakni operasi pencarian dan penyelamatan korban hilang, pemulihan akses komunikasi, dan pendistribusian logistik kepada warga terdampak.

”Pendistribusian logistik juga akan dipercepat ke wilayah yang masih terisolasi seperti di Tapanuli Tengah dan Sibolga. Helikopter MI-17 dan dua helikopter lainnya disiagakan untuk mendistribusikan bantuan logistik peralatan dan permakanan di tempat-tempat terpencil,” kata Suharyanto.

Percepatan pendistribusian bantuan logistik ke Sibolga dan Tapanuli Tengah juga akan dilakukan melalui jalur laut ke Pelabuhan Jago-Jago, Tapanuli Tengah, dengan mengerahkan kapal TNI Angkatan Laut. BNPB juga akan mendistribusikan internet satelit ke kabupaten/kota yang masih putus komunikasi.  

Kepala Kepolisian Resor Tapanuli Utara Ajun Komisaris Besar Ernis Sitinjak mengatakan, petugas gabungan berupaya membuka jalan hingga ke Kota Sibolga di Km 62. Diperkirakan masih ada lebih dari 50 lokasi longsor di sepanjang 24 km jalan. Pembersihan juga hanya bisa dilakukan dari sisi Tapanuli Utara.

Tapanuli Tengah dan Sibolga hingga saat ini masih lumpuh. Layanan listrik dan komunikasi ke daerah itu juga terputus. Radio dua arah juga tidak bisa digunakan karena baterai sudah habis dan tidak bisa diisi dayanya.

”Prioritas penanggulangan bencana saat ini adalah membuka akses jalan ke Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Sibolga,” kata Ernis.

Menurut Ernis, petugas gabungan tidak bisa memasok bahan pokok ke daerah-daerah terisolasi karena belum bisa diakses. Tim gabungan langsung memasok bahan pokok ke beberapa desa yang sudah bisa diakses.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nikson Sinaga
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto