Lima Orang Tewas dan Tujuh Hilang pada Bencana di Sukabumi, Gibran Pun ke Lokasi

Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka mengunjungi lokasi bencana hidrometeorologi dan menjumpai warga yang terdampak.

06 Des 2024 13:19 WIB · Lingkungan

Oleh Dionisius Triwibowo

SUKABUMI, KOMPAS — Setidaknya lima orang tewas dan tujuh orang lainnya hilang dalam bencana hidrometeorologi di Kabupaten Sukabumi dan Cianjur, Jawa Barat. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meminta semua petugas dari instansi terkait untuk bertindak cepat dan tepat sasaran.

Hal itu disampaikan Gibran dalam kunjungannya ke lokasi bencana pada Jumat (6/12/2024). Ia memberikan bantuan kepada korban banjir di sejumlah lokasi, salah satunya di Kampung Cihonje, Desa Sukamaju, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi. Dalam kunjungan itu, Gibran didampingi Penjabat Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto.

Gibran meminta semua pihak untuk memastikan pelaksanaan status tanggap darurat bencana bisa berjalan cepat, terkoordinasi, dan tepat sasaran. Ia minta agar penanganan pengungsi menjadi prioritas, seperti penyediaan kebutuhan dasar, mulai dari makanan, air bersih, obat-obatan, hingga tempat tinggal sementara.

”BNPB dan instansi terkait lainnya perlu mempercepat pemetaan daerah rawan bencana dan mengevakuasi warga yang masih dalam zona bahaya,” kata Gibran.

20241206_Kunjungan_Gibran2

Gibran juga meminta semua akses jalan dan fasilitas umum lain yang terdampak banjir bisa segera diperbaiki untuk memudahkan mobilisasi warga dan bantuan. ”Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana susulan mengingat curah hujan diperkirakan masih tinggi dalam beberapa hari ke depan,” ungkapnya.

Data yang dihimpun Kompas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi hingga Kamis (5/12/2024) menunjukkan, bencana hidrometeorologi terjadi di 86 desa yang tersebar di 34 kecamatan. Bencana yang terjadi antara lain banjir, longsor, angin kencang, dan pergerakan tanah.

Banjir, longsor, dan pergerakan tanah dipicu hujan yang mengguyur wilayah Kabupaten Sukabumi selama dua hari terakhir. Ketinggian air berkisar 1 meter hingga 2 meter. Dari video yang beredar di sejumlah akun media sosial, kuatnya arus air menyeret enam mobil hingga terbalik di Kampung Parungseah, Desa Curug Luhur, Kecamatan Sagaranten.

Penjabat Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin meninjau salah satu lokasi ruas jalan yang terdampak longsor di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (5/12/2024). Total sebanyak 34 kecamatan yang terdampak bencana alam.

”Total terdapat 133 titik bencana di 34 kecamatan. Ratusan titik ini meliputi 66 titik longsor, 35 titik banjir, 15 titik angin kencang, dan 17 titik bencana pergerakan tanah,” kata Bambang Imanuddin, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Jawa Barat, di Sukabumi.

Bambang menuturkan, warga yang terdampak 461 jiwa. Sejumlah 247 warga di antaranya mengungsi ke tempat yang aman. Sementara itu, 112 rumah rusak dan 457 rumah terendam banjir (Kompas, 5 Desember 2024).

Jumlah korban meninggal pun kini bertambah. Kepala BNPB Suharyanto mencatat, setidaknya terdapat lima orang meninggal akibat bencana hidrometeorologi ini, dan tujuh orang lainnya dinyatakan hilang. Pihaknya masih mendata rumah-rumah yang hilang dan yang rusak.

”Ada puluhan rumah rusak berat dan enggak mungkin lagi tinggal di situ, harus direlokasi. Ada puluhan yang rusak sedang dan ratusan yang rusak ringan,” tutur Suharyanto.

Di lokasi kunjungan itu, lanjut Suharyanto, setidaknya terdapat 300 orang yang mengungsi. Jumlah itu akan terus bertambah mengingat curah hujan yang belum membaik.

Bantuan pun terus disalurkan, tak hanya berupa kebutuhan pokok makanan, tetapi juga kesehatan. Ia berkoordinasi dengan Kementerian Sosial untuk membuat dapur umum di beberapa tempat untuk memastikan kebutuhan logistik tersebut.

”Tambahan informasi dari BMKG, cuaca hujan dengan intensitas tinggi masih akan terjadi. Hal ini terjadi merata di beberapa wilayah di Jawa. Untuk itu, kami akan melakukan modifikasi cuaca,” kata Suharyanto.

Suharyanto menambahkan, modifikasi cuaca tidak akan menghentikan hujan. Akan tetapi, pihaknya berupaya, dengan metode itu, awan-awan pembawa hujan bisa mengurangi debit air yang dibawanya sehingga tidak menimbulkan bencana yang berlebihan.

”Nah, kami pastikan dari hari ke hari, hari ini, besok, dan selanjutnya, kondisinya semakin baik dan nanti pada satu titik itu akan kembali seperti kehidupan seperti semula,” ujar Suharyanto.

20241206_Kunjungan_Gibran1

Tanah bergerak

Tak hanya banjir, bencana hidrometeorologi juga menyebabkan tanah bergerak. Hal itu disampaikan Wawan, Ketua RT 001 Kampung Cihonje. Saat kunjungan Gibran, ia menceritakan kronologi bencana yang dialaminya dan warganya.

Menurut Wawan, pergerakan tanah semula hanya sejauh 3 sentimeter. Namun, dalam waktu kurang dari 12 jam, pergerakan terus menjauh hingga lebih dari 1 meter, dan saat ini masih terus bergerak. ”Pertama, ada suara gemuruh, gemuruh di bawah, getaran ada,” ungkapnya.

Ratusan orang mengungsi ke tempat yang sudah disediakan pemerintah akibat bencana itu, termasuk Wawan. Ia berharap pemerintah bisa terus mendampingi dan memenuhi kebutuhan hidup warga kampung, terutama yang mengungsi.

”Kami juga butuh bantuan, terutama untuk rumah-rumah yang rusak agar bisa dibangun kembali. Tolong bantuannya, pertama dari pemerintah kabupaten, dan wali kotanya. Yang kedua, dari gubernurnya, yang terakhir, dari pemerintahan pusat,” kata Wawan.

Saat ini, lanjut Wawan, warga Kampung Cihonje yang terdampak bencana mengharapkan bantuan dari pemerintah, khususnya untuk membangun kembali rumah-rumah yang rusak.


Kerabat Kerja

Penulis:

Dionisius Triwibowo
 | 

Editor:

Irma Tambunan